Selasa, 07 Juni 2011 22 komentar

Terapi Rematik Artritis

Namanya Eva Febriyanti (18) yang bercerita mengenai penyakitnya yaitu rematik artritis. Pelajar SMA ini terdiagnosis penyakit artritis rematoid sekitar tiga tahun yang lalu. Pada waktu itu, yang pertama kali ia rasakan tiba-tiba kaki dan tangan bengkak. Jika ia berjalan dan digerakkan terasa sakit sekali. Kemudian, orang tua Eva membawanya berkonsultasi ke beberapa dokter. Hasilnya menunjukkan perbedaan antara satu dokter dengan yang lain. Bahkan, ada yang menyarankan harus dioperasi, karena ada masalah dengan kelenjarnya.

“Kemudian saya mencoba periksa ke rumah sakit lain dan diminta periksa darah karena takutnya Lupus,” tuturnya. Setelah mendapatkan hasilnya, dokter di Rumah Sakit tersebut menyarankannya untuk bertemu dengan dr. Rachmat Gunadi Wachjudi, Sp.PD-KR  di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung.

Sontak pada waktu itu, ia merasa kaget dan drop. “Karena saya tidak tahu penyakit apa yang saya derita,”ujarnya. Rasa sakitnya, sangat menganggu aktifitasnya sehari-hari. Ia hanya bisa melakukan sholat dalam keadaan duduk, karena ia tidak bisa sujud atau duduk diantara dua sujud. Jalan pun harus perlahan-lahan tidak bisa cepat. Banyak teman-temannya yang mengatakan bahwa cara berjalan Eva aneh.

Jika menuruni tangga, ia harus menggunakan bokong karena tidak bisa menekuk kaki. “Yang sangat menyiksa adalah badan akan terasa sakit dan kaku pada pagi hari ketika bangun tidur dan jam 6 sore, dimana persendian terasa sakit sekali,” terangnya.

Ketika berobat di dr. Rahmat, Eva diberitahu mengenai uji klinis Tocilizumab. Pengobatan reumatoid artritis baru dari PT. Roche Indonesia. “Langsung saja saya tertarik dan setuju untuk mengikuti uji klinis ini, karena saya pengen cepat sembuh,” katanya. Terus terang, Eva merasa frustasi, karena penyakit ini dan ia ingin bisa kembali beraktifitas seperti dulu.

Setelah menjalani infus yang pertama, Eva merasakan perubahan yang sangat baik. Sekarang ia sudah bisa jongkok dan rukuk ketika sholat. Pembengkakan serta rasa sakitnya pun sudah mulai berkurang. Setelah infus yang kedua, akan memasuki infus ketiga, Eva sudah bisa naik turun tangga dan berjalan dengan normal. “Saya bersyukur telah mengikuti uji klinis ini, karena saya ingin kembali normal seperti teman-teman yang lain dan melakukan berbagai aktifitas,” ucapnya penuh syukur. Eva berharap, mudah-mudahan obat ini dapat membantunya, dan juga pasien artritis reumatoid lainnya.

***

Disamping itu, dr. Predy Setiawan, Head of Medical Management, PT. Roche Indonesia, menjelaskan melalui pesan email (20/05) bahwa penyakit artritis reumatoid merupakan termasuk salah satu penyakit yang sulit diobati. Penderitanya pun terbilang banyak. Jika kambuh, penderita tak bisa melakukan aktifitas sehari-hari. Bahkan, bisa membuat orang terbaring seharian di kamar tidur. Untuk menerapinya, para dokter cenderung melakukan bedah dengan mengeluarkan cairan di persendian. Namun, cara ini tak menyelesaikan masalah, karena sewaktu-waktu penyakit itu kambuh kembali.
Adapula yang dilakukan dengan bedah dengan menggantikan daerah yang rusak. Namun, biayanya yang mahal. Sehingga banyak dokter memilih cara terapi dengan obat-obatan. Beberapa obat rematik sudah diciptakan. Salah satunya yang terbaru adalah tocilizumab. “Obat ini telah dipasarkan diluar negeri  (Eropa, US, Canada, Negara-negara di Asia Pasifik), Di Indonesia, obat ini  sedang dalam proses registrasi BPOM untuk dipasarkan,” tuturnya.

dr. Predy menambahkan pula, bahwa saat ini juga sedang dilakukan  uji klinis fase IIIB untuk memberikan kesempatan pada pasien-pasien reumatoid arthritis derajat sedang dan berat. Di Indonesia mendapat terapi lebih cepat dengan obat ini sebelum obat ini dipasarkan.
Studi klinis di luar negeri yang telah dilakukan oleh para dokter adalah menggunakan metode Mixed Treatment Comparisons. Metode ini membandingkan antara Tocilizumab dengan pengobatan standard yang ada pada saat ini (Methotroxate). “Hasilnya respon keseluruhan dari Tocilizumab menunjukkan hasil yang signifikan lebih baik dari obat biologis yang ada sebelumnya,” jelasnya. Selain itu, obat ini ditunjukkan kepada lebih banyak pasien yang mencapai perbaikan ACR 70 yang lebih tinggi dengan terapi Tocilizumab. ACR merupakan kriteria pengukuran keberhasilan terapi menurut American College of Rheumatology (ACR) adalah ACR20, ACR50, ACR70% perbaikan.

Metode ini berjudul Indirect Comparison of Tocilizumab and Other Biologic Agents in Patients with Reumatoid Arthritis and Inadequate Response to Disease-Modifying Antirheumatic Drugs. Uji klinis ini diterima oleh Badan POM Eropa, yaitu EMEA, Global Consensus Initiative for Outcome Measures in Rheumatology (OMERACT) dan Badan Asuransi Kesehatan di Perancis, UK, dan Canada.

Berbeda dengan uji klinis di Indonesia yang dilakukan pada 5 pusat, yaitu RSCM Jakarta, RSHS Bandung, RS Syaiful Anwar Malang, RS Soetomo Surabaya, RS Sardjito Yogyakarta. Menurut dr. Predy, uji klinis ini mendapatkan sambutan yang baik dari para ahli reumatologi. Pasien artritis reumatoid pun ikut serta dalam penelitian ini, karena Tocilizumab menunjukkan efikasi yang baik. Sehingga bekerja cepat dalam menurunkan peradangan yang diderita  oleh pasien artritis reumatoid.

Uji klinis ini memberi kesempatan pada 40 pasien artritis reumatoid yang termasuk pada kategori sedang dan berat. Serta memenuhi kriteria yang sudah diterapkan (kriteria inklusi) tertentu untuk mendapat terapi Tocilizumab selama 6 bulan. “Saat ini sudah ada 25 pasien yang ikut serta dalam uji klinis ini, dan masih akan merekrut pasien lagi,” ungkapnya.

dr. Predy menjelaskan Tocilizumab bekerja di dalam tubuh pasien yang terdapat protein yang berperan kunci dalam reaksi peradangan. Obat ini akan menimbulkan keluhan-keluhan sistemik, seperti kelelahan, anemia, dan lain sebagainya pada pasien artritis reumatoid, yaitu Interleukin-6 (IL-6). Mekanisme kerja obat ini dengan memblok reseptor IL-6. Ketika Tocilizumab berikatan dengan reseptor IL-6, obat ini memblok proses sinyal dan aktivasi gen oleh interleukin-6. Sehingga reaksi peradangan dan keluhan-keluhan sistemik pada pasien artritis reumatoid dapat diatasi.
Efek samping Tocilizumab yang dapat terjadi pada tahap ringan dan sedang. “Tocilizumab mempunyai profil keamanan yang baik,” ujarnya. Efek sampingnya antara lain infeksi saluran nafas atas, seperti batuk dan flu yang terjadi pada 1 dari 10 pasien. Selanjutnya, kemungkinan efek samping lainnya, bisa terjadi pada 1 sampai 10 pasien dari 100 pasien. Misalnya infeksi paru (pneumonia), infeksi herpes simplex mulut atau kulit, infeksi kulit dengan demam dan gemetar, neutropenia yaitu keadaan kadar neutriphil turun, leucopenia yaitu leukosit turun, kenaikan kadar kolesterol, sakit kepala, pusing, tekanan darah tinggi, sariawan, nyeri perut, SGPT meningkat, kulit merah gatal, oedema di kaki bawah, batuk, sesak, kenaikan berat badan dan infeksi mata (conjunctivitis).

Keampuhan dan keunggulan Tocilizumab ini diakui oleh dr. Predy adalah efikasi yang tinggi dan tingkat remisi yang konsisten. Selain itu, obat ini dapat dikombinasi dengan methotrexate (MTX) atau DMARDs konvensional lainnya pada kasus pasien yang tidak dapat mentolerasin terhadap satu atau lebih DMARD sebelumnya atau sebagai monoterapi pada pasien yang intoleransi MTX atau bila MTX tidak bisa dilanjutkan pemberiannya.

