Senin, 24 Januari 2011 0 komentar

Indonesia Butuh Pahlawan

Melihat Indonesia di media masa akhir-akhir ini sungguh sangat beragam rupanya. Di mulai awal tahun 2010, dengan munculnya kasus video mesum artis yang mirip dengan Vokalis Band Peterpan yang bernama Nazriel Ilham atau Ariel dengan dua artis ternama Luna Maya dan Cut Tari. Saking hebohnya berita tersebut disiarkan hingga ke berita dunia CNN dan sempat menjadi trending topic twitter. Dari kasus video Ariel, kemudian Indonesia disuguhkan dengan berita kasus Gayus Holomoan P. Tambunan yang terkenal bak selebriti karena kasus mafia pajak yang saat ini masih menjadi perbincangan di hampir seluruh media masa.

Begitu burukah negeri ini, apakah masih ada secercah harapan dan kebanggaan yang dimiliki negeri tercinta ini? Jawaban ya masih ada. Kekesalan dan kejengkelan masyarakat akan berita-berita yang memprihatinkan tersebut seketika berubah menjadi harapan dan kebanggaan baru buat bangsa ini.

Adalah kedatangan Presiden Amerika Serikat Barack Obama ke Indonesia yang sempat membuat masyarakat Indonesia terpukau oleh karisma kepemimpinannya. Apalagi euphoria untuk bertemu sang mantan anak SD Menteng Jakarta ini semakin terbuka dan diselenggarakan di Balairung Kampus Universitas Indonesia (UI) Depok. Tidak salah jika masyarakat Indonesia mengidolakan Barack Obama, karena beliau adalah sosok pemimpin yang sederhana dan "down to earth".

Hal itu dibuktikan dengan tidak sungkanya beliau bersalaman sambil cium pipi kanan-kiri seorang mahasiswi Sastra Jawa Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI bernama Ita Oktarina Song yang kebetulan merupakan teman satu jurusan dan angkatan saya. "Sebuah keberuntungan menghampiri saya, karena dapat berciuman pipi dengan Presiden Obama," ujarnya kepada saya ketika saya tanyakan perasaannya waktu itu. Diakuinya moment bersalaman dengan Obama membuat iri orang-orang yang ada disekitarnya.

Itulah Presiden Barack Obama yang sempat megenyam pendidikan SD di Menteng Jakarta dengan kesahajaan dan karismanya membuat masyarakat Indoensia memiliki idola pemimpin baru yang patut dibanggakan. Setelah sejenak masyarakat Indonesia disihir oleh pesona kepemimpinan Barack Obama. Pada akhir tahun 2010, rasa Nasionalisme masyarakat dikobarkan kembali dengan olahraga sederhana namun merakyat, yaitu Sepak Bola.

Perhelatan Sepak Bola AFF Suzuki 2010 waktu itu sempat menjadi penggerak Nasionalisme dan persatuan masyarakat Indonesia. Mereka terkagum-kagum oleh usaha Timnas Indonesia dalam permainan Sepak Bola yang atraktif ketika melawan beberapa negara Asia hingga mencapai final melawan Malaysia. Waktu itu, semua orang berbondong-bondong dari berbagai daerah tumpah menjadi satu dan memerahkan stadion Lapangan Gelora Bung Karno. Sungguh peristiwa luar biasa bahwa Sepak Bola dapat mempersatukan rakyat Indonesia waktu itu dari kalangan rendah hingga atas. Dengan masuk final Indonesia di ajang AFF saja sudah membuat masyarakat Indonesia bersatu, apalagi menjadi pemenang.Sesungguhnya Sepak Bola Indonesia masih punya harapan untuk meraih prestasi dan menjadi kebanggaan. Asal jangan sampai dipolitisasi nanti bisa jadi semua harapan meraih prestasi hanya mimpi.

