Kamis, 21 Juli 2011 0 komentar

Sunat Perempuan Dikecam LSM


Peraturan Mentri Kesehatan RI No. 1636 yang ditandatangani oleh dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH. Dr.PH tanggal 15 November 2010 mendapat respon penolakan dari para aktivis perempuan dan LSM.  Ada sekitar 178 LSM yang mendeklarkan penolakan peraturan ini. Mereka mengadakan jumpa pers pada tanggal 23 Juni 2011 di Bakoel Koffie Jalan Cikini Raya No. 25, Jakarta Pusat, pukul 14.00-15.30 WIB. Jumpa pers ini dipelopori dan diwadahi oleh LSM Kalyanamitra, Pusat Komunikasi dan Informasi Perempuan.

LSM yang tergabung antara lain Kalyanamitra, LBH Apik, Aceh Peace Consultative Management/APCM2, Aliansi Pelangi Antar Bangsa, Asian Moslem Action Network (AMAN) Indonesia, Barisan Perempuan Indonesia, CEDAW Working Group Initiative, Center for Human Rights Law Studies (HRLS), Demos, Fahmina Institute, Human Rights Working Group (HRWG), Indonesia AIDS Coalition dan lain-lain.

Mereka membuat sebuah pernyataan sikap bersama yang mengatasnamakan dari masyarakat sipil dan Amnesty Internasional. Bahwa pihak berwenang Indonesia, dalam hal ini Mentri Kesehatan RI dan Presiden RI harus selekasnya mencabut Peraturan Mentri Kesehatan RI No. 1636/MENKES/PER/XI/2010 tentang Sunat Perempuan yang dikeluarkan pada November 2010 dan sebaiknya menerapkan peraturan khusus dengan hukuman yang pantas untuk melarang segala jenis praktik sunat perempuan, baik secara simbolis, perusakan alat kelamin perempuan hingga praktik mutilasi atau pemotongan alat kelamin perempuan di Indonesia.

Medikalisasi praktik sunat perempuan oleh petugas kesehatan, baik dengan tindakan pengirisan, pemotongan atau pengguntingan, maupun perusakan alat kelamin perempuan dan sekitarnya. Sebenarnya ini telah dilarang oleh Departemen Kesehatan RI melalui Surat Edaran dari Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat tentang Larangan Medikalisasi Sunat Perempuan bagi Petugas Kesehatan No. HK.00.07.1.3.10.47 pada tanggal 20 April 2006 yang ditandatangani oleh Dr. Sri Astuti Soeparmanto, M.Sc. (PH).

Dikeluarkannya Permenkes tentang sunat perempuan justru menurut mereka bertolak belakang dengan Surat Edaran tersebut, dan merupakan suatu kemunduran bagi penegakan hak asasi perempuan oleh Kementrian Kesehatan RI.

Permenkes tentas Sunat Perempuan melegitimasi praktik sunat perempuan. Bahwa disebutkan pada BAB II pasal 4 ayat 2 poin g mengenai pelaksanaan sunat perempuan dilakukan dengan prosedur tindakan, yaitu lakukan goresan pada kulit yang menutupi bagian depan klitoris (frenulum klitoris) dengan menggunakan ujung jarum steril sekali pakai berukuran 20G-22G dari sisi mukosa ke arah kulit tanpa melukai klitoris. Peraturan tersebut juga memberi otoritas pada pekerja medis tertentu, seperti dokter, bidan, dan perawat untuk melakukannya dalam BAB II pasal 2 tentang penyelenggaraan sunat perempuan.

Menanggapi hal tersebut, Rena Herdiyani, Executive Director Kalyanamitra mengatakan bahwa berdasarkan penelitian yang ada di dalam Surat Edaran dari Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat nomor HK.00.07.1.3.1047a ini tentang Larangan Medikalisasi Sunat Perempuan bagi Petugas Kesehatan telah melarang medikalisasi sunat perempuan. “Praktik sunat perempuan ini tidak ada manfaatnya bagi kesehatan  perempuan. Malah justru berdampak negatif yang berpotensi menimbulkan pendarahan, kesakitan, penderitaan serta hilangnya kenikmatan hubungan seksual bagi perempuan,” ungkapnya kepada Ageng Wuri R. A. dari GATRA, Kamis (23/06) di Bakoel Koffie Cikini Jakarta Pusat.

Dalam Surat Edaran tersebut, tertulis bahwa penelitian praktik sunat perempuan di Indonesia telah dilakukan oleh Kementrian Pemberdayaan perempuan dan Population Council di Madura, Banten, Padang, Padang Pariaman, Serang, Kutai, Kertanegara, Sumenep, Makasar, Bone, Gorontalo, Bandung, pada tahun 2002-2003 yang disebut dengan Medikalisasi Sunat Perempuan (WHO).Penelitian tersebut menghasilkan banyaknya praktik sunat perempuan yang berubah dari simbolis menjadi perusakan alat kelamin berupa pengirisan, pemotongan atau pengguntingan, baik oleh dukun maupun tenaga kesehatan.

Walaupun pernyataan dalam surat edaran, menurut Rena kurang lengkap, namun sebenarnya sudah menjelaskan bahwa suant perempuan berdampak buruk terhadap perempuan. “Kalau yang melakukan adalah dukun-dukun bayi, mereka kan tidak tahu higienis yah dengan alat yang mereka gunakan itu bisa infeksi alat kelamin perempuan,” ujarnya.

Menurut Rena, sebagai perwakilan dari LSM perempuan, filosofis atau tujuan dari praktik sunat perempuan ini alasan kebanyakan diperbolehkan adalah karena tradisi dan agama. “Itu tujuan utamanya adalah untuk menekan hasrat seksual perempuan. Bukan untuk manfaat kesehatan, kalau laki-laki disunat memang berdasarkan penelitian untuk kesehatan, untuk kebersihan dari alat kelaminnya laki-laki. Kalau perempuan tuh nggak ada manfaatnya, itu lebih kepada praktik budaya, itu bukan ajaran agama,” jelasnya.

Berbicara mengenai teks-teks yang lebih kemprehensif lagi, Rena katakan bahwa sebenarnya sunat perempuan tidak dianjurkan oleh agama. Berbagai alasan yang membuat sunat perempuan ini bergulir, seperti agama, tradisi turun-temurun, atau kebiasaan dari keluarga. “Jadi yang tadinya ikut-ikutan, malah mereka minta anak bayinya itu disunat sama bidan atau dukun. Tadinya dengan surat edaran larangan medikalisasi ini justru si bidan itu kalau dimintakan tolong sama orang tuanya dia kan bisa menolak atau melarang. Ada legitimasi, tidak bisa kita kan sudah mengeluarkan surat edaran ini,” paparnya.

Kemudian munculah Permenkes untuk memperbaharui surat edaran dari Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat. “Peraturan mentri kesehatan ini yang justru mengatur malah, caranya malah diajarin di sini, bukannya dilarang. Caranya adalah dengan ujung jarum steril,” tuturnya.

Walaupun dalam Permenkes tidak melukai klitoris, Rena berpendapat berbeda, dan mengkhawatirkan bahwa penggoresan kepada klitoris siapa pun tidak berani menjamin akan terluka, karena alat vital perempuan itu lembut dan sensitif. “Memang di sini ditulis tanpa melukai klitoris tapi kan siapa yang mau menjamin ya, cuman kan prakteknya siapa yang tahu yah bidan-bidan, dokter-dokter itu, di ujung-ujugng desa yang dikampung-kampung, kan nggak tahu yah orang yang di pedalaman. Malah bisa infeksi kalau mereka jarumnya nggak steril,” paparnya lagi.

Ia berpendapat bahwa seharusnya para Mentri yang berwenang seharusnya memberikan perlindungan bukan membiarkan. “Ini malah melanggenggkan praktik kekerasan terhadap perempuan,” ujarnya.

Ia mengusulkan Surat Edaranlah yang seharusnya ditingkatkan menjadi Permenkes mengenai pelarangan sunat perempuan. “Surat Edaran  inilah yang ditingkatkan menjadi Permenkes yang intinya adalah melarang medikalisasi sunat perempuan,” katanya. Selain itu, harus ada sanki tegas baik bagi tenaga medis, maupun dukun-dukun yang melakukan praktik sunat perempuan.

Dalam surat pernyataan bersama yang saya baca pun juga tertulis bahwa ada tiga poin permintaan mereka yang tergabung dalam organisasi LSM maupuan aktivis peduli perempuan mendesak pemerintah untuk mencabut Permenkes No. 1636 November 2010 tentang sunat perempuan dan memastikan bahwa peraturan tersebut mematuhi sepenuhnya ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam CEDAW.

Kedua Surat Edaran tentang Larangan Medikalisasi Sunat Perempuan bagi Petugas Kesehatan No. HK.00.07.1.3.1047a yang dikeluarkan Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat tahun 2006 dapat diberlakukan secara konsisten dan diperluas terhadap semua pihak di masyarakat khususnya yang menangani masalah kesehatan serta ditingkatkan statusnya menjadi Permenkes. Dan ketiga, melaksanakan publik kampanye peningkatan kesadaran untuk mengubah persepsi budaya yang terkait dengan sunat perempuan.

Rena mengatakan bahwa Permenkes ini bertentangan dengan surat edaran yang dikeluarkan oleh dirjen Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan. Selain itu juga bertentangan dengan undang-undang yang ada di atasnya. “Jadi ini bertentangan secara hukum dengan undang-undang yang lainnya,” tegasnya.

Seperti Undang-Undang  perlindungan anak No. 23 tahun 2000; Undang-Undang kesehatan No. 23 tahun 2009 dan bagian keenam tentang Kesehatan Reproduksi ; Undang-Undang Hak Asasi Manusia No. 39 tahun 1999; CEDAW No. 7 tahun 1984 tentang Ratifikasi Konvensi International tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan; Undang-Undang No. 5 tahun1998 tentang Ratifikasi Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman lain yang kejam, tidak manusiawi atau merendahkan martabat manusia; dan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) No. 5 tahun 2004 dan pasal 5 tentang larangan melakukan kekerasan fisik.

Ia mengingatkan bahwa Internasional dalam hal ini PBB khususnya komite CEDAW, sudah menyatakan bahwa sunat perempuan dilarang. Komite CEDAW, ujar Rena, juga telah mewajibkan setiap negara yang sudah meratifikasi Konvensi CEDAW untuk  membuat kebijakan yang menghapuskan praktik sunat perempuan. “Dan juga satu lagi ada di PBB komite CAT namanya, komite anti penyiksaan, itu juga dia sudah menyatakan bahwa sunat perempuan ini adalah salah satu bentuk penyiksaan, karena menimbulkan penderitaan dan kesakitan bagi perempuan,” ungkapnya.