DMARD (Disease modifying arthritis rheumatoid drugs) konvensional, yaitu obat perubah perjalanan penyakit arthritis reumatoid yang konvensional seperti methotrexate. Pengobatan monotheraphy adalah pengobatan hanya pemberian satu obat (Tocilizumab) tanpa di kombinasi dengan MTX, karena ada beberapa kasus pemberian obat MTX dapat membuat pasien mengalami kerontokan rambut, nyeri lambung dan fungsi liver terganggu.

 “Semakin lama obat tersebut diberikan, maka semakin cepat efikasinya dan respon klinis yang cepat,” tuturnya. Perlu diketahui, obat ini juga menghambat kerusakan sendi secara baik, dan mengatasi keluhan sistemik pasien artritis reumatoid seperti kelelahan dan anemia.

Tocilizumab ini terindikasi untuk pasien dewasa artritis reumatoid aktif derajat sedang sampai berat. Obat ini akan memberikan hasil yang baik pada pasien artritis dengan peradangan yang berat (hot rheumatoid arthritis). Selain itu juga dengan gejala sistemik yang berat.

Remisi Tocilizumab bila dikombinasikan dengan DMARD konvensional, setelah diberikan 6 bulan adalah 30.6%. Presentasi ini 10 kali lebih besar dibandingkan dengan pasien yang hanya diberikan DMARD konvensional. dr. Predy mengatakan bahwa bila diberikan secara monoterapi, maka remisi sesudah diberikan selama 6 bulan adalaha 33.6%. Presentasi ini, 3 kali lebih besar dibandingkan dengan pasien yang hanya diberikan DMARD konvensional (MTX). “Bila dibandingkan dengan obat-obat biologis lain, respon keseluruhan dari Tocilizumab menunjukkan hasil yang signifikan lebih baik dari obat biologis yang ada sebelumnya,” paparnya. Obat ini pun masih dalam proses regristasi BPOM.

0 komentar

Komunitas Taman Suropati Chamber

KONSER MUSIK BAHASA DUNIA

Sosok kecil, lucu, lugu, dan menggemaskan berbaris masuk ke atas pentas dari balik panggung. Bocah-bocah itu memegang alat musik dawai di tangan kirinya dan yang kanan membawa busurnya. Mereka tampak rapi dan pas mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitam. Semua mata penonton di dalam gedung pun tertuju dan penasaran dengan permainan musik yang akan mereka sajikan.

Itulah penampilan konser musik dari anak-anak Taman Suropati Chamber, bertajuk Musik Bahasa Dunia yang diselenggarakan oleh Komunitas Taman Suropati Chamber (TSC) di Gedung Kesenian Jakarta, pada tanggal 16 Mei 2011, pukul 19.30-22.00 WIB.  Konser musik ini merupakan konser ketiga yang telah diselenggarakan oleh TSC. Harmonisasi nada dalam konser ini dimainkan oleh anak dari usia 4 tahun hingga usia tua, yakni 50 tahun. Sesuai dengan tajuknya, komposisi dari berbagai belahan dunia dimainkan dalam konser ini.

TSC adalah komunitas musik yang didominasi oleh pemain biola. Anggota TSC selalu berlatih pada hari Minggu dari pukul 09.30 hingga pukul 14.00 WIB di Taman Suropati, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat. Saat ini jumlah anggota TSC sebanyak 150 orang dari berbagai usia dan kalangan. Yang terbaru dari TSC ini adalah telah mempunyai 5 pemain dan 5 alat musik Cello. 

Konser dimulai dengan pembuka Sekolah Budhis Ehipassiko BSD yang berjumlah sekitar 19 anak yang masih duduk dibangku sekolah dasar. Anak-anak ini dominan memainkan alat musik Okulele. Pianika dan suling dimainkan satu anak. Selain itu, juga ada alat musik Gitar klasik yang dimainkan oleh dua anak perempuan.

Penyajian kedua dibawakan oleh Kelas Bibit yang terdiri dari anak-anak kecil, rata-rata berusia 4-10 tahun. Mereka dominan menggunakan alat musik Biola dan membawakan lagu Au Clair De Lalune (Perancis) dan Lihat Kebunku (Indonesia).  Kedua lagu tersebut merupakan lagu anak-anak yang terkenal dari masing-masing negaranya.

Penampilan ketiga menampilkan Kelas Akar yang dibawakan oleh usia anak-anak yang akan tumbuh menjadi remaja. Kelas ini menyajikan tiga lagu, antara lain There’s No Night (Amerika Serikat), Cicak di Dinding (Indonesia) dan Rasa Sayange (Maluku). Kemudian, pergelaran keempat disajikan oleh Kelas Batang yang berkolaborasi dengan Sekolah Budhis Ehipassiko BSD.

Kelas Batang ini diisi oleh usia remaja dengan membawakan kompisisi lagu Bingo (Amerika Serikat) dan Eidelweiss (Amerika Serikat diadaptasi dari film The Sound of Music). Setelah itu, penampilan kelima ada penyajian baru dari alat musik Cello. Alat musik ini dimainkan oleh anggota TSC yang sudah dewasa, sebanyak 5 orang, dan membawakan lagu Aria Amoroso (Italia).

Permainan keenam menampilkan Duet Mom and Son dengan komposisi lagu berjudul Concerto No.2 3rd Movement. Setelah penampilan ini, pertunjukkan diistirahatkan selama 15 menit. Kemudian, pertunjukkan kembali dengan menampilkan Double Quartet. Namun, hanya tujuh orang saja yang dapat hadir kala konser itu berlangsung.

Double Quartet tediri dari 4 pemain Cello dan 3 pemain Biola yang menyajikan lagu Eine Kleine Nachtmusik (Jerman) dan 1st Movement. “Tetap saya bilang Double Quartet kurang dikit, sama teman bolehlah,” canda Ages. Selanjutnya, adalah penampilan kedelapan yang menamai grupnya sebagai O. K. Batavia Mood berkolaborasi dengan Regina Maya. Sesuai dengan namanya, O. K. Batavia Mood ingin mencoba menampilkan “Mood” Jakarta.

Grup ini terdiri dari komposisi alat musik keroncong, antara lain Bass, Cello, Gitar Klasik, Okulele, dan Biola. Dalam kolaborasi ini, Regina Maya melantunkan lagu keroncong berjudul Lambaian Bunga. Kemudian, lagu Keroncong Moritsko didendangkan oleh Ages Dwiharso dengan suara merdu, walaupun sedikit serak. “Maaf suara saya agak kurang baik, karena kemarin abis kehujanan,” ujarnya saat rampung berdendang.

“Bunga anggrek mulai timbul, Aku ingat padamu, Waktu kita berkumpul, Kududuk disampingmu; Engkau cinta kepadaku, Bulan menjadi saksi, Engkau telah berjanji, Sehidup semati”.

Itu adalah sepenggal lirik Bunga Anggrek pada bait pertama dan kedua yang dilantunkan oleh Regina Maya penyanyi keroncong asal kota Bandung. Masih diiringi oleh O. K. Batavia Mood, lagu keroncong ini sebenarnya disajikan dalam Bahasa Belanda, Als Die Orchideien Bloeien. Namun, Regina melagukan dalam Bahasa Indonesia. “Bahasa Indonesia aja,” bisik Regina kepada Ages, saat dipanggil ke atas pentas.

Orkes berikutnya disajikan oleh seluruh anggota TSC. Penampilan ini merupakan gabungan dari Kelas Bibit, Akar, Batang, Ensemble Cello, Double Quartet, dan O. K. Batavia Mood. Pertama-tama memainkan lagu Apuse kokondao (Irian Jaya) yang berkolaborasi dengan Sekolah Budhis Ehipassiko.

Selanjutnya Dondong Opo Salak (Jawa Tengah), Janger (Bali), Subaru (Jepang), Doraemon (Jepang), Dahil Sayo (Filipina) kolaborasi dengan Regina Maya, dan El Chumban Chero (Meksiko). Terakhir, konser ini menampilkan Medley yang berkolaborasi dengan penari anak-anak perempuan dari Sekolah Budhis Ehipassiko, antara lain Dolanan Sore-sore (Jawa Tengah), Sidenta (Medan), dan ditutup dengan lagu Nona Manis (Maluku).

Semua personil Konser Musik Bahasa Dunia pun tampil ke atas panggung, dari TSC hingga para pendukung konser. Anak-anak pun masuk ke pentas dengan rapi, karena diatur oleh Bapak-Ibu guru dan pendamping. “Ini pasukan di belakang yang benar-benar menjaga, ayo mau kemana, ayo mau kemana. Kalau Bapak-Ibunya tidak rajin sudah kabur ke sini, ke sana, terbang-terbangan. Akibat perjuangan mereka, saya yakin Bapak-Ibunya besok pagi minta tukang urut,” guyon Ages sambil mengemong bocah-bocah pengisi konser.