Dua peristiwa tersebut merupakan bukti bahwa Indonesia masih punya harapan dan sesuatu yang dibanggakan. Indonesia hanya butuh pahlawan yang bisa membawa bangsa ini ke arah yang baik dan positif walaupun hanya sekecil apa pun. Seperti Presiden Barack Obama dan para Timnas Indonesia yang mengisi Indonesia dengan semangat maju yang diajarkan oleh Barack Obama serta Nasionalisme oleh Timnas Indonesia. Biarlah Gayus dan Ariel saja yang merasakan dampak dari perbuatan mereka untuk dijadikan cermin para koruptor. Yang terpenting adalah saatnya Indonesia "move on" dan bangkit dengan harapan baru untuk Indonesia baru di tahun ini.
2 komentar

Mimpi itu Masih Hidup dalam Diriku

"Dengan Menulis, Aku Melihat Dunia"
~AgengWuri~

Sewaktu kecil pasti kita memiliki mimpi dan cita-cita yang luar biasa dalam benak kita. Apalagi dengan imajinasi masa kecil, kita bisa bermimpi tanpa batas. Semua orang pasti pernah punya mimpi dan cita-cita sewaktu kecil, namun ketika sudah beranjak dewasa ada yang mimpinya terwujud, ada pula yang hanya sekedar bunga tidur. Menurut saya tidak ada kata terlambat untuk sebuah mimpi dan cita-cita sekecil apa pun. Seperti dalam sebuah sepenggal lirik lagu Film Sang Pemimpi sebagai berikut,
"Hidup itu sederhana, berani bermimpi, lalu mewujudkannya".
Ya selama kita masih punya mimpi, wujudkanlah, karena dengan mimpi-mimpi kita hidup dan menemukan kehidupan yang lebih bermakna.

Awalnya, saya bermimpi ingin menjadi seorang Pilot dan Polisi. Waktu itu, saya berimajinasi, jika menjadi Pilot saya bisa terbang keliling dunia dan melihat dunia yang begitu indah dari atas awan. Sedangkan menjadi Polisi, saya bisa menolong orang banyak dan menjadi pelindung untuk orang-orang yang tertindas. Tapi semua itu hanyalah mimpi masa kecil yang penuh semangat. Sekarang untuk menjadi Pilot dan Polisi adalah tidak mungkin buat saya. Pasalnya dari ukuran tubuh yang mungil saja, saya tidak masuk kualifikasi. Namun, mimpi itu tidak begitu saja terkubur.

Semua itu berubah ketika saya duduk di bangku SMA. Ketertarikan akan dunia kebudayaan, membuat saya senang untuk mempelajari Antropologi yang diajarkan oleh Bapak Sriyono. Beliau adalah guru Antropologi sekaligus wali kelas ketika saya duduk di bangku kelas 3 SMA. Perkataan beliau yang selalu saya ingat adalah "tidak ada ilmu yang tidak bermanfaat di dunia ini, sekalipun itu kebudayaan yang telah dilupakan". Mungkin hal itu, yang masih tertanam di benak saya saat ini, hingga pada akhirnya saya memutuskan untuk mengambil kuliah Sastra Jawa di FIB UI.

Kesempatan untuk mengambil kuliah Sastra Jawa FIB UI adalah hal yang luar biasa buat saya, karena banyak ilmu dan pelajaran yang saya dapatkan, baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Ya mimpi itu belum terkubur koq, saya masih bisa melihat dunia melalui kebudayaan, yaitu Sastra Jawa. Satu pelajaran yang saya dapatkan kuliah disana, bahwa kita tidak boleh meremehkan hal sekecil atau sepele apa pun. Semua pasti bermanfaat dan ada hikmahnya, hanya orang-orang yang sempit pemikirannya yang mengatakan jika kebudayaan tidak penting atau banyak orang bilang Sastra Jawa masih ada.

Sebuah dunia baru saya temui ketika mengikuti kegiatan Kepramukan di SMA. Yaitu ketika saya menjadi panitia acara Lomba tingkat V penggalang se-Nasional. Saya membantu kepanitiaan Humas dan saat itu ditugaskan menjadi Reporter untuk meliput kegiatan lomba tersebut dan kemudian dilaporkan dalam sebuah buletin yang sederhana. Dunia Jurnalistik dan tulis-menulis membuat saya senang berada di dalamnya. Hingga saya berpikir suatu saat akan menjadi seorang jurnalis, karena dengan menulis saya bisa melihat dunia dan menjadi saksi sejarah. Di bangku kuliah pun, minat jurnalistik saya terapkan di dalam organisasi kemahasiswaan Jurusan yang bernama Majalah Utthana hingga magang menjadi Reporter rubrik mahasiswa di Harian Jurnal Depok. Walaupun tidak bisa berkeliling dunia, setidaknya dengan membaca dan  menulis saya bisa melihat dunia melalui buku.