Pelapor atau special rapporteur dari PBB dalam pernyataan Rena di atas adalah bernama Juan E. Mendez . Ia membuat sebuah pernyataan pada saat acara Internasional, 1 Juni 2011. Mendez mengatakan bahwa sebenarnya kebijakan-kebijakan sunat perempuan atas nama kebiasaan, tradisi, ataupun agama harus sudah dihapuskan dan tidak diperbolehkan. “Jadi sudah banyaklah dunia Internasional,” katanya.

Di sudut pandang agama, dalam keputusan fatwa yang dikeluarkan MUI No. 9A tahun 2008, berjudul Hukum Pelarangan Khitan Terhadap Perempuan, berisi mengenai status hukum khitan perempuan, yaitu Makrumah artinya pelaksanaannya sebagai suatu bentuk ibadah. Selain itu, larangan khitan perempuan menurut fatwa tersebut adalah bertentangan dengan ketentuan syariah karena khitan bagi laki-laki maupun perempuan termasuk fitrah dan syar’i.

“Judulnya memang hukum pelarangan tetapi isinya dia bilang khitan perempuan itu adalah suatu bentuk pelaksanaan ibadah dan hukum atau kebijakan yang melarang khitan perempuan itu bertentangan dengan syariah,” tuturnya.

 Dijelaskan Rena, Surat Edaran dari Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat Depkes, bertentangan dengan syariat Islam. Fatwa yang dikeluarkan MUI ini adalah mengecam atau merespon Surat Edaran Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat Depkes. “MUI melakukan pelarangan terhadat Surat Edaran ini, makanya dia melakukan penekanan dan melakukan lobi kepada kementrian kesehatan, makanya keluar Permenkes ini, Kementrian Kesehatannya tertekan sama MUI ini termasuk Kementrian Pemberdayaan Perempuan. Dua-duanya diteken oleh MUI. Permenkes ini sudah disosialisasikan pasti oleh Kementrian Kesehatan kepada tenaga medis itu dan katanya mau ditingkatkan statusnya,” paparnya.

Rena berargumen bahwa MUI ini menggunakan ayat-ayat yang tekstual dan kaku. Mereka tidak melihat fakta-fakta yang ada di lapangan. “Bahwa sunat perempuan itu banyak dampak negatifnya buat perempuan. Mungkin harus dikaji lagi hadis-hadis atau ayat-ayat yang lain yang menyatakan bahwa khitan perempuan itu tidak dianjurkan,” jelasnya.

Saat ini, selain konferensi pers, Kalyanamitra dan gabungan LSM dan organisasi perempuan tengah melakukan upaya-upaya untuk mengadakan audience bersama mentri kesehata, pemberdayaan perempuan, Presiden RI, dan MUI. “Kita belum tau itu kapan, karena waktunya kan susah mereka. Ini kan seharusnya jam 10.00 ketemu mentri, dibatalin karena ada rapat, kayaknya ngebahas Ruyati kayaknya,” lanjutnya.

***

Sementara itu, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH. Dr.PH, Mentri Kesehatan RI yang tidak bisa ditemui wawancara, karena kesibukannya merespon adanya penolakan Permenkes tersebut dari para koalisi LSM perempuan. “Besok saya sibuk sekali. Rapat mulai jam 8 pagi sampai malam, berbagai rapat. Intinya: saya sendiri sangat tidak setuju sunat perempuan, terutama tentunya yang berupa praktek mutilasi genital seperti yang dilakukan di Afrika,” ujarnya kepada Ageng Wuri R. A. dari GATRA, kamis (23/06) melalui pesan telepon genggam.

Dijelaskan oleh Endang bahwa Permenkes tersebut sudah melalui pembahasan dengan berbagai pihak, dan masih ada pihak-pihak yang menyatakan bahwa sunat perempuan wajib dilakukan. “Karena itulah, Permenkes yang baru tersebut mengatur dengan tegas agar hal itu hanya boleh dilakukan oleh tenaga dokter, bidan atau perawat. Atas permintaan orang tua dan dijelaskan tindakan apa yang boleh dilakukan. Yaitu menggores saja penutup klitoris,” terangnya.

Menurutnya, sunat perempuan dalam Permenkes itu tidak ada yang dimutilasi. Ia menyadari bahwa dalam kenyataanya mungkin masih ada penyimpangan dalam pelaksanaan sunat perempuan, seperti sunat oleh dukun dan sebagainya. “Inilah yang akan kami hilangkan. Tidak mudah, karena hingga kini masih bantak persalinan ditolong dukun. Perlu diketahui, Permenkes tersebut sudah dibahas bersama stakeholders yang terkait, termasuk Kementrian PPPA,” tambahnya lagi.
Permenkes tersebut, Endang katakan telah dibahas bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI), Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Ikatan Dokter Indonesia (Kemeneg PPPA), Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan Perkumpulan Obstetri dan Ginekolog Indonesia (POGI).

“Karena sewaktu ada peraturan dirjen yang melarang sunat perempuan, maka sunat tetap dilaksanakan, tetapi oleh bukan tenaga medis atau paramedis. Sehingga malah membahayakan,” ungkapnya. Karena itu, Kemenkes berpendapat bahwa sebaiknya hal ini diatur ketat dengan Permenkes, agar tidak ada yang melukai klitoris ataupun penutupnya (frenulum).

Secara medis, Endang memastikan bahwa sampai saat ini tidak ada indikasinya dan belum terlihat manfaatnya dari sunat perempuan dalam Permenkes. Praktik ini juga akan tetap dilakukan atas dasar agama. “Untuk hal ini tentunya silahkan bertanya kepada yang berwenang dalam hal agama,” katanya.

Diterangkan Endang bahwa menggores frenulum tidak berpengaruh pada kepuasan hubungan seksual perempuan. “Hal tersebut lebih tergantung pada sensasi dan pikiran seseorang,” ujarnya. Ditekankan Endang bahwa seharusnya penggoresan ini tidak berdarah. “Sunat Perempuan yang ditentang di dunia adalah sunat yang bersifat mutilasi, baik sebagian maupun seluruh genital perempuan, yang sangat mengerikan di beberapa negara. Di Indonesia hal tersebut  dilarang,” tutupnya.

Selasa, 07 Juni 2011 0 komentar

Andien Punya Bisnis Fashion

Andien (26), penyanyi Indonesia beraliran Jazz, punya profesi baru sebagai desainer. Penyanyi cantik ini tengah mencoba bisnis mode, yaitu pakaian jas untuk pria dan wanita. Ia mengaku menyukai bisnis mode ini berawal dari pacarnya yang suka memakai jas.  Di tengah kesibukannya manggung, ia sempatkan untuk membuat desain jas. Bersama pacarnya pula ia membangun sebuah toko yang menampilkan jas-jas.

"Yang lagi aku dan cowokku desain itu baju jas. Nama tokonya The NTRS di Plaza Indonesia, lantai 4, unit 14," ujarnya kepada Ageng Wuri R. A. dari GATRA, Sabtu (21/05), di Margo City, Depok.  Perempuan yang lahir di Jakarta, 25 Agustus 1985 ini mengungkapkan bahwa di tokonya itu, jas-jas yang ditampilkan hanya sebagai contoh dan harus dipesan terlebih dahulu.

Soal harga, penyanyi  bernama lengkap Andini Aisyah Hariadi menuturkan bahwa jas yang ia tawarkan dengan harga yang terjangkau. Karena, menurutnya pada dasarnya penjahit yang bagus untuk pakaian jas, harus dengan kualitas dan bahan yang bagus. "Itu range harganya sekitar lima juta ke atas. Di Singapura aja 800 dollar atau 8 juta ke atas. Sementara kita jual dengan harga 2,2 juta memang afordable banget dan dengan kualitas yang menjamin, kayak jahitan dan segala macem," terangnya.

Diutarakan, penyanyi yang memiliki debut album perdana Bisikan Hati ini bahwa target pakaian jas ini untuk anak-anak muda yang baru pertama kali wawancara atau pertama kali kerja. "Mereka yang pada mau ke kawinan, butuh jas segala macem, tapi nggak punya budget kayak bapaknya," ujarnya.

Ia juga menceritakan bahwa jas yang dibuat ini dengan cutting yang jauh lebih mudah. "Kalau kita lihat di hollywood atau italia, orang-orang kan make body fit, dan itu emang agak susah dibikinnya. Kita memang punya taste kesitu," tuturnya. Selain itu. ia juga pernah memakai jas buatannya itu di pelbagai acara saat ia manggung. "Setelah beberapa bulan buka, trus aku pikir pengen banget pakai suit, sementara aku sering pakai dres kemana-mana," katanya.

Pertama kali, jas yang didesain pelantun Pulang ini, dipakainya pada saat Java Jazz 2011. "Dua kali di Panasonic Award 2011 dan yang ketiga kali akau pakai di video klip aku sama ungu �Saat Bahagia� di Film Ungu terbaru berjudul Purple Love 2011," jelasnya. Saat kolaborasi dengan Ungu, wanita lulusan FISIP UI ini bersama dengan pacarnya juga mendesain jas untuk personil Ungu dan mendapat sambutan yang bagus dari masyarakat. "Beberapa temen-temen artis minta juga, gw mau dong suit kayak lo. Keren. Akhrinya aku bikin yang buat cewek, dan baru launch Mei ini," ungkapnya.

Sementara itu, Andien merasa cukup bisnis mode jas saja dulu. Karena, buatnya jas sudah susah buatnya dan tidak bisa asal-asalan. "Kita juga fokus ke kualitas, dan jas itu juga macem-macem banget bentuknya. Tapi kenapa aku milih jas, karena misalnya kalau woman dresses itu sebenarnya itu lebih kayak seasonal gitu, dan orang-orang itu biasanya sudah punya signaturenya masing-masing," paparnya.

Andien memilih jas karena lebih tahan lama dan simpel. "Kalau orang lebih fokus ke satu tempat produksi, ya sudah dia akan bikin disitu terus, karena misalnya cuttingnya sudah enak. Lebih kayak longterm gitu," ujarnya. Tempat menjahit jas-jasnya ini berada di Jalan Kirei No. 14B, Cipete Utara, Jakarta Selatan. "Workshopnya di daerah Darmawangsa," katanya. Untuk proses mendesain, Andien berbagi, bahwa ia tidak menggambar, namun hanya dibayangkan. "Biasanya aku akan ngira-ngira dari sebuah jas yang aku bayangkan, ini lucu banget kalau pakai  bahan ini dan dipadukan dengan ini," ungkapnya.