***

Komunitas TSC, berdiri Mei 2007, merupakan gagasan berawal dari sebuah keprihatinan Ages Dwiharso (41) atas gaya hidup metropolitan anak-anak Jakarta masa kini. Ia juga prihatin, karena anak-anak Jakarta tidak mengerti lagi lagu-lagu daerah dan tidak bisa memainkan lagi lagu wajib nasional yang pernah membakar semangat para pahlawan. “Mereka lebih asik pergi ke mall. Saya memberikan kegiatan ini dengan konsep rekreatif dan edukatif,” ujarnya dalam prolog di sela-sela konser.

Dalam prolog konsernya dia mengucapkan rasa terima kasih yang mendalam kepada gurunya. “Barangkali ada guru saya, yaitu Bapak Prof. Ponobanu. Malam ini, benar-benar saya mengucapkan terima kasih, karena Bapak telah memberikan kesempatan,” ungkapnya. Ages menceritakan bahwa ia dulu pemusik jalanan dan gurunya itu yang mengapresiasi permainan musiknya.

Ketua TSC yang lahir di Kulon Progo, 7 Mei 1970 ini, ditemui di belakang panggung pada saat konser selesai, mengatakan bahwa konsep yang disajikan malam ini adalah memulai menyapa bahwa negara-negara lain juga punya lagu. Ia juga menuturkan bahwa visi dan misi TSC ialah melestarikan lagu-lagu daerah dan lagu wajib nasional. Keikutsertaan anak dan istrinya, Yasminka (43) di TSC, buat Ages, merupakan sebagai risiko untuk memberi contoh kepada orang lain . “Ya saya mulai dari keluarga saya,” ujarnya.


Pria yang lulus dari sekolah SPG Vanlith Muntilan Magelang, Institut Pono Banoe dengan kelulusan gelar B. Mus. Ed. (Bachelor of Music Education pada tahun 2005 Tahun lalu, mengatakan bahwa TSC sudah mempersembahkan lagu-lagu daerah dan wajib nasional. “Saya mulai mengajak mereka untuk mengenal juga lagu-lagu dari negara lain. Nah makanya tadi ada lagu dari Jepang, filipina, Belanda, Meksiko,” ungkapnya kepada Ageng Wuri R. A. Dari GATRA, Senin (16/05) di Gedung Kesenian Jakarta.

Menurut Bapak beranak lima, yang tiga diantaranya aktif membantu TSC, bahwa hal itu merupakan suatu bentuk bahwa di luar Indonesia ada musik. “Terlebih lagi anggota TSC membawa alat-alat musik dengan bahasa universal, yaitu membaca partitur,” ujarnya. Bagi Ages, anak-anak TSC ketika duduk dengan siapa pun dan dari negara mana pun, mereka akan mampu bergaul dengan satu bahasa, yaitu bahasa musik.

Soal persiapan konser, Ages berbagi, bahwa di taman terbuka, Taman Suropati, TSC melakukan kegiatan dan latihan bermain musik. “Di sana ada burung merpati, ada orang main sepeda dan ada air mancur. Jadi semua itu sudah alam bermain dan rekreasi,” tuturnya. Dengan suasana yang nyaman seperti itu, TSC mampu mendapat peluang untuk memasukkan inti pelajarannya. “Karena mereka sudah rileks dan enjoy,” ujarnya.

Ages juga menambahkan memilih Taman Suropati sebagai tempat belajar dan berlatih, karena mudah dijangkau serta pohon-pohonya besar dan rindang. Kemudian, keamanan terjamin karena termasuk daerah yang berpengamanan khusus. Untuk konser TSC di GKJ sudah tiga kali, ages katakan, sedangkan di Graha Bakti Budaya (GBB) dua kali, terakhir kemarin, tanggal 12 Mei 2011. “TSC juga pernah mendapatkan rekor Muri untuk kategori komunitas musik taman pertama di Indonesia, bahkan di Dunia,” bahasnya. Selain itu juga, konser di Istana sudah dua kali.

Pesan yang disampaikan TSC kepada khalayak, Ages mengungkapkan bahwa TSC berorientasi pada tujuan, yaitu memberikan pendidikan kepada masyarakat dan terutama anggota komunitas. “Meskipun berlatih di tempat terbuka, tidak di ruangan ber-AC, tidak di tempat tertutup, dan di dalam gedung magrong-magrong. Tapi kita mampu melakukan ini dan ada tujuan,” kata Ages.

Setelah anggota komunitas bermain lagu-lagu bagian dunia, Ages berharap akan membuka wawasan mereka. Bahwa semakin banyak mempelajari musik, semakin mudah pula untuk bergaul dengan kawan-kawan dari negara mana pun.

Meski konser TSC yang bertajuk Musik Bahasa Dunia ini terlihat sukses. Namun, ada pula kesulitan yang dihadapi TSC dalam persiapan konsernya.  “Ketika membawakan lagu anak-anak, supaya berkesan lucu. Itu perlu teknik secara khusus,” tuturnya. Menurut Ages, mungkin pada sekolah-sekolah musik yang konservatori, hal itu lumrah adanya. Tetapi, ketika dilakukan di taman, betapa sulit, karena melebur dengan suara kendaraan di kanan-kiri taman. “Campur dengan suara orang yang berlalu-lalang. Di tempat terbuka, kita tahu betapa “noise”nya Jakarta,” curhatnya.

Untuk mencapai teknik semacam itu, kemudian mendengarkan dan mengecek ulang, Ages mengutarakan benar-benar dibutuhkan kerja keras tim. Anggota TSC sampai saat ini berjumlah 150 orang. “Setiap minggu akan bertambah terus, karena animonya sangat baik,” katanya. Ages mengatakan bahwa akan mencari guru-guru tambahan.

Ia juga menghimbau kepada siapa pun yang ingin menjadi relawan untuk mengajar di Taman Suropati dan mempunyai keterampilan musik, silahkan  menghubungi TSC atau dirinya.  “Kalau tertarik untuk membantu kegiatan di hari minggu,sebenarnya kegiatan ini bersifat “charity”,” ungkapnya. Komunitas  ini juga sudah memberikan sumbangsih yang besar untuk mensejajarkan anak-anak dari berbagai golongan dan bangsa.

Alat musik yang dimainkan oleh TSC pada konser ini mayoritas adalah biola. Kemudian cello dan alat-alat yang lain, seperti gitar, piano, okulele, pianika, recorder, gitar elektrik, dan bass. Bagi bapak tiga anak yang juga pengajar TSC, menambahkan bahwa tidak menutup kemungkinan jika ada yang minat untuk belajar vokal dan akan diajarkan. Dalam konser ini, usia termuda adalah  4 tahun dan tertua 50 tahun.

Dikatakan Ages bahwa TSC menggunakan buku pelajaran, yaitu buku panduan dan selalu dicek setiap saat untuk meningkatkan kualitas. Anggota dari komunitas ini dari berbagai usia, anak-anak, pelajar, mahasiswa-i, karyawan, hingga orang tua. Untuk biaya, Ages menuturkan bahwa biaya belajar musik di TSC cukup saweran dan juga menerapkan subsidi silang. “Bagi yang punya uang lebih silahkan, dan bagi yang tidak punya tidak apa-apa, cukup semangatmu yang lebih,” kelakarnya.

Dipaparkan Ages pula bahwa pendamping anak-anak dalam konser ini, sekitar 14 orang. “Sebagian besar mereka masih keluarga saya, karena saya tidak mampu membayar pemusik, guru-guru musik, dan  ada anak saya tiga orang yang mengajar di sini,” jelasnya. Kemudian istrinya, Yasminka, adalah Manajer TSC dan merangkap sebagai asisten Ages. “Istri saya bagian stres, kalau lagi konser seperti ini tensinya bisa sampai 170. Itulah bagian pernak-perniknya mengajari anak-anak dan kesanggupan kami,” curhatnya.

Seperti yang telah diketahui, TSC juga melakukan kerja sama dengan sekolah-sekolah. Dalam konser ini, menampilkan tarian dari Sekolah Budhis Ehipassiko. Tarian diringi oleh TSC dengan musik medley yang telah dijelaskan di atas pada penutup konser. Enam bocah yang masih berumur sekitar 4-5 tahun menari dan berputar mengikuti irama musik. “Ehippasiko adalah sekolah yang kita datangi untuk sosialisasi musik keroncong. Karena mereka tertarik dengan program ini, kemudian mereka ikut konser,” ujarnya.

Selain itu, TSC juga pernah melakukan kerja sama dengan kelompok keroncong lain. “Contohnya tahun lalu, kami berkerja sama dengan Keroncong Tugu Junior,” katanya. Bagi Ages, TSC tidak menutup diri untuk melakukan kerja sama dimasa yang akan datang. “Mungkin tahun depan kita akan bekerja sama dengan yang lain lagi dan belum tau dengan siapa, kita lihat nanti,” lanjutnya.

