Selasa, 13 September 2011

Ingin Cantik? Bukan Putih Tapi Sehat

Diah (21), mahasiswi angkatan 2007 yang baru lulus tahun ini dari Ilmu Farmasi UI merupakan salah satu korban kosmetik yang mengandung bahan berbahaya, yaitu hidrokinon. Awalnya, ia perawatan selama satu tahun, Juli 2010-Juni 2011 di perawatan kecantikan seperti salon yang terkenal di dalam Margo City Depok (Natasya-red). Setelah setahun, sebenarnya wajahnya baik-baiknya, tampak bersih. "Awalnya udah bersih sih tinggal bekasnya doang. Sama kusam aja," ujarnya kepada Ageng Wuri R. A. dari GATRA, Rabu (10/08) di RSIA Restu Kramatjati Jakarta Timur. Namun, semenjak setahun itu, ia ragu dan tahu bahwa dokter yang dimiliki perawatan tersebut bukan spesialis kulit.

Kemudian ia ragu, dan segera pindah ke dokter spesialis kulit di RSCM. Di sana, ia menceritakan seputar perawatannya terdahulu. Karena, harus kontrol ke RSCM yang berjarak jauh dari kos-kosannya, maka ia pindah lagi ke dokter kulit yang ada di dekat Detos Depok (IB Skin). Di sana, ia ditangani oleh dokter yang rekam medisnya di RSCM. Ia lupa untuk memberi tahu dokter itu bahwa pernah perawatan di Depok. Saat itu, munculah jerawat banyak dan ia mengira dari dokter tersebut. "Karena aku udah dua bulan berhenti kan nggak papa. Pas perawatan ke dokter ada zat-zat yang mengendap yang sisa-sisa masih ada," ungkapnya.

Dengan kekecewaan yang masih membekas, ia pun pindah lagi ke dr. Dewi Inong Irana, SpKK yang berpraktik di RSIA Restu Kramatjati. Ia cerita lagi pengalaman perawatannya terdahulu. Pada dr. Inong, ia mendapat pencerahan dan klarifikasi. Bahwa jerawatnya yang timbul itu bukan akibat dari kontrolnya ke dokter kulit yang ada di dekat Detos. Karena dr. Inong percaya dan dokter tersebut masih adik kelasnya di FK UI. "Pas aku perawatan dari RSCM ke IB skin kira-kira 1 bulan setengah muncul. Ditambah stres karena skripsi. Ke sini kayak udah lumayan mendingan," tuturnya.

dr. Inong menjelaskan kepadanya bahwa penyebab jerawatnya itu adalah karena perawatannya yang selama setahun itu yang mengandung hidrokinon. "Tapi yang di Natasya, karena di sana kan denger-denger mengandung hidrokinon," ujarnya. Di RSCM, ia diberi obat generik dan kata dokter tidak menyebabkan jerawat.  

Atas pengalamannya itu, ia memberikan saran kepada masyarakat dan khususnya perempuan agar hati-hati memilih kosmetik. "Jangan asal jadi kinclong tapi nggak mikir efek sampingnya gimana. Pintar-pintar milih deh," terangnya. Jika ingin perawatan  paling tidak kita berkunjung ke dokter kulit profesional yang ahli dan memiliki produk sesuai standar kesehatan kecantikan. "Juga dilihat  pasien-pasiennya gimana," lanjutnya.

Sementara itu, dr. Dewi Inong Irana, SpKK, yang ditemui di rumahnya di Pinang Ranti Mansion, Jakarta Timur., mengatakan bahwa saat ini perkembangan kosmetik Islami cukup baik. Awalnya, menurutnya kosmetik Islami dipelopori oleh WArdah. Kemudian disusul Zahra yang sedikit kurang pamor dibandingkan Wardah. "Wardah sekarang jadi naik. Karena manajemen baru. Dan ini harus lebih banyak lagi yang mengikuti," ujarnya kepada Ageng Wuri R. A. dari GATRA, Rabu (10/08).

dr. Dewi Inong Irana mengakui animo masyarakat khususnya perempuan Indonesia, cukup banyak terhadap kosmetik Islami ini. Apalagi Indonesia dengan penduduk terbesar umat Islam. Disamping itu banyak juga yang masih berpegang pada ketentuan Islam atau sesuai Syar'i. Perempuan juga harus merawat diri dan menurut dr. Inong ada di dalam Al-Qur'an dan hadist.