Sejauh ini, bisnisnya mendapatkan sambutan positif dari masyarakat maupun teman-teman artis. Sampai-sampai ia ditawari oleh penjahit Black Market di Singapura. "Ada toko gitu namanya Black Market dan mereka nawarin untuk buka di sana," katanya. Kedepannya Andien merasa harus ada pembenahan dari marketing dan sisi produksinya.  " Sekarang masih dibenahin, dan masih ngulik jas-jas seperti apa yang bagus, karena permintaan dari customer kadang-kadang macem-macem dan nggak kepikiran di otak aku," terangnya. Ia juga menambahkan bahwa serius menggeluti bisnis barunya ini.

Kemungkinan menggeluti selain jas, Andien mengatakan akan mendesain gaun-gaun untuk wanita. "Kayak dress-dress aku pengennya kerja sama," ujarnya. Namun, untuk pakaian gaun, ia sendiri sebenarnya hanya sebagai penikmat. "Aku nggak mau rancangan aku yang bagus dipakai orang lain, sebel, karena nggak mau sama," katanya. Menurutnya, lain dengan jas, karena pembawaan seseorang yang memakai jas berbeda-beda. "Jas itu bentuknya simpel, tapi itu tergantung attitude," lanjutnya. Mengenai batik yang dipamerkan di Balai Kartini pada saat Hari Kartini bulan lalu, Andien mengkoreksikan bahwa batik itu bukan desainnya, tetapi desain Raden Sirait. 
22 komentar

Terapi Rematik Artritis

Namanya Eva Febriyanti (18) yang bercerita mengenai penyakitnya yaitu rematik artritis. Pelajar SMA ini terdiagnosis penyakit artritis rematoid sekitar tiga tahun yang lalu. Pada waktu itu, yang pertama kali ia rasakan tiba-tiba kaki dan tangan bengkak. Jika ia berjalan dan digerakkan terasa sakit sekali. Kemudian, orang tua Eva membawanya berkonsultasi ke beberapa dokter. Hasilnya menunjukkan perbedaan antara satu dokter dengan yang lain. Bahkan, ada yang menyarankan harus dioperasi, karena ada masalah dengan kelenjarnya.

“Kemudian saya mencoba periksa ke rumah sakit lain dan diminta periksa darah karena takutnya Lupus,” tuturnya. Setelah mendapatkan hasilnya, dokter di Rumah Sakit tersebut menyarankannya untuk bertemu dengan dr. Rachmat Gunadi Wachjudi, Sp.PD-KR  di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung.

Sontak pada waktu itu, ia merasa kaget dan drop. “Karena saya tidak tahu penyakit apa yang saya derita,”ujarnya. Rasa sakitnya, sangat menganggu aktifitasnya sehari-hari. Ia hanya bisa melakukan sholat dalam keadaan duduk, karena ia tidak bisa sujud atau duduk diantara dua sujud. Jalan pun harus perlahan-lahan tidak bisa cepat. Banyak teman-temannya yang mengatakan bahwa cara berjalan Eva aneh.

Jika menuruni tangga, ia harus menggunakan bokong karena tidak bisa menekuk kaki. “Yang sangat menyiksa adalah badan akan terasa sakit dan kaku pada pagi hari ketika bangun tidur dan jam 6 sore, dimana persendian terasa sakit sekali,” terangnya.

Ketika berobat di dr. Rahmat, Eva diberitahu mengenai uji klinis Tocilizumab. Pengobatan reumatoid artritis baru dari PT. Roche Indonesia. “Langsung saja saya tertarik dan setuju untuk mengikuti uji klinis ini, karena saya pengen cepat sembuh,” katanya. Terus terang, Eva merasa frustasi, karena penyakit ini dan ia ingin bisa kembali beraktifitas seperti dulu.

Setelah menjalani infus yang pertama, Eva merasakan perubahan yang sangat baik. Sekarang ia sudah bisa jongkok dan rukuk ketika sholat. Pembengkakan serta rasa sakitnya pun sudah mulai berkurang. Setelah infus yang kedua, akan memasuki infus ketiga, Eva sudah bisa naik turun tangga dan berjalan dengan normal. “Saya bersyukur telah mengikuti uji klinis ini, karena saya ingin kembali normal seperti teman-teman yang lain dan melakukan berbagai aktifitas,” ucapnya penuh syukur. Eva berharap, mudah-mudahan obat ini dapat membantunya, dan juga pasien artritis reumatoid lainnya.

***

Disamping itu, dr. Predy Setiawan, Head of Medical Management, PT. Roche Indonesia, menjelaskan melalui pesan email (20/05) bahwa penyakit artritis reumatoid merupakan termasuk salah satu penyakit yang sulit diobati. Penderitanya pun terbilang banyak. Jika kambuh, penderita tak bisa melakukan aktifitas sehari-hari. Bahkan, bisa membuat orang terbaring seharian di kamar tidur. Untuk menerapinya, para dokter cenderung melakukan bedah dengan mengeluarkan cairan di persendian. Namun, cara ini tak menyelesaikan masalah, karena sewaktu-waktu penyakit itu kambuh kembali.
Adapula yang dilakukan dengan bedah dengan menggantikan daerah yang rusak. Namun, biayanya yang mahal. Sehingga banyak dokter memilih cara terapi dengan obat-obatan. Beberapa obat rematik sudah diciptakan. Salah satunya yang terbaru adalah tocilizumab. “Obat ini telah dipasarkan diluar negeri  (Eropa, US, Canada, Negara-negara di Asia Pasifik), Di Indonesia, obat ini  sedang dalam proses registrasi BPOM untuk dipasarkan,” tuturnya.

dr. Predy menambahkan pula, bahwa saat ini juga sedang dilakukan  uji klinis fase IIIB untuk memberikan kesempatan pada pasien-pasien reumatoid arthritis derajat sedang dan berat. Di Indonesia mendapat terapi lebih cepat dengan obat ini sebelum obat ini dipasarkan.
Studi klinis di luar negeri yang telah dilakukan oleh para dokter adalah menggunakan metode Mixed Treatment Comparisons. Metode ini membandingkan antara Tocilizumab dengan pengobatan standard yang ada pada saat ini (Methotroxate). “Hasilnya respon keseluruhan dari Tocilizumab menunjukkan hasil yang signifikan lebih baik dari obat biologis yang ada sebelumnya,” jelasnya. Selain itu, obat ini ditunjukkan kepada lebih banyak pasien yang mencapai perbaikan ACR 70 yang lebih tinggi dengan terapi Tocilizumab. ACR merupakan kriteria pengukuran keberhasilan terapi menurut American College of Rheumatology (ACR) adalah ACR20, ACR50, ACR70% perbaikan.

Metode ini berjudul Indirect Comparison of Tocilizumab and Other Biologic Agents in Patients with Reumatoid Arthritis and Inadequate Response to Disease-Modifying Antirheumatic Drugs. Uji klinis ini diterima oleh Badan POM Eropa, yaitu EMEA, Global Consensus Initiative for Outcome Measures in Rheumatology (OMERACT) dan Badan Asuransi Kesehatan di Perancis, UK, dan Canada.

Berbeda dengan uji klinis di Indonesia yang dilakukan pada 5 pusat, yaitu RSCM Jakarta, RSHS Bandung, RS Syaiful Anwar Malang, RS Soetomo Surabaya, RS Sardjito Yogyakarta. Menurut dr. Predy, uji klinis ini mendapatkan sambutan yang baik dari para ahli reumatologi. Pasien artritis reumatoid pun ikut serta dalam penelitian ini, karena Tocilizumab menunjukkan efikasi yang baik. Sehingga bekerja cepat dalam menurunkan peradangan yang diderita  oleh pasien artritis reumatoid.

Uji klinis ini memberi kesempatan pada 40 pasien artritis reumatoid yang termasuk pada kategori sedang dan berat. Serta memenuhi kriteria yang sudah diterapkan (kriteria inklusi) tertentu untuk mendapat terapi Tocilizumab selama 6 bulan. “Saat ini sudah ada 25 pasien yang ikut serta dalam uji klinis ini, dan masih akan merekrut pasien lagi,” ungkapnya.

dr. Predy menjelaskan Tocilizumab bekerja di dalam tubuh pasien yang terdapat protein yang berperan kunci dalam reaksi peradangan. Obat ini akan menimbulkan keluhan-keluhan sistemik, seperti kelelahan, anemia, dan lain sebagainya pada pasien artritis reumatoid, yaitu Interleukin-6 (IL-6). Mekanisme kerja obat ini dengan memblok reseptor IL-6. Ketika Tocilizumab berikatan dengan reseptor IL-6, obat ini memblok proses sinyal dan aktivasi gen oleh interleukin-6. Sehingga reaksi peradangan dan keluhan-keluhan sistemik pada pasien artritis reumatoid dapat diatasi.
Efek samping Tocilizumab yang dapat terjadi pada tahap ringan dan sedang. “Tocilizumab mempunyai profil keamanan yang baik,” ujarnya. Efek sampingnya antara lain infeksi saluran nafas atas, seperti batuk dan flu yang terjadi pada 1 dari 10 pasien. Selanjutnya, kemungkinan efek samping lainnya, bisa terjadi pada 1 sampai 10 pasien dari 100 pasien. Misalnya infeksi paru (pneumonia), infeksi herpes simplex mulut atau kulit, infeksi kulit dengan demam dan gemetar, neutropenia yaitu keadaan kadar neutriphil turun, leucopenia yaitu leukosit turun, kenaikan kadar kolesterol, sakit kepala, pusing, tekanan darah tinggi, sariawan, nyeri perut, SGPT meningkat, kulit merah gatal, oedema di kaki bawah, batuk, sesak, kenaikan berat badan dan infeksi mata (conjunctivitis).

Keampuhan dan keunggulan Tocilizumab ini diakui oleh dr. Predy adalah efikasi yang tinggi dan tingkat remisi yang konsisten. Selain itu, obat ini dapat dikombinasi dengan methotrexate (MTX) atau DMARDs konvensional lainnya pada kasus pasien yang tidak dapat mentolerasin terhadap satu atau lebih DMARD sebelumnya atau sebagai monoterapi pada pasien yang intoleransi MTX atau bila MTX tidak bisa dilanjutkan pemberiannya.