 ============================================================================================

Dari Orkes Musik di Taman Suropati, Hingga Simfoni Megah

Siang hari di Taman Suropati, cuaca tidak cukup bersahabat. Hujan membelai rumput hijau dan jalan setapak. Semua basah dan lembab, tapi menimbulkan rasa segar dan sejuk. Sepasang merpati pun menyusup dalam sangkarnya, seperti menikmati suasana nyanyian gerimis. Pohon-pohon rindang menjulang bagai penjaga yang berlindung di bawahnya .

Semua orang mencari perlindungan. Seakan tidak ingin basah dan takut air. Namun, berbeda dengan sekumpulan orang dari anak-anak hingga dewasa yang membawa musik berdawai. Alat itu benar-benar dijaga dan dimasukkan ke rumahnya terlebih dahulu. Mayoritas mereka berlindung di bawah atap, seperti saung terbuat dari kayu. Ada pula bapak-bapak memegang payung dengan menggendong cello dipunggungnya. Di bawah kakinya bersandar biola yang dibungkus oleh rumahnya dan tak lupa dipayungi.

Sejenak mereka berlindung, setelah sebelumnya berlatih memainkan nada-nada dengan biola. Disamping anak-anak itu, orang tuanya pun membasuh dan memberikan seteguk dan dua teguk air. Terdengar candaan dan tawa satu sama lain yang menghangatkan cuaca dingin. Terlihat pula anak laki-laki bermain dengan gerimis dan berguling di rumput dekat saung.

Hujan itu hanya sekejap. Matahari pun masuk menembus daun, ranting, dan dahan pohon hingga menyentuh rumput yang basah. Segera semua orang yang berlindung di saung itu pun bergegas keluar. Semua siap kembali dengan membawa buku yang tertulis partitur nada dan alatnya masing-masing.

Di atas susunan lantai batu yang lumayan lapang, terlihat seorang bocah laki-laki yang mirip boboho. Begitu serius pandangan Abraham Aditya T. Tansil mengaplikasikan nada pada biolanya. Tangan bocah berusia 11 tahun ini mahir menggesek biolanya. Sesekali, ia mengecek ke buku panduan di depannya untuk memastikan gesekannya tidak salah. Didampingi ibundanya, Theresua Maria, dan ayahnya, Aleksander, Abraham merupakan salah satu anak diantara ratusan anak lainnya yang berlatih musik biola di Taman Suropati, Minggu (22/05).

Abraham yang lahir di Jakarta, pada tanggal 22 Nopember 2000 ini merasa senang bisa bergabung dengan TSC, karena memiliki banyak teman.  Siswa  Sekolah Dasar Santo Yosep, Dwi Warna ini menceritakan permulaan bisa bergabung di TSC sejak kenaikan ke kelas 3. Pada saat liburan ia berjalan-jalan ke Taman Suropati bersama dengan Ibu dan Ayahnya. Pada minggu pertama ia turun. Minggu kedua meminta dibelikan biola, kemudian diukur. Lanjut minggu ketiga dibelikan biola dan datang ke Taman Suropati untuk langsung latihan.

“Di sini biolanya distem dulu, digesek-gesek, latih pegang bahu. Dulu aku pakai yang setengah, ini sudah ¾,” celotehnya.  Bocah kelas 5 SD ini, senang belajar di TSC karena juga sering konser di pelbagai tempat. “Ke duta besar Amerika, ke kantor presiden juga pernah yang di istana itu, sama Taman Ismail Marzuki. Ke rumah duta besar Singapura juga pernah,” tuturnya.

Di TSC, Abraham sudah duduk di bangku kelas ranting senior. Dikatakan Abraham, bahwa kesulitan belajar musik di TSC tidak terlalu banyak. Karena pengajar dan kakak-kakak TSC yang sangat membantu dalam mempelajari alat musik biola. “Suka diisengin sama kakak pengajar. Kadang-kadang suka dikelitikin,” ujarnya.

Bocah anak tunggal ini paling suka sama pengajar kelas Akar, namanya Kak Grendi. “Kak Grendi suka ngajak main aku dan bercanda,” katanya. Selain main biola, ia juga bisa bermain Piano atau Orgen yang ia pelajari di Piano Gaia. Pada saat konser (16/05) di GKJ, ada dua guruku yang datang melihatnya. “Kata mereka aku hebat. Trus abis itu aku masuk koran dan aku kasih Ibu guru,” lanjutnya.

Abraham pernah bercita-cita menjadi Astronot dan Insinyur. Namun, setelah dia bergabung ke dalam komunitas TSC. Dirinya semakin mencintai dan menyukai musik terutama biola. Sehingga, membuat dirinya bingung dan belum tau jika kelak besar mau jadi apa. “Kalau sekarang mau belajar musik dulu, jadi pemusik yang baik. Kalau nanti kuliah, kan pasti manggung. Bisa nambah uang jajan sama kasih Ibu,” tutupnya.

***

Sementara itu, Ages mengatakan jumlah peserta TSC saat ini sebanyak 150 orang, yang terbagi dalam kelas-kelas. “Antara lain kelas bibit, akar, batang, dahan, dan ranting,” ungkapnya kepada Ageng Wuri dari Gatra, Minggu (22/05) melalui percakapan telepon genggam, karena dirinya sedang berkeroncong ria bersama keroncong Tugu di Lampung, Sumatera.

Dikatakan Ages, bahwa alat-alat yang dipelajari di TSC selain biola adalah cello, biola alto, dan flute. Untuk biaya perbulan, Ages mengungkapkan hanya cukup merogoh kocek 150 ribu. “Murah dan itu untuk transportasi guru-guru sekitar 9 orang, antara lain biaya copy partitur, operasional, persiapan konser, dan juga biasanya memakan biaya produksi untuk promo, dan lain-lain,” paparnya.

Tenaga pengajar, tambah Ages, adalah bersifat kerja sosial dan untuk biaya hanya dengan penggantian transportasi. Ia memiliki mimpi untuk TSC, agar suatu kelak nanti TSC akan dijadikannya Konservatori Outdoor. “Tekad saya ingin membangun generasi yang cinta budaya, nasionalis, dan punya daya saing yang tinggi terhadap bangsa-bangsa lain,” lanjutnya.

Berkat hasil keliling luar negerinya, Ages dapat hibahan alat musik seperti biola dan cello. Namun, ada kendala, karena hibahan itu butuh proses dari pihak bea cukai. “Itu seperti impor barang, yang saya dengar harus bayar ke bea cukai, duit dari mana saya,” ungkapnya.

Disinggung konser kemarin di GKJ (16/05), dikatakan Ages konser tersebut adalah konser kepercayaan oleh GKJ. Karena, TSC sudah mencapai kapasitas tertentu, dengan kata lain profesional. “Ada orang yang konser di GKJ, bagus tapi bayar. Kalau kita jual tiket, separo dianggap profesional, karena sudah dianggap menghasilkan uang untuk gedung kesenian,” tuturnya.

Meskipun pemasukan konser sedikit, sekitar Rp. 2.000.000,- tapi biaya produksi konser TSC di GKJ minggu lalu tertutupi, seperti pendanaan brosur,  poster dan lain sebagainya. “Kadang-kadang juga gaji saya di tempat juga untuk tambahan, dan untuk membayar fotografer dan yang membantu, jadi kalau mau tau, ya memang begini,” jelasnya.

Pria yang juga pernah mendapatkan beasiswa oleh Graudate School, Washington DC, dalam International Visitor Leader Program (ILVP) sama seperti yang didapatkan Megawati dan Gusdur, berharap bahwa TSC bisa menuju sebuah orkes simfoni yang megah dengan alat-alat yang lengkap. “Kemarin itu masih chamber, jadi orkestra gesek. Bahkan, orkestra gesek pun belum, karena altonya masih sedikit, kalau altonya sudah lengkap, nanti ditambah flute dan clarinet. Kemudian, berlanjut ke terompet, trombon, dan sebagainya. Maka akan menjadi simfoni,” bayangnya.

Untuk menuju sebuah orkes simfoni, diakui Ages perlu butuh banyak waktu. “Namun, mungkin tahun depan saya dengan TSC akan menyelenggarakan konser musik orkes chamber dengan alat musik tradisional dari setiap daerah di Indonesia,” paparnya.

Misalnya, tutur Ages, alat musik daerah Jawa, yaitu gamelan yang masuk terlebih dulu, kemudian baru orkestra yang masuk. Pada tahun depan, Ages murni akan mempersembahkan sesuatu yang sifatnya varian musik dari Nusantara dengan ciri khasnya masing-masing. “Tahun depan akan bertempat di GKJ, tapi belum tau tanggal dan bulan apa,” ungkapnya.