Setelah saya lulus, kemudian saya putuskan untuk berkarir menjadi jurnalis. Namun, hal itu tidaklah mudah, sampai saat ini pun ikhtiar untuk menjadi jurnalis selalu saya lakukan. Menurut saya, jurnalis adalah sebuah profesi yang menarik, karena jurnalis merupakan orang pertama yang bisa melihat dan mengetahui peristiwa yang sedang terjadi di dunia. Dia pula orang pertama yang melaporkan peristiwa tersebut kepada masyarakat tertentu melalui media masa. Jurnalis juga seorang saksi sejarah, karena setiap peristiwa adalah sejarah saat ini. Menjadi jurnalis adalah sebuah tantangan buat saya, karena jurnalis mengemban tugas yang cukup berat, yaitu harus menyajikan informasi secara jujur tanpa ada yang ditambahi atau pun dikurangi (fakta).

Di sela-sela saat ingin menjadi jurnalis, saya sempat merasakan menjadi seorang guru. Menjadi seorang guru adalah hal yang tidak pernah terpikirkan oleh saya. Ternyata tidak mudah loh menjadi guru yang harus digugu dan ditiru. Sangat jarang saat ini guru yang seperti itu, mengajar dengan ketulusan hati tanpa embel-embel pamrih dan sertifkasi. Saya sempat tersadar, ketika merasakan bagaimana seninya mengajar di dalam kelas. Jika dahulu tidak ada guru yang mengajarkan saya membaca dan menulis, saya bukan apa-apa saat ini. Saya tidak bisa melihat dunia yang saya impi-impikan. Ternyata saya begitu egois saat bermimpi ingin itu, ingin ini, karena telah melupakan jasa guru. Karena mereka saya dibimbing untuk memiliki mimpi dan meraihnya.
Banyak diantara kita yang melupakannya, karena sudah merasa bisa bukan bisa merasa. Guru adalah profesi yang tidak hanya mendidik dan mengajarkan mata pelajaran saja, tetapi juga "service" sikap dan tingkah laku yang bermuara pada moral bangsa dan negara.

Profesi guru merupakan profesi yang mulia, tapi tidak mudah karena dalam praktiknya merupakan sekaligus ibadah. Jika boleh memilih, saya akan menjadi jurnalis yang memberikan informasi secara jujur kepada masyarakat saja. Dan jika saya diberi kesempatan untuk mengajar, saya akan menanamkan mimpi pada setiap anak-anak, karena dengan mimpi kita bisa memaknai kehidupan. Kelebihan kedua profesi tersebut adalah ladang amal bagi yang menjalaninya. Kesamaanya adalah pada tugas meraka yaitu membangun masyarakat. Kesimpulannya, loyalitas kedua profesi tersebut adalah masyarakat. Salut untuk guru dan junalis Indonesia dimana pun mereka berada.




Sabtu, 25 Desember 2010 0 komentar

Arsa Wening, Sang Pejuang Kemanusiaan


            Selasa pagi (21/12/10) yang cerah dan penuh semangat kami peserta Sekolah Guru Ekselensia Indonesia (SGEI) Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa (DD) Lembaga Pengembangan Insani (LPI) pertama kalinya mengikuti program touring ke berbagai tempat penting. Salah satunya pada hari pertama kami mengunjungi Madrasah Ibtidaiyah (MI) As-Syafi’i yang beralamat di Desa Rawabelong, Gunung Sindur, Bogor Jawa Barat. Pandangan pertama yang saya lihat dari sekolah tersebut sangat sederhana dan dekat dengan sebuah masjid yang lumayan cukup besar serta tidak sepi dari doa-doa umat sekitar. Tugas saya mengunjungi sekolah tersebut tidak sekedar sebagai plesir ataupun melancong, melainkan memperhatikan dan mengobservasi sekolah tersebut secara kritis namun juga mengambil pembelajaran dari lingkungan tersebut.
            Setelah ditelisik dan diamati lebih dalam MI As-Syafi’i merupakan sekolah dasar yang baru dibangun oleh penduduk sekitar yang peduli dengan pendidikan. Sekolah yang penuh dengan kesahajaan dari murid-muridnya ini serta gurunya yang saya lihat hanya dua orang, baru memiliki murid kelas 1 saja. Berikutnya, pengamatan saya ke sebuah TK yang jaraknya tidak jauh dengan MI tersebut. Sama seperti MI As-Syafi’i yang ruang belajarnya serba sederhana dan apa adanya, namun tidak menghambat anak-anak untuk belajar. Walaupun dengan ruang yang lumayan sempit dan arena bermain yang kurang luas, anak-anak TK yang menyebut dirinya sebagai Balistung pada saat baris berbaris tetap tersenyum dan ceria mengikuti prosesi pembelajaran mereka. Pembelajaran anak-anak TK Balistung selesai, pengamatan saya pun terhenti.