Menurut pengamatan dr. Dewi Inong Irana,  kosmetik Islmai Indonesia dimulai dengan wardah, ia memperkirakan sama seperti munculnya salon-salon muslimah sekitar 15 tahun yang lalu. Kemudian pada saat ini yang sudah mendapat sertifikasi halal di Indonesia adalah Wardah, Zahra dan yang terbaru bermerek Ristra. Tetapi sebagian besar ada yang belum mendapatkan proses sertifikasi.  Ia mengatakan bahwasanya proses sertifikasi tidak rumit. Karena tinggal mengikuti aturan-aturannya saja.

Walaupun perkembangan kosmetik Islami sudah cukup baik,  ternyata masih banyak juga terjadi penyimpangan. Hal itu dirasakan oleh dr. Dewi Inong Irana sendiri.  Sebagai seorang dokter spesialis kulit ia menemukan banyak sekali dijual di kalangan muslimah baik itu di Salon, MLM dan ada pula yang mengklaim mengandung herbal. Saat ini ia tengah menangani korban-korban kosmetik yang menyimpang itu. Artinya mengandung bahan atau obat yang sangat berbahaya bagi tubuh.

Dari pasien-pasiennya yang menjadi korban kosmetik berbahaya itu ia mengumpulkan produk-produk yang telah dipakai. Ia teliti dan dimasukan ke dalam Laboratorium Kesehatan Pemerintah. Ternyata kosmetik tersebut banyak mengandung merkuri. Bahan berbahaya yang dapat merusak jaringan sel kulit. Selain itu  juga ada yang mengandung hidrokinon.

Menurutnya, kosmetik tujuannya adalah tidak boleh mengubah fungsi tubuh. Tidak seperti merkuri dan hidrokinon yang dapat meracuni melanin. Pembuatan melanin akan dihambat oleh kedua zat tersebut. Melanin terletak pada kulit lapisan atas yang dapat melindungi dari sinar ultraviolet. " Kalau ada panas matarhari, dia akan membuat melanin," katanya.

Unsur warna kulit manusia, dikatakan dr. Dewi Inong Irana, memiliki jumlah dan ukurannya sendiri. Tebat tipisnya kulit tergantung iklim dan pancaran sinar mataharinya. Selain itu juga hemoglobin dan karotennya. Karoten merupakan ciri khas warna kulit yang dimiliki manusia. Misalnya kulit orang Jawa berwarna kuning langsat.SEdangkan, hemoglobin ada manusia yang kulitnya kemerahan.  "Kenapa Allah SWT memberikan kulit seperti ini karena kita tinggal di Khatulistiwa. Dia membuat sesuai dengan iklimnya," ujarnya.

Jika tidak ada perlindungan dari melanin. Maka akan timbul jaringan kolagen. Kemudian sel-sel imunitas akan berubah menjadi kanker yang ganas."Kalau dia kulit putih maka tidak ada perlindungan. Makanya orang bule lebih banyak kena kanker kan," terangnya.

Dijelaskannya saat ini, sinar ultraviolet C sudah masuk ke dalam bumi karena ozon telah berlubang. Sinar ultraviolet C mengeluarkan zat yang karsogenik, yaitu yang dapat menyebabkan kanker. Oleh sebab itu, orang Indonesia banyak yang kena kanker. Karena penyebab kosmetik tadi dan juga sinar ultraviolet C.  "Kita juga butuh sinar matahari, untuk vitamin D untuk tulang," ujarnya.

Dr. Dewi Inong Irana, mengungkapkan bahwa penggunaan kosmetik yang serba instan pada masyarakat atau konsumen khususnya kaum perempuan karena mereka masih memiliki konsep cantik itu putih. Konsep tersebut adalah karena Indonesia dijajah oleh orang kulit putih selama 350 tahun. "Kulit putih derajatnya lebih tinggi, jadi yang bos itu kulit putih. Sementara orang bule ingin kayak kita," tuturnya.