Saat ini, Ages sendiri mempunyai tanggung jawab untuk mengembangkan keroncong dan kebetulan dia diangkat sebagai ketua Perhimpunan Artis Musik Keroncong Indonesia (HAMKRI ) untuk wilayah Jateng dan Jakarta Barat. “Mungkin nanti TSC akan membuat semacam festival untuk anak-anak. Pemain biola dan flute diiringi musik keroncong harus membawakan musik keroncong yang utuh. Ini lebih akurat untuk mengkader musik keroncong sudah lebih akademis dan lebih terakreditasi,” lanjutnya.

***

Suksesnya sebuah organisasi atau komunitas tertentu merupakan dukungan dari orang-orang di balik layar yang mengurusi manajemennya. Suprapto, asisten manajemen TSC, mengatakan bahwa tidak ada kesulitan berlatih musik di taman yang banyak suara bising. “Kalau kita latihan di luar, itu harus membutuhkan power yang kuat, jadi suaranya harus lebih kencang dari suara lain,” ujarnya kepada Ageng Wuri dari Gatra, Minggu (22/05)

Menurut Prapto, ketika sudah latihan di taman, anak-anak akan terbiasa dengan suara mobil dan paling tidak suaranya sama dengan itu. Sehingga, ketika main di gedung powernya sudah lebih kuat. Kendalanya tidak ada, justru malah harus ekstra latihannya .

“Kalau untuk konser, latihan seminggu sekali saja di sini, nah kalau untuk lagu-lagunya itu sebulan sudah dipersiapkan dan dipelajarin serta di sana sudah gladi bersih,” paparnya. Pria yang juga berasal dari pemusik jalanan ini juga menambahkan bahwa pada saat gladi bersih tidak semua lagu yang dimainkan. “Pas hari Hnya, gladi bersih  hanya bloking dan memainkan satu lagu saja,” katanya.

Dikatakan Prapto pula bahwa untuk mengatur anak-anak peserta TSC merupakan tantangan tersendiri. Jika peserta dewasa mudah diintruksikan, beda dengan anak-anak yang tentunya cukup susah dan perlu siasat khusus. “Kadang-kadang di barisan belakang, kalau konser, mereka ada yang berisik, bercanda, dan suaranya bisa tembus ke depan dan mengganggu penonton juga,” tuturnya.

Untuk yang kelas bibit, Prapto bercerita, pada saat konser, mereka dimainkan pertama dan selanjutnya dikumpulkan di ruang ganti. “Kita masukan ke situ ada yang jaga. Mereka boleh bercanda disitu tapi suaranya tidak boleh terlalu keras juga. Jadi sudah kita bagi, siapa yang untuk menangani anak-anak yang bercanda, siapa yang mengatur bangku dan setting di panggung,” jelasnya.

Sementara menurut Prapto, motivasi pengajar TSC, untuk menunjukkan kepada peserta bahwa alat musik biola itu tidak hanya diperuntukkan bagi anak-anak menengah ke atas. Kelas menengah ke bawah pun bisa menikmati. “Seorang guru pasti ada perasaan terpanggil jiwanya, untuk mengajarkan muridnya,” katanya.

Dipaparkan Prapto bahwa untuk pendaftaran menjadi murid TSC, syarat-syaratnya hanya foto copy KTP orang tua, jika masih anak-anak. Atau identitas pelajar dan pas photo 4x6 berwarna sebanyak dua lembar. Serta uang pendaftaran sebesar Rp. 300.000,- dan biaya perbulan Rp. 150.000,-. Namun, jika ada yang tidak mampu, tapi ingin belajar biola, bisa berbicara langsung dengan Ketua dan Sekertaris atau manajer  TSC.

Untuk buku pedoman mengenai teknik bermain biola dan nada-nadanya, Prapto katakan, TSC pun sudah punya. “Kita di sini punya buku sendiri yang disusun oleh Bapak Madong dan Mas Ages,” ujarnya. Buku pedoman TSC berisi teknik-teknik bermain biola, teknik gesekkan yang benar dan nada-nada atau not balok sebuah aransemen. “Untuk lagu-lagunya itu Mas Ages yang buat Aransemennya. Kelas bibit, notasinya disesuaikan dengan kemampuannya. Jadi misalkan untuk kelas bibit, Mas Ages nyari nadanya yang kisaran 1 oktaf itu saja,” ungkapnya.

Prapto juga menuturkan bahwa latihan di taman ada keuntungannya, karena latihan dilihat pelbagai macam orang yang datang, dan secara tidak langsung sudah melatih mental anak-anak. “Beda lagi kalau latihannya di gedung, yang nonton hanya temen-temennya, begitu di panggung grogi,” ujarnya. Sampai saat ini TSC belum menciptakan lagu sendiri, karena masih sesuai dengan visi misinya melestarikan lagu-lagu daerah dan nasional.

“Sampai saat ini di TSC kelas hingga ranting, namun setelah itu masih ada kelas bunga dan buah dan belum diisi oleh peserta, karena masih menunggu kenaikan kelas dari kelas ranting,” ungkapnya. Setelah lulus dari TSC masing-masing anak dibebaskan dan disesuaikan dengan keinginan mereka. “Mau mengajar di sini atau masih mau belajar di sini, itu silahkan. Konser di istana sudah dua kali, pertama acara parade senja dan hari pendidikan nasional,” ujarnya.

Seperti telah diketahui TSC memiliki tim keroncong, bernama Batavia Mood.  Keroncong TSC ini dibentuk setelah TSC berjalan pada tahun 2009.  Keroncong ini dibentuk untuk kombo dari TSC. Latihannya setiap hari selasa dan jumat, di Sanggar TSC di Jalan H. Marzuki No. C 29 Kemanggisan, Jakarta Barat. “Anggota keroncong yang memainkan hanya para instruktur di TSC. Setelah hari minggu kalau mereka selesai mengajar, istirahat sebentar, mereka mulai lagi dengan main keroncong,” tutur Prapto.

Prapto mengutarakan bahwa untuk saat ini, masih banyak pemuda yang kurang minat terhadap musik keroncong. Karena, masih mengganggap bahwa musik keroncong lagu yang bikin ngantuk. “Padahal tidak juga, kalau orang sudah mengerti keroncong, akan bikin ketagihan. Dan keroncong sendiri tidak hanya dimainkan kalem, tapi juga bisa ngebeat,” tegasnya.

Menurut Prapto yang juga memegang elektrik bass, di Batavia Mood, alat musik keroncong di TSC sudah lengkap semua. Bahkan, tutur Prapto, kalau di panggung sudah memenuhi standar. “Maksudnya, kalau di panggung ada juga yang masih ditodong microphone, tetapi keroncong TSC tinggal colok semua. Mau dimainkan akustik bisa, dimainkan sound tinggal colok saja,” jelasnya. Sedangkan, untuk Konga atau Jimbe disesuaikan dengan lagu yang ingin dibawakan. “Kalau yang dikonser kemarin lagunya tidak membutuhkan konga, karena mendayu-dayu,” ujarnya.

Keroncong Batavia Mood beraliran modern keroncong. Konsep tersebut diakui Prapto, agar anak-anak muda masa kini tertarik musik keroncong. Lagu-lagu yang dimainkan pun yang anak muda banget. Misalnya, seperti lagu-lagu rock, top fourty, gun and roses, california, kitaro, dan lain sebagainya. “Itu kita aransemen lagi dengan musik keroncong,” lanjutnya.





Selasa, 29 Maret 2011 0 komentar

Ichsan: Saya Memang ikut ke Tanjung Priok

Ichsan Soelistio anggota Komisi 3 membenarkan bahwa ia ada di dalam bis ketika bersama anggota komisi 3 yang lain melakukan sidak ke Bandara Soekarno Hatta yang kemudian mendadak berbelok ke Tanjung Priok. Pada hari Selasa pukul 09.00 di ruang kantornya, Nusantara 1 DPR, yaitu 703 beliau menceritakan kronologis kejadian disana yang ia lihat dan dengar.


“Saya akan menceritakan kronologis kejadiannya yang saya ketahui. Sidak ke Bandara Soekarno Hatta, setelah selesai kita naik bis, di perjalanan tiba-tiba ke Tanjung Priok, ya sudah saya ikut saja karena sudah di dalam bis. Sampai disana saya sendiri terus terang tidak mengikuti rapat dan tidak di dalam ruang rapat itu. Jadi apa pun pertanyaannya itu saya tidak tahu,” jelasnya.

Waktu rapat tersebut dibuka Ichsan tidak mengikuti dan setelah itu keluar. “Jadi saya diluar saya ngobrol dengan Kapolres KP3. Jadi apa pun pertanyaan disitu saya tidak tahu. Setelah itu saya pulang,” ujarnya.