DMARD (Disease modifying arthritis rheumatoid drugs) konvensional, yaitu obat perubah perjalanan penyakit arthritis reumatoid yang konvensional seperti methotrexate. Pengobatan monotheraphy adalah pengobatan hanya pemberian satu obat (Tocilizumab) tanpa di kombinasi dengan MTX, karena ada beberapa kasus pemberian obat MTX dapat membuat pasien mengalami kerontokan rambut, nyeri lambung dan fungsi liver terganggu.

 “Semakin lama obat tersebut diberikan, maka semakin cepat efikasinya dan respon klinis yang cepat,” tuturnya. Perlu diketahui, obat ini juga menghambat kerusakan sendi secara baik, dan mengatasi keluhan sistemik pasien artritis reumatoid seperti kelelahan dan anemia.

Tocilizumab ini terindikasi untuk pasien dewasa artritis reumatoid aktif derajat sedang sampai berat. Obat ini akan memberikan hasil yang baik pada pasien artritis dengan peradangan yang berat (hot rheumatoid arthritis). Selain itu juga dengan gejala sistemik yang berat.

Remisi Tocilizumab bila dikombinasikan dengan DMARD konvensional, setelah diberikan 6 bulan adalah 30.6%. Presentasi ini 10 kali lebih besar dibandingkan dengan pasien yang hanya diberikan DMARD konvensional. dr. Predy mengatakan bahwa bila diberikan secara monoterapi, maka remisi sesudah diberikan selama 6 bulan adalaha 33.6%. Presentasi ini, 3 kali lebih besar dibandingkan dengan pasien yang hanya diberikan DMARD konvensional (MTX). “Bila dibandingkan dengan obat-obat biologis lain, respon keseluruhan dari Tocilizumab menunjukkan hasil yang signifikan lebih baik dari obat biologis yang ada sebelumnya,” paparnya. Obat ini pun masih dalam proses regristasi BPOM.

0 komentar

Komunitas Taman Suropati Chamber

KONSER MUSIK BAHASA DUNIA

Sosok kecil, lucu, lugu, dan menggemaskan berbaris masuk ke atas pentas dari balik panggung. Bocah-bocah itu memegang alat musik dawai di tangan kirinya dan yang kanan membawa busurnya. Mereka tampak rapi dan pas mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitam. Semua mata penonton di dalam gedung pun tertuju dan penasaran dengan permainan musik yang akan mereka sajikan.

Itulah penampilan konser musik dari anak-anak Taman Suropati Chamber, bertajuk Musik Bahasa Dunia yang diselenggarakan oleh Komunitas Taman Suropati Chamber (TSC) di Gedung Kesenian Jakarta, pada tanggal 16 Mei 2011, pukul 19.30-22.00 WIB.  Konser musik ini merupakan konser ketiga yang telah diselenggarakan oleh TSC. Harmonisasi nada dalam konser ini dimainkan oleh anak dari usia 4 tahun hingga usia tua, yakni 50 tahun. Sesuai dengan tajuknya, komposisi dari berbagai belahan dunia dimainkan dalam konser ini.

TSC adalah komunitas musik yang didominasi oleh pemain biola. Anggota TSC selalu berlatih pada hari Minggu dari pukul 09.30 hingga pukul 14.00 WIB di Taman Suropati, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat. Saat ini jumlah anggota TSC sebanyak 150 orang dari berbagai usia dan kalangan. Yang terbaru dari TSC ini adalah telah mempunyai 5 pemain dan 5 alat musik Cello. 

Konser dimulai dengan pembuka Sekolah Budhis Ehipassiko BSD yang berjumlah sekitar 19 anak yang masih duduk dibangku sekolah dasar. Anak-anak ini dominan memainkan alat musik Okulele. Pianika dan suling dimainkan satu anak. Selain itu, juga ada alat musik Gitar klasik yang dimainkan oleh dua anak perempuan.

Penyajian kedua dibawakan oleh Kelas Bibit yang terdiri dari anak-anak kecil, rata-rata berusia 4-10 tahun. Mereka dominan menggunakan alat musik Biola dan membawakan lagu Au Clair De Lalune (Perancis) dan Lihat Kebunku (Indonesia).  Kedua lagu tersebut merupakan lagu anak-anak yang terkenal dari masing-masing negaranya.

Penampilan ketiga menampilkan Kelas Akar yang dibawakan oleh usia anak-anak yang akan tumbuh menjadi remaja. Kelas ini menyajikan tiga lagu, antara lain There’s No Night (Amerika Serikat), Cicak di Dinding (Indonesia) dan Rasa Sayange (Maluku). Kemudian, pergelaran keempat disajikan oleh Kelas Batang yang berkolaborasi dengan Sekolah Budhis Ehipassiko BSD.

Kelas Batang ini diisi oleh usia remaja dengan membawakan kompisisi lagu Bingo (Amerika Serikat) dan Eidelweiss (Amerika Serikat diadaptasi dari film The Sound of Music). Setelah itu, penampilan kelima ada penyajian baru dari alat musik Cello. Alat musik ini dimainkan oleh anggota TSC yang sudah dewasa, sebanyak 5 orang, dan membawakan lagu Aria Amoroso (Italia).

Permainan keenam menampilkan Duet Mom and Son dengan komposisi lagu berjudul Concerto No.2 3rd Movement. Setelah penampilan ini, pertunjukkan diistirahatkan selama 15 menit. Kemudian, pertunjukkan kembali dengan menampilkan Double Quartet. Namun, hanya tujuh orang saja yang dapat hadir kala konser itu berlangsung.

Double Quartet tediri dari 4 pemain Cello dan 3 pemain Biola yang menyajikan lagu Eine Kleine Nachtmusik (Jerman) dan 1st Movement. “Tetap saya bilang Double Quartet kurang dikit, sama teman bolehlah,” canda Ages. Selanjutnya, adalah penampilan kedelapan yang menamai grupnya sebagai O. K. Batavia Mood berkolaborasi dengan Regina Maya. Sesuai dengan namanya, O. K. Batavia Mood ingin mencoba menampilkan “Mood” Jakarta.

Grup ini terdiri dari komposisi alat musik keroncong, antara lain Bass, Cello, Gitar Klasik, Okulele, dan Biola. Dalam kolaborasi ini, Regina Maya melantunkan lagu keroncong berjudul Lambaian Bunga. Kemudian, lagu Keroncong Moritsko didendangkan oleh Ages Dwiharso dengan suara merdu, walaupun sedikit serak. “Maaf suara saya agak kurang baik, karena kemarin abis kehujanan,” ujarnya saat rampung berdendang.

“Bunga anggrek mulai timbul, Aku ingat padamu, Waktu kita berkumpul, Kududuk disampingmu; Engkau cinta kepadaku, Bulan menjadi saksi, Engkau telah berjanji, Sehidup semati”.

Itu adalah sepenggal lirik Bunga Anggrek pada bait pertama dan kedua yang dilantunkan oleh Regina Maya penyanyi keroncong asal kota Bandung. Masih diiringi oleh O. K. Batavia Mood, lagu keroncong ini sebenarnya disajikan dalam Bahasa Belanda, Als Die Orchideien Bloeien. Namun, Regina melagukan dalam Bahasa Indonesia. “Bahasa Indonesia aja,” bisik Regina kepada Ages, saat dipanggil ke atas pentas.

Orkes berikutnya disajikan oleh seluruh anggota TSC. Penampilan ini merupakan gabungan dari Kelas Bibit, Akar, Batang, Ensemble Cello, Double Quartet, dan O. K. Batavia Mood. Pertama-tama memainkan lagu Apuse kokondao (Irian Jaya) yang berkolaborasi dengan Sekolah Budhis Ehipassiko.

Selanjutnya Dondong Opo Salak (Jawa Tengah), Janger (Bali), Subaru (Jepang), Doraemon (Jepang), Dahil Sayo (Filipina) kolaborasi dengan Regina Maya, dan El Chumban Chero (Meksiko). Terakhir, konser ini menampilkan Medley yang berkolaborasi dengan penari anak-anak perempuan dari Sekolah Budhis Ehipassiko, antara lain Dolanan Sore-sore (Jawa Tengah), Sidenta (Medan), dan ditutup dengan lagu Nona Manis (Maluku).

Semua personil Konser Musik Bahasa Dunia pun tampil ke atas panggung, dari TSC hingga para pendukung konser. Anak-anak pun masuk ke pentas dengan rapi, karena diatur oleh Bapak-Ibu guru dan pendamping. “Ini pasukan di belakang yang benar-benar menjaga, ayo mau kemana, ayo mau kemana. Kalau Bapak-Ibunya tidak rajin sudah kabur ke sini, ke sana, terbang-terbangan. Akibat perjuangan mereka, saya yakin Bapak-Ibunya besok pagi minta tukang urut,” guyon Ages sambil mengemong bocah-bocah pengisi konser.

***

Komunitas TSC, berdiri Mei 2007, merupakan gagasan berawal dari sebuah keprihatinan Ages Dwiharso (41) atas gaya hidup metropolitan anak-anak Jakarta masa kini. Ia juga prihatin, karena anak-anak Jakarta tidak mengerti lagi lagu-lagu daerah dan tidak bisa memainkan lagi lagu wajib nasional yang pernah membakar semangat para pahlawan. “Mereka lebih asik pergi ke mall. Saya memberikan kegiatan ini dengan konsep rekreatif dan edukatif,” ujarnya dalam prolog di sela-sela konser.

Dalam prolog konsernya dia mengucapkan rasa terima kasih yang mendalam kepada gurunya. “Barangkali ada guru saya, yaitu Bapak Prof. Ponobanu. Malam ini, benar-benar saya mengucapkan terima kasih, karena Bapak telah memberikan kesempatan,” ungkapnya. Ages menceritakan bahwa ia dulu pemusik jalanan dan gurunya itu yang mengapresiasi permainan musiknya.

Ketua TSC yang lahir di Kulon Progo, 7 Mei 1970 ini, ditemui di belakang panggung pada saat konser selesai, mengatakan bahwa konsep yang disajikan malam ini adalah memulai menyapa bahwa negara-negara lain juga punya lagu. Ia juga menuturkan bahwa visi dan misi TSC ialah melestarikan lagu-lagu daerah dan lagu wajib nasional. Keikutsertaan anak dan istrinya, Yasminka (43) di TSC, buat Ages, merupakan sebagai risiko untuk memberi contoh kepada orang lain . “Ya saya mulai dari keluarga saya,” ujarnya.