Sosok Sederhana Penuh Makna
Kami bersama Ibu Evi Kepala Sekolah SGEI mengunjungi rumah seorang laki-laki bertubuh mungil yang bernama Bapak Sunaryo Adhiatmoko. Rumah sederhana yang terbuat dari kayu dan terlihat tradisional namun nyaman dan penuh kekeluargaan ternyata tempat tinggal seorang anak manusia yang penuh dengan semangat hidup dan inspirator saya. Awalnya saya tak menyangka bahwa beliau adalah penduduk yang telah membina dan mendirikan kedua sekolah tersebut. Pada saat saya berada di MI As-Syafi’i, beliau mengantar kami ke TK, tidak ada yang tersirat dari wajah dan penampilannya yang saya lihat bahwa beliau adalah orang yang hebat di bidangnya.
Bapak Sunaryo Adhiatmoko atau yang sering disebut Arsa Wening berprofesi sebagai jurnalis Koran dan Buletin Republika DD. Arsa Wening yang lahir di Trenggalek, Jawa Timur merupakan nama pena beliau dalam dunia tulis-menulis di Koran maupun Buletin Republika DD. Bukan kebetulan, saya juga menyukai dunia jurnalistik dan sastra, khususnya sastra indonesia dalam hal tulis-menulis yang sempat saya jalani dikala duduk di bangku kuliah.
            Dalam rumah beliau, Arsa Wening membagikan pengalamannya kepada kami mengenai menjadi seorang yang selalu rendah hati dan kunci kesuksesan beliau. Beliau telah malang-melintang dalam dunia jurnalistik. Selain itu, juga telah banyak mengemban misi sosial untuk masyarakat yang masih tertinggal selama bekerja di Republika DD. Dari keliling daerah-daerah yang tertinggal di seluruh Indonesia hingga ke wilayah Asia serta Palestina.
Kehidupan Sunaryo dapat dikatakan sudah lebih dari cukup, namun beliau selalu merunduk seperti filosofi Padi dan berjalan bagai filosofi Air. Filosofi Padi menggambarkan seseorang selalu rendah hati namun berisi. Artinya sosok Arsa Wening merupakan seorang yang memiliki ilmu yang banyak namun beliau tetap rendah hati dan yang terpenting tetap bersahaja.
            Layaknya seperti Air, kehidupan pun harus mengalir bak air yang mengalir dari tempat yang kecil sampai luas, dari sungai hingga bermuara ke lautan. Kehidupan  Arsa Wening yang telah dianugrahi satu putra dan dua putri yang cantik serta lucu-lucu selalu yakin bahwa kehidupan kita yang mengukur adalah Allah SWT dan kita, yaitu manusia yang seharusnya berjalan seperti Air. Dua filosofi tersebut yang saya lihat dari sosok Sunaryo Adhiatmoko yang membawa beliau tetap survive di dalam misinya, yaitu membangun masyarakat.
            Membangun masyarakat yang masih tertinggal secara teknologi kehidupan dan intelektual merupakan hal yang tidak mudah bagi saya. Apalagi saya sebagai peserta SGEI angkatan II yang nantinya akan di kirim ke seluruh Indonesia ke daerah pelosok diamanahkan sebagai guru model yang paling unggul diantara guru-guru lain. Arsa Wening dalam menghadapi kearifan lokal yang berbeda dari kehidupan kita sebelumnya membagi kunci suksesnya. Beliau mengatakan kunci dalam sebuah area baru harus mengosongkan pokiran-pikiran dari tempat tinggal asal dan pasang badan serta seperti seorang yang tidak tahu apa-apa agar dapat membaur dengan masyarakat baru tertentu.
            Sosok Arsa Wening yang saya kagumi adalah sosok yang tidak pernah mengeluh dalam apa yang ada di kehidupannya. Padahal beliau seorang yang dhuafa atau miskin, namun dia tetap bersyukur, karena membuatnya menjadi insan yang thougth dan kreatif. Teringat sebuah kata-kata dari seorang sahabat bahwa Dengan Keterbatasan Mendorong untuk Maju.
Inspirasi yang saya dapat dari beliau yang selalu memaknai hidupnya dan kehidupan bahwa sesuatu yang dapat dibayar tidak selalu dengan uang tapi lebih dari itu, yaitu ilmu yang bermanfaat bagi umat. Seperti arti namanya, yaitu Arsa Wening yang memiliki arti Pemimpin untuk kata Arsa dan Bening untuk kata Wening, yang berarti Pemimpin yang sebening air dan seperti air yang tenang. Bapak Sunaryo Adhiatmoko telah menjadi sumber kehidupan seperti tirta atau air dan pemimpin yang menghilangkan dahaga bagi masyarakat marginal atau dhuafa. Ageng Wuri R. A.
Minggu, 03 Oktober 2010 0 komentar