Ia berpesan kepada masyarakat atau konsumen khususnya perempuan bahwa konsep cantik itu sehat bukan putih. Yaitu, Safe, Healthy, dan Beauty. Masyarakat yang memakai kosmetik, agar memikirkan keselamatan dunia dan akhirat terlebih dahulu. "Ini ada bahan berbahaya nggak. Ini halal nggak buat saya," ujarnya.

Harus hati-hati menggunakan kosmetik, itu adalah hal yang sangat penting. Karena terutama pada ibu hamil, jika memakai kosmetik yang mengandung merkuri, maka akan berefek pada pertumbuhan janin dan bayi. Jika masyarakat sudah aman dunia akhirat, pasti akan sehat. "InsyaAllah dia akan cantik, sudah yakin itu. Kalau saya pelihara kesehatan makanannya banyak sayur dan buah," terangnya.

Ditekankan olehnya, bahwa saat ini tugas media dan pelaku medis untuk mencerdaskan masyarakat atau konsumen supaya tidak salah memilih kosmetik. "Misalnya pada suatu saat orang nekat pakai merkuri seluruh badan, maka akan terjadinya penurunan generasi muda, karena kecerdasannya berkurang," tegasnya.

Sebaiknya, sarannya kepada perempuan jika ada masalah terhadap kosmetik yang halal maupun yang tidak segera ke dokter spesialis. Hal itu baik yang ada merkuri dan hidrokinon maupun yang tidak. Jika penggunaan kosmetik hala maupun yang tidak cocok-cocok saja, maka tidak perlu untuk ke dokter spesialis kulit.

Berbicara kosmetik halal di Indonesia, dr. Dewi Inong Irana menceritakan perbandingannya di luar negeri khusus Malaysia sangat jauh berkembang. Saat ia datang ke Malaysia dan mengunjungi toko-toko farmasi yang menjual bebas kosmetik seperti merek-merek Revlon, Sari Ayu dan lainnya. Sebanyak tujuh macam kosmetik ditemukan bersertifiaksi halal. "Padahal kita prosentasi muslimnya lebih banyak dari penduduk Malaysia. Kenapa baru dua yang tadi," ungkapnya.

Selain itu juga di Thailand kosmetik sebagian besar sudah bersitfikasi halal. "Cuma di Malaysia dan Thailand yang rata-rata halal. Kalau di Eropa, Amerika, yang saya tahu belum ada," ujarnya. Ia memberitahu bahwa ada kosmetik baru dari Arab yang sedang trend saat ini. Ia curiga karena cepat sekali putihnya. "Wah itu sekarang kalau orang lagi ke sana pada nitip semua," katanya. Saat ini produk tersebut belum keluar di Indonesia.

Untuk itu, ia memberikan gambaran, bahwa jika menggunak kosmetik pemutih jangan lebih putih dari kulit yang berada pada bawah lengan. Timbulnya flek dan bercak hitam, dikatakannya bisa disebabkan oleh jumlah melanin yang bertambah, distribusi yang tidak merata, melanin jatuh ke kulit tengah, kerusakan atau bocor, dan bekas peradangan atau jerawat. Oleh sebab itu, cara kerja kosmeti pemutih adalah mengubah warna kulit, mengubah jumlah melanin dan menghambat pemebentukan melanin.

Jenis kosmetik pemutih, menurutnya terdiri dari pemutih yang bersifat obat, pemutih, dan tabir surya atau sunscreen atau sunblock. Kosmetik yang bersifa obat antara lain mengandung hidrokinon, tretinon, asam azeleat, asam alfa (AHA), beta (BHA), dan poli hidroksi.Penggunaan obat tersebut harus diawasi dokter dan ada takarannya masing-masing.

Sedangkan jenis pemutih, ada whitening untuk mempengaruhi produksi mealnin. Lightening untuk mengupas kulit menjadi lebih tips sehingga lebih pucat dan meratakan pigmen melamin. Sunscreen atau sunblock berfungsi untuk melindungi kulit terhadap sinar ultraviolet. Penggunaan lightening, menurutnya relatif aman dengan takaran AHA dan BHA kurang dari 8%. Tetapi ketika menjadi pengawasan dokter jika mengandung tretinoin dan AHA lebih besar dari 8 %.