Pria yang lulus dari sekolah SPG Vanlith Muntilan Magelang, Institut Pono Banoe dengan kelulusan gelar B. Mus. Ed. (Bachelor of Music Education pada tahun 2005 Tahun lalu, mengatakan bahwa TSC sudah mempersembahkan lagu-lagu daerah dan wajib nasional. “Saya mulai mengajak mereka untuk mengenal juga lagu-lagu dari negara lain. Nah makanya tadi ada lagu dari Jepang, filipina, Belanda, Meksiko,” ungkapnya kepada Ageng Wuri R. A. Dari GATRA, Senin (16/05) di Gedung Kesenian Jakarta.

Menurut Bapak beranak lima, yang tiga diantaranya aktif membantu TSC, bahwa hal itu merupakan suatu bentuk bahwa di luar Indonesia ada musik. “Terlebih lagi anggota TSC membawa alat-alat musik dengan bahasa universal, yaitu membaca partitur,” ujarnya. Bagi Ages, anak-anak TSC ketika duduk dengan siapa pun dan dari negara mana pun, mereka akan mampu bergaul dengan satu bahasa, yaitu bahasa musik.

Soal persiapan konser, Ages berbagi, bahwa di taman terbuka, Taman Suropati, TSC melakukan kegiatan dan latihan bermain musik. “Di sana ada burung merpati, ada orang main sepeda dan ada air mancur. Jadi semua itu sudah alam bermain dan rekreasi,” tuturnya. Dengan suasana yang nyaman seperti itu, TSC mampu mendapat peluang untuk memasukkan inti pelajarannya. “Karena mereka sudah rileks dan enjoy,” ujarnya.

Ages juga menambahkan memilih Taman Suropati sebagai tempat belajar dan berlatih, karena mudah dijangkau serta pohon-pohonya besar dan rindang. Kemudian, keamanan terjamin karena termasuk daerah yang berpengamanan khusus. Untuk konser TSC di GKJ sudah tiga kali, ages katakan, sedangkan di Graha Bakti Budaya (GBB) dua kali, terakhir kemarin, tanggal 12 Mei 2011. “TSC juga pernah mendapatkan rekor Muri untuk kategori komunitas musik taman pertama di Indonesia, bahkan di Dunia,” bahasnya. Selain itu juga, konser di Istana sudah dua kali.

Pesan yang disampaikan TSC kepada khalayak, Ages mengungkapkan bahwa TSC berorientasi pada tujuan, yaitu memberikan pendidikan kepada masyarakat dan terutama anggota komunitas. “Meskipun berlatih di tempat terbuka, tidak di ruangan ber-AC, tidak di tempat tertutup, dan di dalam gedung magrong-magrong. Tapi kita mampu melakukan ini dan ada tujuan,” kata Ages.

Setelah anggota komunitas bermain lagu-lagu bagian dunia, Ages berharap akan membuka wawasan mereka. Bahwa semakin banyak mempelajari musik, semakin mudah pula untuk bergaul dengan kawan-kawan dari negara mana pun.

Meski konser TSC yang bertajuk Musik Bahasa Dunia ini terlihat sukses. Namun, ada pula kesulitan yang dihadapi TSC dalam persiapan konsernya.  “Ketika membawakan lagu anak-anak, supaya berkesan lucu. Itu perlu teknik secara khusus,” tuturnya. Menurut Ages, mungkin pada sekolah-sekolah musik yang konservatori, hal itu lumrah adanya. Tetapi, ketika dilakukan di taman, betapa sulit, karena melebur dengan suara kendaraan di kanan-kiri taman. “Campur dengan suara orang yang berlalu-lalang. Di tempat terbuka, kita tahu betapa “noise”nya Jakarta,” curhatnya.

Untuk mencapai teknik semacam itu, kemudian mendengarkan dan mengecek ulang, Ages mengutarakan benar-benar dibutuhkan kerja keras tim. Anggota TSC sampai saat ini berjumlah 150 orang. “Setiap minggu akan bertambah terus, karena animonya sangat baik,” katanya. Ages mengatakan bahwa akan mencari guru-guru tambahan.

Ia juga menghimbau kepada siapa pun yang ingin menjadi relawan untuk mengajar di Taman Suropati dan mempunyai keterampilan musik, silahkan  menghubungi TSC atau dirinya.  “Kalau tertarik untuk membantu kegiatan di hari minggu,sebenarnya kegiatan ini bersifat “charity”,” ungkapnya. Komunitas  ini juga sudah memberikan sumbangsih yang besar untuk mensejajarkan anak-anak dari berbagai golongan dan bangsa.

Alat musik yang dimainkan oleh TSC pada konser ini mayoritas adalah biola. Kemudian cello dan alat-alat yang lain, seperti gitar, piano, okulele, pianika, recorder, gitar elektrik, dan bass. Bagi bapak tiga anak yang juga pengajar TSC, menambahkan bahwa tidak menutup kemungkinan jika ada yang minat untuk belajar vokal dan akan diajarkan. Dalam konser ini, usia termuda adalah  4 tahun dan tertua 50 tahun.

Dikatakan Ages bahwa TSC menggunakan buku pelajaran, yaitu buku panduan dan selalu dicek setiap saat untuk meningkatkan kualitas. Anggota dari komunitas ini dari berbagai usia, anak-anak, pelajar, mahasiswa-i, karyawan, hingga orang tua. Untuk biaya, Ages menuturkan bahwa biaya belajar musik di TSC cukup saweran dan juga menerapkan subsidi silang. “Bagi yang punya uang lebih silahkan, dan bagi yang tidak punya tidak apa-apa, cukup semangatmu yang lebih,” kelakarnya.

Dipaparkan Ages pula bahwa pendamping anak-anak dalam konser ini, sekitar 14 orang. “Sebagian besar mereka masih keluarga saya, karena saya tidak mampu membayar pemusik, guru-guru musik, dan  ada anak saya tiga orang yang mengajar di sini,” jelasnya. Kemudian istrinya, Yasminka, adalah Manajer TSC dan merangkap sebagai asisten Ages. “Istri saya bagian stres, kalau lagi konser seperti ini tensinya bisa sampai 170. Itulah bagian pernak-perniknya mengajari anak-anak dan kesanggupan kami,” curhatnya.

Seperti yang telah diketahui, TSC juga melakukan kerja sama dengan sekolah-sekolah. Dalam konser ini, menampilkan tarian dari Sekolah Budhis Ehipassiko. Tarian diringi oleh TSC dengan musik medley yang telah dijelaskan di atas pada penutup konser. Enam bocah yang masih berumur sekitar 4-5 tahun menari dan berputar mengikuti irama musik. “Ehippasiko adalah sekolah yang kita datangi untuk sosialisasi musik keroncong. Karena mereka tertarik dengan program ini, kemudian mereka ikut konser,” ujarnya.

Selain itu, TSC juga pernah melakukan kerja sama dengan kelompok keroncong lain. “Contohnya tahun lalu, kami berkerja sama dengan Keroncong Tugu Junior,” katanya. Bagi Ages, TSC tidak menutup diri untuk melakukan kerja sama dimasa yang akan datang. “Mungkin tahun depan kita akan bekerja sama dengan yang lain lagi dan belum tau dengan siapa, kita lihat nanti,” lanjutnya.

 ============================================================================================

Dari Orkes Musik di Taman Suropati, Hingga Simfoni Megah

Siang hari di Taman Suropati, cuaca tidak cukup bersahabat. Hujan membelai rumput hijau dan jalan setapak. Semua basah dan lembab, tapi menimbulkan rasa segar dan sejuk. Sepasang merpati pun menyusup dalam sangkarnya, seperti menikmati suasana nyanyian gerimis. Pohon-pohon rindang menjulang bagai penjaga yang berlindung di bawahnya .

Semua orang mencari perlindungan. Seakan tidak ingin basah dan takut air. Namun, berbeda dengan sekumpulan orang dari anak-anak hingga dewasa yang membawa musik berdawai. Alat itu benar-benar dijaga dan dimasukkan ke rumahnya terlebih dahulu. Mayoritas mereka berlindung di bawah atap, seperti saung terbuat dari kayu. Ada pula bapak-bapak memegang payung dengan menggendong cello dipunggungnya. Di bawah kakinya bersandar biola yang dibungkus oleh rumahnya dan tak lupa dipayungi.

Sejenak mereka berlindung, setelah sebelumnya berlatih memainkan nada-nada dengan biola. Disamping anak-anak itu, orang tuanya pun membasuh dan memberikan seteguk dan dua teguk air. Terdengar candaan dan tawa satu sama lain yang menghangatkan cuaca dingin. Terlihat pula anak laki-laki bermain dengan gerimis dan berguling di rumput dekat saung.

Hujan itu hanya sekejap. Matahari pun masuk menembus daun, ranting, dan dahan pohon hingga menyentuh rumput yang basah. Segera semua orang yang berlindung di saung itu pun bergegas keluar. Semua siap kembali dengan membawa buku yang tertulis partitur nada dan alatnya masing-masing.

Di atas susunan lantai batu yang lumayan lapang, terlihat seorang bocah laki-laki yang mirip boboho. Begitu serius pandangan Abraham Aditya T. Tansil mengaplikasikan nada pada biolanya. Tangan bocah berusia 11 tahun ini mahir menggesek biolanya. Sesekali, ia mengecek ke buku panduan di depannya untuk memastikan gesekannya tidak salah. Didampingi ibundanya, Theresua Maria, dan ayahnya, Aleksander, Abraham merupakan salah satu anak diantara ratusan anak lainnya yang berlatih musik biola di Taman Suropati, Minggu (22/05).

Abraham yang lahir di Jakarta, pada tanggal 22 Nopember 2000 ini merasa senang bisa bergabung dengan TSC, karena memiliki banyak teman.  Siswa  Sekolah Dasar Santo Yosep, Dwi Warna ini menceritakan permulaan bisa bergabung di TSC sejak kenaikan ke kelas 3. Pada saat liburan ia berjalan-jalan ke Taman Suropati bersama dengan Ibu dan Ayahnya. Pada minggu pertama ia turun. Minggu kedua meminta dibelikan biola, kemudian diukur. Lanjut minggu ketiga dibelikan biola dan datang ke Taman Suropati untuk langsung latihan.