Dirinya memang mengaku ada di dalam bis dan ikut berbelok ke Tanjung Priok, tetapi dia tidak mengetahui apa tujuan tiba-tiba berbelok ke tempat tersebut. Dia hanya mengikuti saja dengan rombongan yang telah melakukan sidak ke Bandara Soekarno Hatta. “Saya memang ada di bis tetapi saya tidak ikut rapat dengan Bea Cukai di Tanjung Priok itu. Karena kan saya pikir tidak enak berangkat sama-sama pulang sama-sama dong. Lalu bisnya mendadak ke Tanjung Priok. Ya kalau sudah sampai sana, saya ya diam saja,” tambahnya.

“Kalau saya hanya menganggap silahturahminya. Setelah salaman rapat dibuka saya keluar. Tentang pertanyaan yang ada di dalam rapat saya tidak mengetahui. Baru setelah beberapa lama kepala Bea Cukainya masuk. Itupun saya ketemunya di luar,” paparnya.

Ichsan Soelistio memang ada di dalam bis hingga berbelok ke Tanjung Priok tetapi dia lihat hanya rapat di kantor Bea Cukai. “Tidak ada yang namanya peti kemas berisi BB dan Miras, yang dilakukan hanya rapat setelah itu selesai pulang kembali lagi ke DPR. Tidak ada pertemuan terkait dengan peti kemas BB dan Miras. Saya tidak mengetahui isi rapat kalau tidak percaya tanya Kapolres KP3, saya diluar ruangan,” ujarnya.

Ichsan juga menambahkan di Bandara Soekarno Hatta memang ada barang-barang bukti ketika penyidakan. Tetapi di Tanjung Priok yang ia lihat sama sekali tidak ada kegiatan penyidakan dan peti kemas berisi BB dan Miras. “Tidak ada kegiatan yang berhubungan dengan penyidakan atau menemukan peti kemas tersebut, yang dilakukan hanya rapat, itu saja yang saya lihat,” tambahnya lagi.

Mengenai siapa yang mengusul untuk berbelok ke Tanjung Priok, Ichsan tidak tahu menahu siapa orangnya, karena ketika berada di dalam bis dia duduk di bangku paling belakang. “Yang mengusulkan mampir ke Tanjung Priok saya tidak begitu jelas siapa orangnya. Karena saya duduk di bagian belakang. Dan tiba-tiba ada usulan ke Tanjung Priok dan saya ikut saja karena udah kadung duduk dan sudah di dalam bis. Karena kan berangkat sama-sama pulang sama-sama. Kalau tiba-tiba belok ya harus ikut dong, masa tiba-tiba pulang sendiri. Soal yang mengusulkan saya tidak tahu, wacana itu begitu saja muncul di bis dan tiba-tiba belok,” jelasnya.

Soal agenda di dalam rapat dengan Bea Cukai di Tanjung Priok, Ichsan tidak mengetahui, karena tidak berhubungan dengan tugas kantor. “Saya tidak mengikuti rapat itu, karena saya tidak mengetahui agendanya dan bukan urusan kantor,” katanya.

Soal laporan ICW ke BK DPR, Ichsan tidak mau banyak komentar karena tidak mengetahui isi dari laporan ICW kepada BK DPR. Namun, jika ditanya sebagai bagian yang ada disitu, ia menegaskan tidak begitu jelas, karena yang ia lakukan hanya sampai pada Bea dan Cukai. “Saya tidak mengetahui soal isi Laporan ICW kepada Badan Kehormatan (BK) DPR, kan Bapak Nurdiman Munir selaku Wakil BK DPR dan Bapak Marzuki sudah bicara soal laporan tersebut. Tapi jika saya ditanya sebagai bagian yang ada disitu saya juga tidak jelas, karena saya cuma sampai di kantor Bea Cukai, saya hanya silahturahmi saja dan tunggu di luar,” jelasnya.

Sekali lagi dia menegaskan bahwa tidak bisa komentar banyak, karena pertanyaan satu pun di dalam tidak ia ketahui dan tujuan kesana pun tidak ia ketahui dan tidak mengerti serta tidak ikut rapat. “Cuma ya seperti saya bilang tadi saya terbawa dan sudah di dalam bis,” katanya.

Ichsan menjelaskan bahwa agenda resmi utama pada waktu itu adalah sidak ke Bandara Soekarno Hatta. “Saya diminta Poksi untuk melakukan sidak bersama yang lain ke Soekarno Hatta, ya saya ikut. Pulangnya naik bis lagi ya saya ikut, eh ternyata belok. Jadi saya kalau ditanya apa agenda dan apa yang dilakukan saya mohon maaf karena apa yang saya lihat ya seperti itu tadi yang saya katakan,” ujarnya.

Dia membenarkan anggota yang ikut di dalam bis itu ada Nudirman Munir (Golkar), Aziz Syamsuddin (Golkar), Eddy Sadeli dan Edi Ramli Sitanggang (Demokrat). “Kalau orang-orang itu memang ikut, tetapi saya tidak mengetahui materinya apa. Mengenai perbedaan pendapat antara Eddy Sadeli dan Edi Ramli Sitanggang saya tidak bisa komentar,” tegasnya.

Ichsan juga menceritakan pada waktu berangkat ada anggota yang di bis dan di mobil, tapi lebih tepatnya dia tidak begitu ingat dan pasti. Ichsan dapat mengkonfirmasi jumlah orang yang hadir di Cengkareng lebih banyak jumlahnya dari pada yang di Tanjung Priok. “Saya tidak ingat. Tapi yang jelas waktu di Cengkareng lebih banyak orangnya tetapi waktu di Tanjung Priok lebih sedikit orangnya. Saya sudah tidak perhatikan lagi karena saya tidak ikut rapat, saya juga tidak tahu. Sekali lagi ya lebih sedikit dari yang dari Cengkareng. Lebih tepatnya saya tidak tahu karena sudah lama sekali, sudah 2 bulan yang lalu pada tanggal 10 Januari,” tutupnya.
Rabu, 09 Maret 2011 0 komentar

Gayus Lumbuun: Ibu Mega Tetap Tidak Hadir Walau KPK Panggil Berkali-kali (Rabu, 23 Februari 2011)

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri tidak memiliki relevansi apa pun menyangkut kasus dugaan suap pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda Goeltom.

“Ibu Mega bukan orang yang berkaitan dengan dugaan kasus yang terjadi di DPR, sehingga tidak layak dijadikan sebagai saksi. Sebab, seperti yang di­je­laskan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), ketentuan saksi haruslah orang yang mendengar, melihat dan mengalami sendiri,” ujar Ketua Departemen Bidang Hukum DPP PDI Perjuangan, Gayus Lum­buun, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.

Selain itu, lanjut anggota Komisi III DPR tersebut, tidak me­menuhi syarat formil dan materil untuk menetepkan Mega sebagai saksi dalam kasus itu.

Seperti diberitakan sebelum­nya, KPK memanggil Megawati sebagai saksi untuk meringankan dalam perkara dugaan suap pe­milihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda Goel­tom. Itu atas permintaan ter­sangka Max Moein dan Poltak Sitorus.

Mega hanya mewakilkan ke­pada Sekjen PDI Perjuangan Tjahjo Kumolo yang ditemani anggota DPP PDI Perjuangan Bidang Hukum Trimedya Panjai­tan untuk datang ke KPK, Senin (21/2). Kedatangan Tjahjo Kumolo sudah cukup untuk me­ringan­kan kasus tersebut.

“Saya pikir Tjahjo Kumolo se­laku Ketua Fraksi PDI Per­jua­ngan DPR dan Sekjen PDI Perjuangan sudah cukup untuk meringankan perkara tersebut,” ucap Gayus Lumbuun.

Berikut kutipan selengkapnya:

Apa yang dititipkan Mega ke­pada Tjahjo Kumolo?
Ibu Mega mengirim surat ingin menjelaskan bahwa beliau tidak bisa terbuka sebagai saksi yang meringankan. Sesuai ketentuan dari pasal 1 butir 27 KUHAP ha­rus­lah orang yang mendengar, melihat, mengalami sendiri. Ibu Mega bukan orang yang berkai­tan dengan dugaan kasus yang terjadi di DPR.

Apa benar Mega tidak me­nger­­ti masalah dugaan suap itu?
Ya, Ibu Mega tidak tahu. Itu kan di wilayah DPR. Ibu Mega ketika itu menjadi Presiden. Jadi, tidak tahu adanya dugaan suap itu.

Max Moein dan Poltak Sito­rus adalah kader PDI Perjuang­an, sehingga tidak ada salahnya Mega memberikan kesaksian untuk meringankan, kenapa di­tolak?
Siapapun orang yang meminta­nya sebagai saksi tentu Ibu Mega bersedia. Kalau beliau berkaitan. Sedangkan ini tidak berkaitan dengan Ibu Mega. Makanya su­dah pas diwakilkan kepada Tjahjo yang mengetahui soal kondisi DPR ketika itu. Lalu Ibu Mega menitipkan surat.