Siapkah aku?

Malam itu adalah puncak kemarahannya yang disimpan untukku.
Aku pun termenung dan memandang ruang kosong kamar yang sederhana namun nyaman.
Tak mampu ku mengucapkan kata-kata lagi yang semakin membuat hatinya teriris.
Kemarahannya adalah sebuah kasih sayang dan kekhawatiran untukku, untuk masa depanku, untuk merubah perangai dan kebiasaan malasku.
"Siapkah kamu nak?" katanya. Siapkah aku? untuk melihat dunia sesungguhnya.
Siapkah aku? untuk menjemput semua impianku dengan keyakinanku.
Siapkah aku? menjadi seorang perempuan yang tak hanya elok rupa tapi elok budi.
Siapkah aku? menjadi seorang ibu dan istri serta kepala rumah tangga.
Siapkah aku? menjadi perempuan yang merdeka dan dapat berdiri di kakinya sendiri, karena kehidupan siapa yang tahu, semua menjadi rahasia Tuhan.
Entah kebetulan atau memang tepat saatnya, seorang sahabat memberikan nasihat yang serupa tentang perempuan-perempuan hebat.
Semakin berfikirlah aku dikala pagi diperaduannya.
Di tengah malam aku pun berjanji pada diriku sendiri tak akan sedikit pun lagi membuatnya bersedih karena aku.
Aku ingin perempuan dengan segenap jiwanya yang mengasihiku berbahagia, karena melihatku pantas untuk dipercaya. Yang aku mampu adalah merubah tabiatku saat itu juga.
Karena sebentar lagi aku akan menjemput dunia yang sesungguhnya, dunia perempuan perkasa dan tangguh yang siap berdiri tegak di tengah masyarakat.

Ageng Wuri R. A.
Ruang tamu rumah, Depok 03 Oktober 2010
Senin, 07 Desember 2009 0 komentar

Lelaki Tanpa Simbol

Lelaki datang dan pergi
Membawa harapan dan kepalsuan
Yang tak berujung bahagia
Namun, ada seorang lelaki berbeda
Lelaki itu datang tanpa simbol
Tanpa kesan
Berbeda dengan sejenisnya
Santun katanya
Sahaja tingkah lakunya
Membawa harapan dan kepastian
Yang berujung bahagia
Lelaki itu adalah kamu
Yang kini melengkapi hidupku


Ageng Wuri R. A.
08 Desember 2009
0 komentar

Cemburu

Aku Cemburu
Bila Bumi menari-nari merayumu
Aku Cemburu
Bila Kejora mencari perhatianmu
Aku Cemburu
Bila Bulan begitu dekat denganmu
Aku Cemburu
Bila ada yang tidak aku ketahui dari dirimu
Aku Cemburu
Bila duniamu mengajakmu pergi jauh
Aku Cemburu
Hingga mengisi pikiranku
Semoga cepat berlalu
Pergi bersama rintik hujan malam kelabu