“Di sini biolanya distem dulu, digesek-gesek, latih pegang bahu. Dulu aku pakai yang setengah, ini sudah ¾,” celotehnya.  Bocah kelas 5 SD ini, senang belajar di TSC karena juga sering konser di pelbagai tempat. “Ke duta besar Amerika, ke kantor presiden juga pernah yang di istana itu, sama Taman Ismail Marzuki. Ke rumah duta besar Singapura juga pernah,” tuturnya.

Di TSC, Abraham sudah duduk di bangku kelas ranting senior. Dikatakan Abraham, bahwa kesulitan belajar musik di TSC tidak terlalu banyak. Karena pengajar dan kakak-kakak TSC yang sangat membantu dalam mempelajari alat musik biola. “Suka diisengin sama kakak pengajar. Kadang-kadang suka dikelitikin,” ujarnya.

Bocah anak tunggal ini paling suka sama pengajar kelas Akar, namanya Kak Grendi. “Kak Grendi suka ngajak main aku dan bercanda,” katanya. Selain main biola, ia juga bisa bermain Piano atau Orgen yang ia pelajari di Piano Gaia. Pada saat konser (16/05) di GKJ, ada dua guruku yang datang melihatnya. “Kata mereka aku hebat. Trus abis itu aku masuk koran dan aku kasih Ibu guru,” lanjutnya.

Abraham pernah bercita-cita menjadi Astronot dan Insinyur. Namun, setelah dia bergabung ke dalam komunitas TSC. Dirinya semakin mencintai dan menyukai musik terutama biola. Sehingga, membuat dirinya bingung dan belum tau jika kelak besar mau jadi apa. “Kalau sekarang mau belajar musik dulu, jadi pemusik yang baik. Kalau nanti kuliah, kan pasti manggung. Bisa nambah uang jajan sama kasih Ibu,” tutupnya.

***

Sementara itu, Ages mengatakan jumlah peserta TSC saat ini sebanyak 150 orang, yang terbagi dalam kelas-kelas. “Antara lain kelas bibit, akar, batang, dahan, dan ranting,” ungkapnya kepada Ageng Wuri dari Gatra, Minggu (22/05) melalui percakapan telepon genggam, karena dirinya sedang berkeroncong ria bersama keroncong Tugu di Lampung, Sumatera.

Dikatakan Ages, bahwa alat-alat yang dipelajari di TSC selain biola adalah cello, biola alto, dan flute. Untuk biaya perbulan, Ages mengungkapkan hanya cukup merogoh kocek 150 ribu. “Murah dan itu untuk transportasi guru-guru sekitar 9 orang, antara lain biaya copy partitur, operasional, persiapan konser, dan juga biasanya memakan biaya produksi untuk promo, dan lain-lain,” paparnya.

Tenaga pengajar, tambah Ages, adalah bersifat kerja sosial dan untuk biaya hanya dengan penggantian transportasi. Ia memiliki mimpi untuk TSC, agar suatu kelak nanti TSC akan dijadikannya Konservatori Outdoor. “Tekad saya ingin membangun generasi yang cinta budaya, nasionalis, dan punya daya saing yang tinggi terhadap bangsa-bangsa lain,” lanjutnya.

Berkat hasil keliling luar negerinya, Ages dapat hibahan alat musik seperti biola dan cello. Namun, ada kendala, karena hibahan itu butuh proses dari pihak bea cukai. “Itu seperti impor barang, yang saya dengar harus bayar ke bea cukai, duit dari mana saya,” ungkapnya.

Disinggung konser kemarin di GKJ (16/05), dikatakan Ages konser tersebut adalah konser kepercayaan oleh GKJ. Karena, TSC sudah mencapai kapasitas tertentu, dengan kata lain profesional. “Ada orang yang konser di GKJ, bagus tapi bayar. Kalau kita jual tiket, separo dianggap profesional, karena sudah dianggap menghasilkan uang untuk gedung kesenian,” tuturnya.

Meskipun pemasukan konser sedikit, sekitar Rp. 2.000.000,- tapi biaya produksi konser TSC di GKJ minggu lalu tertutupi, seperti pendanaan brosur,  poster dan lain sebagainya. “Kadang-kadang juga gaji saya di tempat juga untuk tambahan, dan untuk membayar fotografer dan yang membantu, jadi kalau mau tau, ya memang begini,” jelasnya.

Pria yang juga pernah mendapatkan beasiswa oleh Graudate School, Washington DC, dalam International Visitor Leader Program (ILVP) sama seperti yang didapatkan Megawati dan Gusdur, berharap bahwa TSC bisa menuju sebuah orkes simfoni yang megah dengan alat-alat yang lengkap. “Kemarin itu masih chamber, jadi orkestra gesek. Bahkan, orkestra gesek pun belum, karena altonya masih sedikit, kalau altonya sudah lengkap, nanti ditambah flute dan clarinet. Kemudian, berlanjut ke terompet, trombon, dan sebagainya. Maka akan menjadi simfoni,” bayangnya.

Untuk menuju sebuah orkes simfoni, diakui Ages perlu butuh banyak waktu. “Namun, mungkin tahun depan saya dengan TSC akan menyelenggarakan konser musik orkes chamber dengan alat musik tradisional dari setiap daerah di Indonesia,” paparnya.

Misalnya, tutur Ages, alat musik daerah Jawa, yaitu gamelan yang masuk terlebih dulu, kemudian baru orkestra yang masuk. Pada tahun depan, Ages murni akan mempersembahkan sesuatu yang sifatnya varian musik dari Nusantara dengan ciri khasnya masing-masing. “Tahun depan akan bertempat di GKJ, tapi belum tau tanggal dan bulan apa,” ungkapnya.

Saat ini, Ages sendiri mempunyai tanggung jawab untuk mengembangkan keroncong dan kebetulan dia diangkat sebagai ketua Perhimpunan Artis Musik Keroncong Indonesia (HAMKRI ) untuk wilayah Jateng dan Jakarta Barat. “Mungkin nanti TSC akan membuat semacam festival untuk anak-anak. Pemain biola dan flute diiringi musik keroncong harus membawakan musik keroncong yang utuh. Ini lebih akurat untuk mengkader musik keroncong sudah lebih akademis dan lebih terakreditasi,” lanjutnya.

***

Suksesnya sebuah organisasi atau komunitas tertentu merupakan dukungan dari orang-orang di balik layar yang mengurusi manajemennya. Suprapto, asisten manajemen TSC, mengatakan bahwa tidak ada kesulitan berlatih musik di taman yang banyak suara bising. “Kalau kita latihan di luar, itu harus membutuhkan power yang kuat, jadi suaranya harus lebih kencang dari suara lain,” ujarnya kepada Ageng Wuri dari Gatra, Minggu (22/05)

Menurut Prapto, ketika sudah latihan di taman, anak-anak akan terbiasa dengan suara mobil dan paling tidak suaranya sama dengan itu. Sehingga, ketika main di gedung powernya sudah lebih kuat. Kendalanya tidak ada, justru malah harus ekstra latihannya .

“Kalau untuk konser, latihan seminggu sekali saja di sini, nah kalau untuk lagu-lagunya itu sebulan sudah dipersiapkan dan dipelajarin serta di sana sudah gladi bersih,” paparnya. Pria yang juga berasal dari pemusik jalanan ini juga menambahkan bahwa pada saat gladi bersih tidak semua lagu yang dimainkan. “Pas hari Hnya, gladi bersih  hanya bloking dan memainkan satu lagu saja,” katanya.

Dikatakan Prapto pula bahwa untuk mengatur anak-anak peserta TSC merupakan tantangan tersendiri. Jika peserta dewasa mudah diintruksikan, beda dengan anak-anak yang tentunya cukup susah dan perlu siasat khusus. “Kadang-kadang di barisan belakang, kalau konser, mereka ada yang berisik, bercanda, dan suaranya bisa tembus ke depan dan mengganggu penonton juga,” tuturnya.

Untuk yang kelas bibit, Prapto bercerita, pada saat konser, mereka dimainkan pertama dan selanjutnya dikumpulkan di ruang ganti. “Kita masukan ke situ ada yang jaga. Mereka boleh bercanda disitu tapi suaranya tidak boleh terlalu keras juga. Jadi sudah kita bagi, siapa yang untuk menangani anak-anak yang bercanda, siapa yang mengatur bangku dan setting di panggung,” jelasnya.

Sementara menurut Prapto, motivasi pengajar TSC, untuk menunjukkan kepada peserta bahwa alat musik biola itu tidak hanya diperuntukkan bagi anak-anak menengah ke atas. Kelas menengah ke bawah pun bisa menikmati. “Seorang guru pasti ada perasaan terpanggil jiwanya, untuk mengajarkan muridnya,” katanya.

Dipaparkan Prapto bahwa untuk pendaftaran menjadi murid TSC, syarat-syaratnya hanya foto copy KTP orang tua, jika masih anak-anak. Atau identitas pelajar dan pas photo 4x6 berwarna sebanyak dua lembar. Serta uang pendaftaran sebesar Rp. 300.000,- dan biaya perbulan Rp. 150.000,-. Namun, jika ada yang tidak mampu, tapi ingin belajar biola, bisa berbicara langsung dengan Ketua dan Sekertaris atau manajer  TSC.

Untuk buku pedoman mengenai teknik bermain biola dan nada-nadanya, Prapto katakan, TSC pun sudah punya. “Kita di sini punya buku sendiri yang disusun oleh Bapak Madong dan Mas Ages,” ujarnya. Buku pedoman TSC berisi teknik-teknik bermain biola, teknik gesekkan yang benar dan nada-nada atau not balok sebuah aransemen. “Untuk lagu-lagunya itu Mas Ages yang buat Aransemennya. Kelas bibit, notasinya disesuaikan dengan kemampuannya. Jadi misalkan untuk kelas bibit, Mas Ages nyari nadanya yang kisaran 1 oktaf itu saja,” ungkapnya.

Prapto juga menuturkan bahwa latihan di taman ada keuntungannya, karena latihan dilihat pelbagai macam orang yang datang, dan secara tidak langsung sudah melatih mental anak-anak. “Beda lagi kalau latihannya di gedung, yang nonton hanya temen-temennya, begitu di panggung grogi,” ujarnya. Sampai saat ini TSC belum menciptakan lagu sendiri, karena masih sesuai dengan visi misinya melestarikan lagu-lagu daerah dan nasional.

“Sampai saat ini di TSC kelas hingga ranting, namun setelah itu masih ada kelas bunga dan buah dan belum diisi oleh peserta, karena masih menunggu kenaikan kelas dari kelas ranting,” ungkapnya. Setelah lulus dari TSC masing-masing anak dibebaskan dan disesuaikan dengan keinginan mereka. “Mau mengajar di sini atau masih mau belajar di sini, itu silahkan. Konser di istana sudah dua kali, pertama acara parade senja dan hari pendidikan nasional,” ujarnya.