Apa isi surat tersebut?
Isinya adalah Ibu Mega tidak bisa menjadi saksi yang me­ringankan untuk kasus ini. Karena atas dasar KUHAP tadi, Ibu Mega bukan orang yang terkait dalam dugaan kasus yang terjadi di DPR. Surat itu juga me­minta KPK untuk memper­tim­bangkan pemanggilan Ibu Mega yang tidak pada kedu­du­kannya.

Kami menghormati proses penegakan hukum yang dilaku­kan KPK dengan memberikan kesempatan kepada tersangka untuk  menghadirkan saksi me­ringankan sebagaimana di atur dalam pasal 116 ayat (3) KUHP. Hanya saja kami meminta KPK selektif dan harus mengkaji betul apakah terhadap saksi meringan­kan yang dimintakan tersangka sudah memenuhi syarat syarat formil dan materil seba­gaimana diatur dalam pasal 1 butir 27 KUHAP.

Apakah Tjahjo Kumolo su­dah pas menjadi saksi meri­ngan­kan dalam perkara ini?
Ya, itu sudah pas. Sebagai Ke­tua Fraksi PDI Perjuangan tentu mengetahui apa yang terjadi di DPR ketika itu.

 Apa PDI Perjuangan tidak khawatir adanya penilaian ne­gatif atas ketidakhadiran Mega sebagai saksi?
Nggak perlu dikhawatirkan. Orang yang menilai seperti itu berarti tidak mengetahui aturan hukumnya. Kalau tahu aturan hukumnya, tentu tidak menilai seperti itu.

Bekas Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla pernah me­nyatakan kalau dia dalam posisi Mega, tentu siap datang ke KPK, bagaimana tanggapan Anda?
Tentunya masing-masing orang memiliki keterkaitan yang berbeda-beda. Pak Jusuf Kalla mungkin ada keterkaitan dan mempunyai kaitan dan mema­hami perkara ini. Semua saksi harus berkaitan dengan kedudu­kannya. Ibu Mega tidak berkaitan dengan kedudukannya dalam masalah ini. Pasti ada perbedaan-perbedaan. Tidak bisa dianggap semua sama. Ini bukan soal mau atau tidak mau untuk datang ke KPK. Bukan itu ukurannya. Pak Jusuf  Kalla mungkin mengalami, melihat, dan mendengar sendiri. Ibu Mega tidak dalam takaran itu, beliau bersih.

Walau KPK  minta lagi agar Mega datang sebagai saksi me­ringankan, tetap nggak datang ya?
Ya, tetap tak hadir walau KPK panggil berkali-kali, karena Ibu Mega bukan orang yang tahu dan terkait dengan masalah itu. Bukan ka­pasitas beliau untuk hadir, karena kapasitasnya tidak pas untuk memberikan kete­rangan­nya se­bagai saksi me­ringankan dalam perkara ini.

Bagaimana kalau KPK mela­kukan pemanggilan paksa?
Alasan mereka untuk pe­manggi­lan paksa apa. Semua ha­rus jelas kepentingannya. Sebe­rapa penting mendatangkan be­liau, itu harus dipertanyakan ke­pada KPK. (Wawancara saya dengan Gayus Lumbuun)
0 komentar

Sri Woro Budiati Harijono: Gempa Bumi Skala Kecil Diperkirakan Terus Terjadi (Minggu, 27 Februari 2011)

Selama Februari 2011 ini sudah 27 kali terjadi gempa bumi skala kecil di wilayah Indonesia. Kondisi seperti ini diperkirakan bakal terus terjadi.

“Gempa berskala kecil diper­kirakan bakal terus terjadi. Tapi ka­lau gempa berskala besar be­lum dapat diketahui,’’ ujar Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Sri Woro Budiati Harijono, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta.

Tapi, lanjutnya, masyarakat tidak perlu khawatir, karena tidak berpotensi tsu­nami karena gem­panya tidak ber­kekuatan besar. Kecuali di daerah yang rawan gempa serta yang memiliki his­tori gempa yang berkelanjutan.

“Tapi di daerah yang pernah terjadi gempa yang berskala besar perlu diwaspadai. Sebab, bisa saja terulang kembali,” tam­bahnya.

Berikut ku­tipan se­lengkapnya:

Daerah mana saja yang ra­wan terjadi gempa bumi ber­skala kecil itu?     
Sebenarnya hampir semua wilayah di Indonesia berpotensi untuk gempa bumi berkekuatan kecil. Tapi yang rawan adalah meliputi Barat Daya Sumatera, Selatan Jawa, Bali, Nusa­ Tenggara, Maluku, Sulawesi, dan Papua.

Tapi masyarakat tidak perlu khawatir, karena tidak berpotensi tsunami dan tidak berkekuatan besar.

Tahun lalu berapa kali ter­jadi gempa bumi di negeri kita?
Menurut grafik frekuensi gempa bumi yang terjadi tahun 2010 untuk 4,9 skala ricther su­dah terjadi 5.721. Pada tahun ini kemungkinan masih sama atau bahkan lebih.

Apakah ada indikasi untuk gempa berkekuatan besar?
Untuk jangka pendek ini bisa diketahui kapan akan terjadinya. Tapi kalau  dalam jangka panjang bisa diperkirakan bahwa di daerah yang pernah terjadi gempa besar, berpeluang terjadi kembali.

Mengapa gempa skala kecil sering terjadi akhir-akhir ini?
Gempa-gempa kecil terjadi hampir sepanjang tahun, data menyebutkan di Indonesia jum­lah gempa bumi terjadi antara 3.000 sampai 4.000 per tahun. Rata-rata 10 kejadian per hari. Bahkan tahun lalu mencapai 5.721.

Gempa-gempa tersebut hanya terdeteksi oleh seismograph saja. Sedangkan yang dirasakan di atas 5,5 skala richter, sekitar 100 kali per tahun.

Bagaimana BMKG menyi­kapi hal ini?
BMKG mengoperasikan 160 sensor seismic yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia plus sekitar 20 sensor seismik yang terbagi atas 6 mini regional dan dimonitor 24 jam sehari.

Dengan demikian, kejadian-kejadian gempa di Indonesia akan selalu terpantau . Meski demikian ada daerah-daerah yang mag­nitudo gempanya di bawah 3 skala richter, sehingga tidak bisa dimonitor dengan baik dengan jaringan BMKG. Dalam hal ini jika terjadi secara spesifik, maka BMKG akan mengirim tim survei gempa untuk memonitor ke lokasi tersebut. Contohnya ka­sus gempa bumi Trenggalek.

Apakah sudah dilakukan im­­bauan ke masyarakat yang ber­ada di daerah rawan gempa?
Sosialisasi untuk menghadapi gempa bumi sudah banyak di­laku­kan. Tidak hanya melibat­kan BMKG, namun juga insti­tusi lain seperti LIPI, ESDM, perguruan tinggi dan dilakukan melalui talk show, kunjungan ke sekolah, temu muka, juga la­tihan-latihan.

Pada dasarnya gempa itu sen­diri tidak membunuh, tetapi adanya korban karena keruntuhan bangunan yang kondisinya tidak cukup baik untuk tahan terhadap guncangan gempa. Maka, di­imbau kepada masyarakat, agar jika membangun rumah atau fasilitas umum dapat mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan oleh pemerintah setempat, ten­tang aturan membangun di wila­yah itu. Masyarakat harus mengerti dan memahami tentang gempa bumi dan dampaknya, serta cara meyelamatkan diri.

Apakah gempa bumi ber­skala kecil ini akan terus ter­jadi?
Gempa bumi akan selalu ter­jadi selama dinamika dalam bumi (terjadinya pergerakan relatif antar lempeng tektonik) masih terjadi. Tidak hanya ter­batas pada gempa kecil, namun juga gempa besar dan gempa dahsyat.

Apakah sudah bisa dipre­diksi gempa bumi yang ber­dam­pak tsunami?
Gempa bumi yang berpotensi me­nimbulkan tsunami adalah gempa bumi besar dengan kri­teria: terjadi di laut, magnitu­denya 7,0 skala richter ke atas, dan kedala­man sumber gempa­nya kurang dari 100 km. Dengan demikian, gempa-gem­pa kecil dengan mag­nitude ku­rang dari 5,0 tidak ber­potensi menimbul­kan tsu­nami. (Wawancara saya dengan Sri Woro)
0 komentar

Tifatul Sembiring: Dibuat Suasana Panas Agar PKS Ditendang (Selasa, 01 Maret 2011)

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Tifatul Sembiring menuding ada pihak tertentu yang membuat situasi panas pasca sidang paripurna DPR terkait hak angket mafia pajak.
“Dibuat suasana panas agar PKS ditendang dari koalisi. Saya secara pribadi tidak khawatir tentang itu. Sebab, yang menen­tukan adalah Presiden SBY,” ujarnya kepada Rakyat Merdeka, Sabtu (26/2).
“Manuver-manuver politik geser sana, geser sini, cari posisi, nggak momentum lagi. Sekarang saatnya bersama-sama bekerja keras untuk mencapai tujuan pe­merintah,” tambah bekas Presi­den PKS itu.