Ageng Wuri R. A.
08 Desember 2009
Sabtu, 05 Desember 2009 0 komentar

Kisah Perempuan di Hindia Belanda


Oleh Ageng Wuri R. A.*)

Judul Buku : Citra Kaum Perempuan di Hindia Belanda
Penulis : Tineke Hellwig
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2007
Cetakan : Edisi Pertama
Tebal : xii + 122 halaman
Harga : Rp. 24.000,00

Kaum perempuan pada masa lalu digambarkan hanya sebagai pemuas kebutuhan seksual pria saja. Mereka pada masa lalu dipandang sebelah mata oleh kaum pria. Namun, dengan tergerusnya zaman kaum perempuan dapat menyetarakan dirinya dengan kaum pria dan ikut berperan diberbagai bidang. Seperti, R. A. Kartini (1879-1904), seorang perempuan pribumi istimewa yang hidup di pulau Jawa pada masa kolonial Hindia Belanda mampu membela hak-hak perempuan untuk pendidikan. R. A. Kartini hanyalah salah satu dari sekian banyak perempuan yang menjadi korban dari sistem kolonial Hindia Belanda.
Penggambaran kaum perempuan dalam teks-teks kesusastraan yang berkenaan dengan masyarakat kolonial Hindia Belanda pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 ditulis oleh Tineke Hellwig dalam buku berjudul Citra Kaum Perempuan di Hindia Belanda. Secara terbuka, penulis (Tineke Hellwig) dalam buku tersebut memaparkan dan menguraikan kaum perempuan dalam teks-teks kesusastraan dalam bahasa Melayu dan Belanda. Pengarang teks-teks kesusastraan dalam bahasa Belanda, yaitu Louis Couperus (1863-1923), P. A. Daum (1850-1898), Annie Foore (1847-1890), Melati Van Java (1853-1927) dan Therese Hoven (1860-1941). Sedangkan, pengarang yang menulis dalam bahasa Melayu sangat terbatas, yaitu Gou Peng Liang (1869-1928), Phoa Tjoen Huat (1883-1928), Thio Tjin Boen (1885-1940), Njoo Cheong Seng (1902-1962), Herman Kommer (1873-19XX), dan G. Francis (1860-1915).
Sekitar tahun 1900-an perubahan-perubahan besar terjadi dalam masyarakat kolonial di Hindia Belanda. Perubahan-perubahan tersebut terjadi dalam konteks sosial dan ekonomi yang berlangsung pada abad ke-19. Pada masa itu masyarakat Hindia terdiri dari orang-orang pribumi yang terbagi dalam berbagai kelompok masyarakat etnis, golongan Indo, golongan Eropa serta yang dinamakan golongan Timur Asing (Cina, India, dan Arab).
Jumlah orang Eropa di Hindia meningkat. Secara bersamaan, pendidikan Barat untuk rakyat Indonesia telah menumbuhkan kesadaran politik mereka. Orang-orang Indo dan Cina didesak untuk menempati posisi-posisi yang lebih sempit. Dalam masyarakat majemuk ini terjadi tegangan antara warga pelbagai kelompok yang berbeda.
Banyak dampak bangsa Eropa dirasakan oleh masyarakat yang hidup di Kepulauan Nusantara ini. Salah satunya adalah sistem tanam paksa (cultuurstelsel) pada tahun 1830 dicetuskan oleh Gubernur Van Den Bosch. Sistem tanam paksa membuat seluruh penduduk sangat menderita, karena tanah digunakan untuk menghasilkan tanaman komersil. Selain masalah ekonomi, sosial pun menjadi sebuah polemik di tengah-tengah penderitaan penduduk, khususnya kaum perempuan. Dengan munculnya sistem feodal, berkenaan dengan hubungan antara orang-orang berlainan jenis. Perempuan dianggap lebih rendah dari pria, sekalipun kaum perempuan memegang peranan penting.
Pada masa VOC muncul pergundikan, yang pada waktu itu terkenal dengan sebutan nyai. Budak perempuan biasanya berasal dari lapisan masyarakat yang paling miskin. Pejabat-pejabat di kalangan VOC lebih tinggi umumnya memiliki hubungan lebih erat dengan perempuan-perempuan setempat, baik sebagai istri maupun gundik. Seorang nyai dapat dikatakan tidak mempunyai hak apa pun, antara lain tidak punya hak atas anaknya maupun tidak atas posisinya sendiri. Yang menarik, walau seringkali perkawinan campuran tidak dapat diterima oleh masyarakat, namun dalam kehidupan sehari-hari seorang istri tidak resmi, secara lahiriah diperlakukan sama terhormatnya dengan istri sah.