Seperti telah diketahui TSC memiliki tim keroncong, bernama Batavia Mood.  Keroncong TSC ini dibentuk setelah TSC berjalan pada tahun 2009.  Keroncong ini dibentuk untuk kombo dari TSC. Latihannya setiap hari selasa dan jumat, di Sanggar TSC di Jalan H. Marzuki No. C 29 Kemanggisan, Jakarta Barat. “Anggota keroncong yang memainkan hanya para instruktur di TSC. Setelah hari minggu kalau mereka selesai mengajar, istirahat sebentar, mereka mulai lagi dengan main keroncong,” tutur Prapto.

Prapto mengutarakan bahwa untuk saat ini, masih banyak pemuda yang kurang minat terhadap musik keroncong. Karena, masih mengganggap bahwa musik keroncong lagu yang bikin ngantuk. “Padahal tidak juga, kalau orang sudah mengerti keroncong, akan bikin ketagihan. Dan keroncong sendiri tidak hanya dimainkan kalem, tapi juga bisa ngebeat,” tegasnya.

Menurut Prapto yang juga memegang elektrik bass, di Batavia Mood, alat musik keroncong di TSC sudah lengkap semua. Bahkan, tutur Prapto, kalau di panggung sudah memenuhi standar. “Maksudnya, kalau di panggung ada juga yang masih ditodong microphone, tetapi keroncong TSC tinggal colok semua. Mau dimainkan akustik bisa, dimainkan sound tinggal colok saja,” jelasnya. Sedangkan, untuk Konga atau Jimbe disesuaikan dengan lagu yang ingin dibawakan. “Kalau yang dikonser kemarin lagunya tidak membutuhkan konga, karena mendayu-dayu,” ujarnya.

Keroncong Batavia Mood beraliran modern keroncong. Konsep tersebut diakui Prapto, agar anak-anak muda masa kini tertarik musik keroncong. Lagu-lagu yang dimainkan pun yang anak muda banget. Misalnya, seperti lagu-lagu rock, top fourty, gun and roses, california, kitaro, dan lain sebagainya. “Itu kita aransemen lagi dengan musik keroncong,” lanjutnya.





Selasa, 29 Maret 2011 0 komentar

Ichsan: Saya Memang ikut ke Tanjung Priok

Ichsan Soelistio anggota Komisi 3 membenarkan bahwa ia ada di dalam bis ketika bersama anggota komisi 3 yang lain melakukan sidak ke Bandara Soekarno Hatta yang kemudian mendadak berbelok ke Tanjung Priok. Pada hari Selasa pukul 09.00 di ruang kantornya, Nusantara 1 DPR, yaitu 703 beliau menceritakan kronologis kejadian disana yang ia lihat dan dengar.


“Saya akan menceritakan kronologis kejadiannya yang saya ketahui. Sidak ke Bandara Soekarno Hatta, setelah selesai kita naik bis, di perjalanan tiba-tiba ke Tanjung Priok, ya sudah saya ikut saja karena sudah di dalam bis. Sampai disana saya sendiri terus terang tidak mengikuti rapat dan tidak di dalam ruang rapat itu. Jadi apa pun pertanyaannya itu saya tidak tahu,” jelasnya.

Waktu rapat tersebut dibuka Ichsan tidak mengikuti dan setelah itu keluar. “Jadi saya diluar saya ngobrol dengan Kapolres KP3. Jadi apa pun pertanyaan disitu saya tidak tahu. Setelah itu saya pulang,” ujarnya.

Dirinya memang mengaku ada di dalam bis dan ikut berbelok ke Tanjung Priok, tetapi dia tidak mengetahui apa tujuan tiba-tiba berbelok ke tempat tersebut. Dia hanya mengikuti saja dengan rombongan yang telah melakukan sidak ke Bandara Soekarno Hatta. “Saya memang ada di bis tetapi saya tidak ikut rapat dengan Bea Cukai di Tanjung Priok itu. Karena kan saya pikir tidak enak berangkat sama-sama pulang sama-sama dong. Lalu bisnya mendadak ke Tanjung Priok. Ya kalau sudah sampai sana, saya ya diam saja,” tambahnya.

“Kalau saya hanya menganggap silahturahminya. Setelah salaman rapat dibuka saya keluar. Tentang pertanyaan yang ada di dalam rapat saya tidak mengetahui. Baru setelah beberapa lama kepala Bea Cukainya masuk. Itupun saya ketemunya di luar,” paparnya.

Ichsan Soelistio memang ada di dalam bis hingga berbelok ke Tanjung Priok tetapi dia lihat hanya rapat di kantor Bea Cukai. “Tidak ada yang namanya peti kemas berisi BB dan Miras, yang dilakukan hanya rapat setelah itu selesai pulang kembali lagi ke DPR. Tidak ada pertemuan terkait dengan peti kemas BB dan Miras. Saya tidak mengetahui isi rapat kalau tidak percaya tanya Kapolres KP3, saya diluar ruangan,” ujarnya.

Ichsan juga menambahkan di Bandara Soekarno Hatta memang ada barang-barang bukti ketika penyidakan. Tetapi di Tanjung Priok yang ia lihat sama sekali tidak ada kegiatan penyidakan dan peti kemas berisi BB dan Miras. “Tidak ada kegiatan yang berhubungan dengan penyidakan atau menemukan peti kemas tersebut, yang dilakukan hanya rapat, itu saja yang saya lihat,” tambahnya lagi.

Mengenai siapa yang mengusul untuk berbelok ke Tanjung Priok, Ichsan tidak tahu menahu siapa orangnya, karena ketika berada di dalam bis dia duduk di bangku paling belakang. “Yang mengusulkan mampir ke Tanjung Priok saya tidak begitu jelas siapa orangnya. Karena saya duduk di bagian belakang. Dan tiba-tiba ada usulan ke Tanjung Priok dan saya ikut saja karena udah kadung duduk dan sudah di dalam bis. Karena kan berangkat sama-sama pulang sama-sama. Kalau tiba-tiba belok ya harus ikut dong, masa tiba-tiba pulang sendiri. Soal yang mengusulkan saya tidak tahu, wacana itu begitu saja muncul di bis dan tiba-tiba belok,” jelasnya.

Soal agenda di dalam rapat dengan Bea Cukai di Tanjung Priok, Ichsan tidak mengetahui, karena tidak berhubungan dengan tugas kantor. “Saya tidak mengikuti rapat itu, karena saya tidak mengetahui agendanya dan bukan urusan kantor,” katanya.

Soal laporan ICW ke BK DPR, Ichsan tidak mau banyak komentar karena tidak mengetahui isi dari laporan ICW kepada BK DPR. Namun, jika ditanya sebagai bagian yang ada disitu, ia menegaskan tidak begitu jelas, karena yang ia lakukan hanya sampai pada Bea dan Cukai. “Saya tidak mengetahui soal isi Laporan ICW kepada Badan Kehormatan (BK) DPR, kan Bapak Nurdiman Munir selaku Wakil BK DPR dan Bapak Marzuki sudah bicara soal laporan tersebut. Tapi jika saya ditanya sebagai bagian yang ada disitu saya juga tidak jelas, karena saya cuma sampai di kantor Bea Cukai, saya hanya silahturahmi saja dan tunggu di luar,” jelasnya.

Sekali lagi dia menegaskan bahwa tidak bisa komentar banyak, karena pertanyaan satu pun di dalam tidak ia ketahui dan tujuan kesana pun tidak ia ketahui dan tidak mengerti serta tidak ikut rapat. “Cuma ya seperti saya bilang tadi saya terbawa dan sudah di dalam bis,” katanya.

Ichsan menjelaskan bahwa agenda resmi utama pada waktu itu adalah sidak ke Bandara Soekarno Hatta. “Saya diminta Poksi untuk melakukan sidak bersama yang lain ke Soekarno Hatta, ya saya ikut. Pulangnya naik bis lagi ya saya ikut, eh ternyata belok. Jadi saya kalau ditanya apa agenda dan apa yang dilakukan saya mohon maaf karena apa yang saya lihat ya seperti itu tadi yang saya katakan,” ujarnya.

Dia membenarkan anggota yang ikut di dalam bis itu ada Nudirman Munir (Golkar), Aziz Syamsuddin (Golkar), Eddy Sadeli dan Edi Ramli Sitanggang (Demokrat). “Kalau orang-orang itu memang ikut, tetapi saya tidak mengetahui materinya apa. Mengenai perbedaan pendapat antara Eddy Sadeli dan Edi Ramli Sitanggang saya tidak bisa komentar,” tegasnya.

Ichsan juga menceritakan pada waktu berangkat ada anggota yang di bis dan di mobil, tapi lebih tepatnya dia tidak begitu ingat dan pasti. Ichsan dapat mengkonfirmasi jumlah orang yang hadir di Cengkareng lebih banyak jumlahnya dari pada yang di Tanjung Priok. “Saya tidak ingat. Tapi yang jelas waktu di Cengkareng lebih banyak orangnya tetapi waktu di Tanjung Priok lebih sedikit orangnya. Saya sudah tidak perhatikan lagi karena saya tidak ikut rapat, saya juga tidak tahu. Sekali lagi ya lebih sedikit dari yang dari Cengkareng. Lebih tepatnya saya tidak tahu karena sudah lama sekali, sudah 2 bulan yang lalu pada tanggal 10 Januari,” tutupnya.
Rabu, 09 Maret 2011 0 komentar

Gayus Lumbuun: Ibu Mega Tetap Tidak Hadir Walau KPK Panggil Berkali-kali (Rabu, 23 Februari 2011)

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri tidak memiliki relevansi apa pun menyangkut kasus dugaan suap pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda Goeltom.

“Ibu Mega bukan orang yang berkaitan dengan dugaan kasus yang terjadi di DPR, sehingga tidak layak dijadikan sebagai saksi. Sebab, seperti yang di­je­laskan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), ketentuan saksi haruslah orang yang mendengar, melihat dan mengalami sendiri,” ujar Ketua Departemen Bidang Hukum DPP PDI Perjuangan, Gayus Lum­buun, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.

Selain itu, lanjut anggota Komisi III DPR tersebut, tidak me­menuhi syarat formil dan materil untuk menetepkan Mega sebagai saksi dalam kasus itu.