Berikut kutipan selengkapnya:

Nggak khawatir diganti?
Reshuffle kabinet itu wewe­nang Presiden SBY. Itu mutlak hak prerogatif beliau. Jadi, terse­rah beliau saja. Saya sebagai Men­kominfo wajib berjuang ber­sama-sama anggota kabinet  lainnya untuk mencapai rencana kerja.

Apakah isu ini mempe­nga­ruhi kinerja Anda?
Saya tidak terpancing dengan isu reshuffle kabinet. Yang pen­ting, saya bekerja keras dan mela­kukan yang terbaik. Itu hanya pihak-pihak tertentu yang mem­buat keadaan pasca pemu­ngutan suara hak angket pajak menjadi panas. Pihak-pihak tertentu beru­saha melakukan manuver politik untuk kepentingannya masing-masing, sehingga wacana re­shuffle kabinet meluap. Pihak ter­sebut hampir setiap hari mem­bicarakan reshuffle.

Siapa pihak tertentu itu?
Yang ngomong di media itu. Tapi mereka belum baca isi kon­trak politik, tetapi rajin berko­men­tar. Ada yang baru berga­bung, tidak berjuang dan tidak keringat, ikut memanas-manasi keadaan. Ayolah bangun kema­tangan berpolitik bangsa ini. Se­mua ini harus dibangun dengan komunikasi yang baik.

Apa saran Anda melihat si­tuasi politik saat ini?
Pendukung koalisi SBY-Boediono agar tidak menonjol­kan sikap emosional yang sesaat dalam menyikapi kondisi politik yang berkembang saat ini. Yang disayangkan adalah kekuatan besar koalisi tidak dapat dikon­solidasikan untuk menyukseskan program-program pemerintah. Di saat mendatang belum tentu partai-partai mampu mewujud­kan koalisi besar seperti yang ada saat ini. Semua yang sudah ada itu harus disyukuri.

Apa yang dilakukan parpol koalisi pasca sidang paripurna DPR tekait hak angket pajak itu?
Presiden SBY sudah memberi arahan, Setgab haruslah bersikap antisipatif. Saya mengu­tip pen­dapat Presiden, kalau meng­ambil keputusan politik itu se­perti orang terjun paying. Kalau sudah loncat dari pesawat, tidak bisa kembali lagi. Jadi jangan da­da­kan terus, tiba-tiba ada ins­truksi begini dan begitu. Ba­ngun­­lah komunikasi sesuai kon­trak politik itu. Ada level pem­bina, di level menteri-men­teri dan parle­men. Komu­nikasi ini adalah kuncinya.

Apakah ke depan PKS mela­kukan perbedaan atau satu tu­juan dengan Partai Demokrat?
Harus dipisahkan. Jangan di­campur adukkan ya. Kami ber­em­pat, Menkominfo, Mensos, Menteri Pertanian, dan Menristek dari PKS ini ditugaskan oleh PKS di pemerintahan untuk menyuk­seskan program Presiden SBY dan Wakil Presiden Boediono. Kemudian ada satu masalah ma­fia pajak yang perlu dikomuni­kasikan antara kedua belah pihak. Saya melihat di sini, inti­nya harus ada komunikasi yang perlu ditingkatkan di sektor Se­kre­tariat Gabungan.

Kenapa selama ini kurang ko­munikasi?
Sebenarnya yang menginisiasi awalnya soal mafia pajak ini kan Partai Demokrat. Tapi dalam per­kembangannya Partai Demokrat berbalik arah, men­ca­but dukungan kepada hak ang­ket mafia pajak. Jadi, sekali lagi, ini persoalan ko­mu­nikasi. (Wawancara saya dengan Tifatul Sembiring)
0 komentar

Arifin Panigoro: Demo Goyang Nurdin Halid itu Gerakan dari Bawah (Kamis, 03 Maret 2011)

Calon Ketua Umum PSSI Arifin Panigoro mengaku tidak terobsesi  jabatan dan kekuasaan. Pencalonan itu hanya ingin berkontribusi aktif dan memperbaiki persepakbolaan Indonesia.

“Bukan jabatan Ketua Umum PSSI yang saya tuju, tapi saya ingin memperbaiki persepak­bo­laan Indonesia,” ujarnya kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, kemarin.

Menurut bekas Ketua DPP PDIP itu, kalau memang nantinya tidak terpilih menjadi Ketua Umum PSSI, dia tetap berkon­tribusi di sepak bola Indonesia.

“Masih banyak tempat untuk memperbaiki sepak bola Indone­sia, tidak hanya melalui PSSI. Mi­salnya saja Liga Primer Indo­nesia,’’ ucapnya.

Berikut kutipan selengkapnya:

Apakah Anda puas dengan hasil Komisi Banding?
Sebenarnya kecewa tapi kita ikuti saja prosesnya. Jika me­mang keputusan banding meno­lak dan verifikasi ditolak, saya terima. Kita ikuti saja bagaimana kelanjutan komite pemilihan PSSI dan Komisi Banding ini.

Menpora dinilai mengin­ter­vensi PSSI, bagaimana tangga­pan Anda?
Saya menganggap itu bukan intervensi, tapi mengingatkan. Menurut saya tindakan Menpora dalam hal ini tepat, karena hanya mengingatkan PSSI agar memi­kirkan kembali dalam mengambil keputusan. Kita hargai tindakan Menpora karena memang kapasi­tasnya untuk bertindak seperti itu.

Jika tidak terpilih menjadi calon Ketua Umum PSSI, apa­kah Anda terus berjuang ?
Saya tidak gila jabatan atau ke­kuasaan. Saya tidak memaksakan hal itu. Yang saya inginkan hanya berkontribusi dan memperbaiki persepakbolaan Indonesia. Saya tidak ingin ramai-ramai rebutan jabatan Ketua Umum PSSI.  Buat saya ini juga sangat menyita waktu.

Bikin capek karena kami juga harus bikin banding segala ma­cam agar lebih baik lagi di kan­cah nasional ataupun Internasio­nal. Ingat bukan jabatan yang saya inginkan. Itu tidak penting buat saya.

Apakah anda meyakini bah­wa di tubuh Komite Pemilihan PSSI ini ada kecurangan?
Kita jangan melihat ke bela­kang. Ada kecurangan atau tidak, yang terpenting, saya mengikuti prosesnya saja dulu. Bagaimana­pun hasilnya harus diterima. Karena sudah berusaha yang ter­baik untuk memperbaiki perse­pak­bolaan Indonesia. Kami su­dah ajukan banding karena berkas kami sudah lengkap tapi kenapa mesti jadi tidak lolos. Kalau jadi­nya seperti ini saya su­dah men­duga sejak awal kalau pencalonan saya sebagai Ketua Umum PSSI pasti ada yang tidak suka. Begitu pula dengan Jen­deral George Toisutta. Kejadian seperti itu saya sudah antisipasi.

Apa yang Anda lakukan ka­lau terpilih menjadi Ketua Umum PSSI?
Saya tidak mau berandai-andai. Keinginan saya hanya ingin mem­perbaiki PSSI dan melatih anak-anak untuk bertanding. Bukan ramai-ramai membicara­kan seperti ini.

Apakah ada alasan menolak ban­ding yang Anda lakukan?
Keputusan yang saya terima adalah penolakan banding terse­but. Tidak ada alasan apa pun dari mereka. Kita ikuti saja alurnya. Kalau banding, saya serahkan ke pengacara saya, dia sudah me­ngurusnya.

Terkait maraknya aksi unjuk rasa menolak pencalonan Nur­din Halid sebagai Ketua Umum PSSI, apa tanggapan Anda?
Kalau soal unjuk rasa, ya itu sudah masuk isu nasional kok. Menurut saya unjuk rasa meng­goyang Nurdin Halid itu baik juga, supaya terasa betul peru­bahannya. Itu gerakan dari ba­wah, bukan oleh kelompok ter­tentu.

Dengan hasil yang masih ti­dak pasti seperti ini, apakah Anda masih optimistis menjadi Ketua Umum PSSI?
Saya tetap optimistis. Pemili­han PSSI sudah menolak verifi­kasi dan banding. Jadi tinggal rasa optimistis yang saya harap­kan. Insya Allah saya akan lolos.

Apakah ada kongres luar biasa?
Saya belum tahu. Kita harus liat perkembangannya dan kepu­tu­san yang jelas dari Komite Pe­milihan PSSI dan Komisi Ban­ding untuk bisa menggelar kong­res luar biasa itu.(Wawancara saya dengan Arifin Panigoro)
 
;