Kosmetik pemutih yang tidak bersifat obat antara lain mengandung asam kojik, arbutin, licorice, bengkoang, niasinamid, dan derivat vitamin C.  Penggunaan bahan ini lebih aman dan murah dengan hasil yang beberapa bulan.

Sedangkan whitening juga relatif aman jika mengandung bengkoan, licorice, niasinamid, vitamin C, mulberry, asam kojik, dan green tea dengan hasil yang beberapa bulan. Namun jika terdapat zat hidrokinon lebih besar dari 2% harus dengan pengawasan dokter. Penggunaan merkuri untuk whitening sangat dilarang dan tidak dianjurkan oleh dokter.

Tabir surya atau sunscreen berfungsi sebagai pemantul sinar UV, penyerap sinar UV. Biasanya mengandung Sun Protecting FActor (SPF), SPF 15 artinya terlindung selama 15 dikali 20 menit. Di Indonesia, menurutnya penggunaan SPF 15 rata-rata tahan pada pukul 09.00-16.00 WIB.Dipakai setengah jam sebelum terpajang sinar matahari. Dan ketika berkeringat ualng tiap  2 jam. Kemudian, jika berwudhu pakai ulang setelahnya.Perlindungan terhadap sinar UV, diungkapkan dr. DEwi Inong Irana bahwa ampuh dengan tabir surya atau sunscreen dan busana muslimah. Karena bahan pakaian mengandung SPF 15-50.

Gejala atau efek samping dari pemutih, ujarnya, ditandai dengan reaksi alergi, gatal, kemerahan, dan bersisik. Selain itum juga ditandai reaksi iritasi, yakni perih, nyeri, dan kemerahan, serta bersisik. Menurutnya, merkuri atau air raksa berdasarkan survey Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) bahwa 5 dari 20 produk pemutih mengandung merkuri dan sangat berbahaya. Maka flek akan menetap, sensitif terhadap matahari, pelebaran pembuluh darah, jerawat dan kanker. Merkuri juga akan merusak ginjal. Tanda sebuah kosmetik mengadnung merkuri adalah hasilnya instan. Dalam 2-4 minggu langsung kinclong. Lebih putih dari lengan dalam.

Suntik putih umumnya mengandung vitamin C dosis tinggi, dan zat tathion. DAri plasenta yang belum jelas halal dan haramnya. selain itu terdapat kolagen yaitu dari tulang rawan babi dan itu haram. Jika sudah terjadi, maka dr. Dewi Inong Irana menyarankan harus periksa ginjal dan minum air putih minimal 2 liter per 24 jam.

Memilih kosmetik, menurutnya harus diketahui terlebih dahulu jenis kulit. Jika kulit berminyak, maka yang berjenis gel, lotion dan bedak tabur. Jika senstitif harus tanpa pewarna dan pewangi (hipoalergenik), dan mengandung pH 5,5. Bahan isi kosmetik dilarang mengandung merkuri, plasenta, kolagen dari babi, dan iritan atau PABA.

Tips memilih pemutih oleh dr. Dewi Inong Irana dilihat terlebih dahulu ijin DepKes RI yang asli. Karena sekarang banyak yang memalsukan sertifikasi tersebut. Jika hasilnya instan maka berbahaya dan mengandung merkuri. Sebaiknya menguji dengan memakainya. Dengan cara megoleskan di belakang telinga, dan diamkan 24 jam. Hindari dari sinar matahari langsung pakai payung dan tabir surya serta baju muslim.

Ia menegaskan kembali jika memakai pemutih, konsumen janga beraharap terlalu berlebihan dan harus sabar. Jangan mengoles lebih tebal, lebih sering, dan lebih lama. Bila ada efek samping, hentikan dan periksa ke dokter spesialis kulit. "Ingin selamat, sehat dan cantik, anda harus pintar, cermat, dan hati-hati. Jangan tertipu," lanjutnya.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
;