Pencitraan Kaum Perempuan di Hindia Belanda dalam Karya Sastra
Tineke melihat di dalam novel-novel Belanda umumnya menguraikan inti cerita berkisar sekitar tokoh-tokoh Eropa, yaitu orang Belanda dan Indo. Seringkali orang pribumi dan orang Tionghoa tidak memegang peranan penting, orang pribumi menjadi pembantu, kuli, atau warga terjajah, yang tidak bertindak ataupun berbicara. Sifat problematik masyarakat Hindia Belanda dengan pengucilan rasialnya menggema di hampir kebanyakan kisah.
Dua tema lain yang berulang muncul dalam novel-novel Belanda, yaitu pertama sifa misterius yang meliputi dunia khatulistiwa di Asia (dunia gaib) dan kedua, moralitas seksual dengan standar gandanya yang mencangkup masalah gundik dan voorkinderen (anak hasil hubungan luar perkawinan antara lelaki Eropa dan nyai-nya). Tema tersebut terdapat dalam karya Couperus dengan judul De Stille Kracht, karya De Familie van de Resident (Keluarga Sang Residen) oleh Melati Van Java, kisah Indische Toestanden (1897, Keadaan di Hindia, dari negeri Pohon Kelapa) karya Therese Hoven, kisah Willie’s Mama (1895) dalam koleksi Indische Huwelijken (Perkawinan di Hindia) oleh Annie Foore, dan novel Nummer Elf (1893, Nomor Sebelas) karya P. A. Daum yang sangat dipuji-puji orang.
Dalam kisah-kisah karya sastra yang telah disebutkan di atas, betapa besar trauma bagi perempuan yang menerima kehidupan masa lampau suaminya dengan seorang nyai, terutama jika ia mempunyai beberapa orang voorkinderen. Jelas bahwa konfrontasi utama diutarakan dalam kisah-kisah Belanda terjadi di antara bangsa Eropa kulit putih dengan orang-orang Indo dan anak-anak voorkinderen yang menimbulkan masalah adalah Indo.
Berbeda dengan novel-novel dalam bahasa Melayu. Tineke melihat pencitraan kaum perempuan terdapat di beberapa karya sastra bahasa Melayu, yaitu Tjerita Njai Dasima (1813) karya G. Francis, Tjerita Nji Paina (1900) karya H. Kommer, kisah Sarinten sebagai nyai Jonkheer Adriaan Malheure dalam Tjerita Controleur Malheure (1912) oleh Th. H. Phoa, Njai Warsih (tanpa tahun) karya Thio Tjin Boen, Tjerita Nona Diana (1920) karya Gouw Peng Liang, dan cerita Nona Olanda sebagi Istri Tionghoa (1925) karya Njoo Cheong Seng.
Kisah-kisah bahasa Melayu ini menyajikan sosok perempuan dalam berbagai peranan dan posisi. Mereka menjadi nyai dan istri, sering dalam hubungan multirasial yang menjadi pusat alur cerita. Jelas bahwa hubungan kolonial dalam masyarakat hindia menyebabkan banyak perasaan tidak puas dan memerlukan sangat banyak usaha penyesuaian. Karena kekuasaan kolonial dapat diidentifikasikan dengan lelaki kulit putih, maka perempuan menduduki tempat lebih rendah.
Dengan membaca buku yang berjudul Citra Kaum Perempuan di Hindia Belanda, para pembaca diajak untuk meneropong peranan yang dimainkan perempuan di tengah kancah perubahan sosial pada kehidupan Kolonial Hindia Belanda. Dengan menelaah sejumlah karya sastra yang melukiskan kehidupan kolonial di Hindia, Tineke berhasil menguak pelbagai ketidakseimbangan yang terjadi pada era masa lalu, khususnya pada kaum perempuan.

*) Penulis Independen, Mahasiswi Program Studi Jawa Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI)
 
;