Seperti diberitakan sebelum­nya, KPK memanggil Megawati sebagai saksi untuk meringankan dalam perkara dugaan suap pe­milihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda Goel­tom. Itu atas permintaan ter­sangka Max Moein dan Poltak Sitorus.

Mega hanya mewakilkan ke­pada Sekjen PDI Perjuangan Tjahjo Kumolo yang ditemani anggota DPP PDI Perjuangan Bidang Hukum Trimedya Panjai­tan untuk datang ke KPK, Senin (21/2). Kedatangan Tjahjo Kumolo sudah cukup untuk me­ringan­kan kasus tersebut.

“Saya pikir Tjahjo Kumolo se­laku Ketua Fraksi PDI Per­jua­ngan DPR dan Sekjen PDI Perjuangan sudah cukup untuk meringankan perkara tersebut,” ucap Gayus Lumbuun.

Berikut kutipan selengkapnya:

Apa yang dititipkan Mega ke­pada Tjahjo Kumolo?
Ibu Mega mengirim surat ingin menjelaskan bahwa beliau tidak bisa terbuka sebagai saksi yang meringankan. Sesuai ketentuan dari pasal 1 butir 27 KUHAP ha­rus­lah orang yang mendengar, melihat, mengalami sendiri. Ibu Mega bukan orang yang berkai­tan dengan dugaan kasus yang terjadi di DPR.

Apa benar Mega tidak me­nger­­ti masalah dugaan suap itu?
Ya, Ibu Mega tidak tahu. Itu kan di wilayah DPR. Ibu Mega ketika itu menjadi Presiden. Jadi, tidak tahu adanya dugaan suap itu.

Max Moein dan Poltak Sito­rus adalah kader PDI Perjuang­an, sehingga tidak ada salahnya Mega memberikan kesaksian untuk meringankan, kenapa di­tolak?
Siapapun orang yang meminta­nya sebagai saksi tentu Ibu Mega bersedia. Kalau beliau berkaitan. Sedangkan ini tidak berkaitan dengan Ibu Mega. Makanya su­dah pas diwakilkan kepada Tjahjo yang mengetahui soal kondisi DPR ketika itu. Lalu Ibu Mega menitipkan surat.

Apa isi surat tersebut?
Isinya adalah Ibu Mega tidak bisa menjadi saksi yang me­ringankan untuk kasus ini. Karena atas dasar KUHAP tadi, Ibu Mega bukan orang yang terkait dalam dugaan kasus yang terjadi di DPR. Surat itu juga me­minta KPK untuk memper­tim­bangkan pemanggilan Ibu Mega yang tidak pada kedu­du­kannya.

Kami menghormati proses penegakan hukum yang dilaku­kan KPK dengan memberikan kesempatan kepada tersangka untuk  menghadirkan saksi me­ringankan sebagaimana di atur dalam pasal 116 ayat (3) KUHP. Hanya saja kami meminta KPK selektif dan harus mengkaji betul apakah terhadap saksi meringan­kan yang dimintakan tersangka sudah memenuhi syarat syarat formil dan materil seba­gaimana diatur dalam pasal 1 butir 27 KUHAP.

Apakah Tjahjo Kumolo su­dah pas menjadi saksi meri­ngan­kan dalam perkara ini?
Ya, itu sudah pas. Sebagai Ke­tua Fraksi PDI Perjuangan tentu mengetahui apa yang terjadi di DPR ketika itu.

 Apa PDI Perjuangan tidak khawatir adanya penilaian ne­gatif atas ketidakhadiran Mega sebagai saksi?
Nggak perlu dikhawatirkan. Orang yang menilai seperti itu berarti tidak mengetahui aturan hukumnya. Kalau tahu aturan hukumnya, tentu tidak menilai seperti itu.

Bekas Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla pernah me­nyatakan kalau dia dalam posisi Mega, tentu siap datang ke KPK, bagaimana tanggapan Anda?
Tentunya masing-masing orang memiliki keterkaitan yang berbeda-beda. Pak Jusuf Kalla mungkin ada keterkaitan dan mempunyai kaitan dan mema­hami perkara ini. Semua saksi harus berkaitan dengan kedudu­kannya. Ibu Mega tidak berkaitan dengan kedudukannya dalam masalah ini. Pasti ada perbedaan-perbedaan. Tidak bisa dianggap semua sama. Ini bukan soal mau atau tidak mau untuk datang ke KPK. Bukan itu ukurannya. Pak Jusuf  Kalla mungkin mengalami, melihat, dan mendengar sendiri. Ibu Mega tidak dalam takaran itu, beliau bersih.

Walau KPK  minta lagi agar Mega datang sebagai saksi me­ringankan, tetap nggak datang ya?
Ya, tetap tak hadir walau KPK panggil berkali-kali, karena Ibu Mega bukan orang yang tahu dan terkait dengan masalah itu. Bukan ka­pasitas beliau untuk hadir, karena kapasitasnya tidak pas untuk memberikan kete­rangan­nya se­bagai saksi me­ringankan dalam perkara ini.

Bagaimana kalau KPK mela­kukan pemanggilan paksa?
Alasan mereka untuk pe­manggi­lan paksa apa. Semua ha­rus jelas kepentingannya. Sebe­rapa penting mendatangkan be­liau, itu harus dipertanyakan ke­pada KPK. (Wawancara saya dengan Gayus Lumbuun)
0 komentar

Sri Woro Budiati Harijono: Gempa Bumi Skala Kecil Diperkirakan Terus Terjadi (Minggu, 27 Februari 2011)

Selama Februari 2011 ini sudah 27 kali terjadi gempa bumi skala kecil di wilayah Indonesia. Kondisi seperti ini diperkirakan bakal terus terjadi.

“Gempa berskala kecil diper­kirakan bakal terus terjadi. Tapi ka­lau gempa berskala besar be­lum dapat diketahui,’’ ujar Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Sri Woro Budiati Harijono, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta.

Tapi, lanjutnya, masyarakat tidak perlu khawatir, karena tidak berpotensi tsu­nami karena gem­panya tidak ber­kekuatan besar. Kecuali di daerah yang rawan gempa serta yang memiliki his­tori gempa yang berkelanjutan.

“Tapi di daerah yang pernah terjadi gempa yang berskala besar perlu diwaspadai. Sebab, bisa saja terulang kembali,” tam­bahnya.

Berikut ku­tipan se­lengkapnya:

Daerah mana saja yang ra­wan terjadi gempa bumi ber­skala kecil itu?     
Sebenarnya hampir semua wilayah di Indonesia berpotensi untuk gempa bumi berkekuatan kecil. Tapi yang rawan adalah meliputi Barat Daya Sumatera, Selatan Jawa, Bali, Nusa­ Tenggara, Maluku, Sulawesi, dan Papua.

Tapi masyarakat tidak perlu khawatir, karena tidak berpotensi tsunami dan tidak berkekuatan besar.

Tahun lalu berapa kali ter­jadi gempa bumi di negeri kita?
Menurut grafik frekuensi gempa bumi yang terjadi tahun 2010 untuk 4,9 skala ricther su­dah terjadi 5.721. Pada tahun ini kemungkinan masih sama atau bahkan lebih.

Apakah ada indikasi untuk gempa berkekuatan besar?
Untuk jangka pendek ini bisa diketahui kapan akan terjadinya. Tapi kalau  dalam jangka panjang bisa diperkirakan bahwa di daerah yang pernah terjadi gempa besar, berpeluang terjadi kembali.

Mengapa gempa skala kecil sering terjadi akhir-akhir ini?
Gempa-gempa kecil terjadi hampir sepanjang tahun, data menyebutkan di Indonesia jum­lah gempa bumi terjadi antara 3.000 sampai 4.000 per tahun. Rata-rata 10 kejadian per hari. Bahkan tahun lalu mencapai 5.721.

Gempa-gempa tersebut hanya terdeteksi oleh seismograph saja. Sedangkan yang dirasakan di atas 5,5 skala richter, sekitar 100 kali per tahun.

Bagaimana BMKG menyi­kapi hal ini?
BMKG mengoperasikan 160 sensor seismic yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia plus sekitar 20 sensor seismik yang terbagi atas 6 mini regional dan dimonitor 24 jam sehari.

Dengan demikian, kejadian-kejadian gempa di Indonesia akan selalu terpantau . Meski demikian ada daerah-daerah yang mag­nitudo gempanya di bawah 3 skala richter, sehingga tidak bisa dimonitor dengan baik dengan jaringan BMKG. Dalam hal ini jika terjadi secara spesifik, maka BMKG akan mengirim tim survei gempa untuk memonitor ke lokasi tersebut. Contohnya ka­sus gempa bumi Trenggalek.

Apakah sudah dilakukan im­­bauan ke masyarakat yang ber­ada di daerah rawan gempa?
Sosialisasi untuk menghadapi gempa bumi sudah banyak di­laku­kan. Tidak hanya melibat­kan BMKG, namun juga insti­tusi lain seperti LIPI, ESDM, perguruan tinggi dan dilakukan melalui talk show, kunjungan ke sekolah, temu muka, juga la­tihan-latihan.

Pada dasarnya gempa itu sen­diri tidak membunuh, tetapi adanya korban karena keruntuhan bangunan yang kondisinya tidak cukup baik untuk tahan terhadap guncangan gempa. Maka, di­imbau kepada masyarakat, agar jika membangun rumah atau fasilitas umum dapat mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan oleh pemerintah setempat, ten­tang aturan membangun di wila­yah itu. Masyarakat harus mengerti dan memahami tentang gempa bumi dan dampaknya, serta cara meyelamatkan diri.

Apakah gempa bumi ber­skala kecil ini akan terus ter­jadi?
Gempa bumi akan selalu ter­jadi selama dinamika dalam bumi (terjadinya pergerakan relatif antar lempeng tektonik) masih terjadi. Tidak hanya ter­batas pada gempa kecil, namun juga gempa besar dan gempa dahsyat.

Apakah sudah bisa dipre­diksi gempa bumi yang ber­dam­pak tsunami?
Gempa bumi yang berpotensi me­nimbulkan tsunami adalah gempa bumi besar dengan kri­teria: terjadi di laut, magnitu­denya 7,0 skala richter ke atas, dan kedala­man sumber gempa­nya kurang dari 100 km. Dengan demikian, gempa-gem­pa kecil dengan mag­nitude ku­rang dari 5,0 tidak ber­potensi menimbul­kan tsu­nami. (Wawancara saya dengan Sri Woro)
 
;