Rabu, 09 Maret 2011 0 komentar

Sri Woro Budiati Harijono: Gempa Bumi Skala Kecil Diperkirakan Terus Terjadi (Minggu, 27 Februari 2011)

Selama Februari 2011 ini sudah 27 kali terjadi gempa bumi skala kecil di wilayah Indonesia. Kondisi seperti ini diperkirakan bakal terus terjadi.

“Gempa berskala kecil diper­kirakan bakal terus terjadi. Tapi ka­lau gempa berskala besar be­lum dapat diketahui,’’ ujar Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Sri Woro Budiati Harijono, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta.

Tapi, lanjutnya, masyarakat tidak perlu khawatir, karena tidak berpotensi tsu­nami karena gem­panya tidak ber­kekuatan besar. Kecuali di daerah yang rawan gempa serta yang memiliki his­tori gempa yang berkelanjutan.

“Tapi di daerah yang pernah terjadi gempa yang berskala besar perlu diwaspadai. Sebab, bisa saja terulang kembali,” tam­bahnya.

Berikut ku­tipan se­lengkapnya:

Daerah mana saja yang ra­wan terjadi gempa bumi ber­skala kecil itu?     
Sebenarnya hampir semua wilayah di Indonesia berpotensi untuk gempa bumi berkekuatan kecil. Tapi yang rawan adalah meliputi Barat Daya Sumatera, Selatan Jawa, Bali, Nusa­ Tenggara, Maluku, Sulawesi, dan Papua.

Tapi masyarakat tidak perlu khawatir, karena tidak berpotensi tsunami dan tidak berkekuatan besar.

Tahun lalu berapa kali ter­jadi gempa bumi di negeri kita?
Menurut grafik frekuensi gempa bumi yang terjadi tahun 2010 untuk 4,9 skala ricther su­dah terjadi 5.721. Pada tahun ini kemungkinan masih sama atau bahkan lebih.

Apakah ada indikasi untuk gempa berkekuatan besar?
Untuk jangka pendek ini bisa diketahui kapan akan terjadinya. Tapi kalau  dalam jangka panjang bisa diperkirakan bahwa di daerah yang pernah terjadi gempa besar, berpeluang terjadi kembali.

Mengapa gempa skala kecil sering terjadi akhir-akhir ini?
Gempa-gempa kecil terjadi hampir sepanjang tahun, data menyebutkan di Indonesia jum­lah gempa bumi terjadi antara 3.000 sampai 4.000 per tahun. Rata-rata 10 kejadian per hari. Bahkan tahun lalu mencapai 5.721.

Gempa-gempa tersebut hanya terdeteksi oleh seismograph saja. Sedangkan yang dirasakan di atas 5,5 skala richter, sekitar 100 kali per tahun.

Bagaimana BMKG menyi­kapi hal ini?
BMKG mengoperasikan 160 sensor seismic yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia plus sekitar 20 sensor seismik yang terbagi atas 6 mini regional dan dimonitor 24 jam sehari.

Dengan demikian, kejadian-kejadian gempa di Indonesia akan selalu terpantau . Meski demikian ada daerah-daerah yang mag­nitudo gempanya di bawah 3 skala richter, sehingga tidak bisa dimonitor dengan baik dengan jaringan BMKG. Dalam hal ini jika terjadi secara spesifik, maka BMKG akan mengirim tim survei gempa untuk memonitor ke lokasi tersebut. Contohnya ka­sus gempa bumi Trenggalek.

Apakah sudah dilakukan im­­bauan ke masyarakat yang ber­ada di daerah rawan gempa?
Sosialisasi untuk menghadapi gempa bumi sudah banyak di­laku­kan. Tidak hanya melibat­kan BMKG, namun juga insti­tusi lain seperti LIPI, ESDM, perguruan tinggi dan dilakukan melalui talk show, kunjungan ke sekolah, temu muka, juga la­tihan-latihan.

Pada dasarnya gempa itu sen­diri tidak membunuh, tetapi adanya korban karena keruntuhan bangunan yang kondisinya tidak cukup baik untuk tahan terhadap guncangan gempa. Maka, di­imbau kepada masyarakat, agar jika membangun rumah atau fasilitas umum dapat mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan oleh pemerintah setempat, ten­tang aturan membangun di wila­yah itu. Masyarakat harus mengerti dan memahami tentang gempa bumi dan dampaknya, serta cara meyelamatkan diri.

Apakah gempa bumi ber­skala kecil ini akan terus ter­jadi?
Gempa bumi akan selalu ter­jadi selama dinamika dalam bumi (terjadinya pergerakan relatif antar lempeng tektonik) masih terjadi. Tidak hanya ter­batas pada gempa kecil, namun juga gempa besar dan gempa dahsyat.

Apakah sudah bisa dipre­diksi gempa bumi yang ber­dam­pak tsunami?
Gempa bumi yang berpotensi me­nimbulkan tsunami adalah gempa bumi besar dengan kri­teria: terjadi di laut, magnitu­denya 7,0 skala richter ke atas, dan kedala­man sumber gempa­nya kurang dari 100 km. Dengan demikian, gempa-gem­pa kecil dengan mag­nitude ku­rang dari 5,0 tidak ber­potensi menimbul­kan tsu­nami. (Wawancara saya dengan Sri Woro)
0 komentar

Tifatul Sembiring: Dibuat Suasana Panas Agar PKS Ditendang (Selasa, 01 Maret 2011)

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Tifatul Sembiring menuding ada pihak tertentu yang membuat situasi panas pasca sidang paripurna DPR terkait hak angket mafia pajak.
“Dibuat suasana panas agar PKS ditendang dari koalisi. Saya secara pribadi tidak khawatir tentang itu. Sebab, yang menen­tukan adalah Presiden SBY,” ujarnya kepada Rakyat Merdeka, Sabtu (26/2).
“Manuver-manuver politik geser sana, geser sini, cari posisi, nggak momentum lagi. Sekarang saatnya bersama-sama bekerja keras untuk mencapai tujuan pe­merintah,” tambah bekas Presi­den PKS itu.

Berikut kutipan selengkapnya:

Nggak khawatir diganti?
Reshuffle kabinet itu wewe­nang Presiden SBY. Itu mutlak hak prerogatif beliau. Jadi, terse­rah beliau saja. Saya sebagai Men­kominfo wajib berjuang ber­sama-sama anggota kabinet  lainnya untuk mencapai rencana kerja.

Apakah isu ini mempe­nga­ruhi kinerja Anda?
Saya tidak terpancing dengan isu reshuffle kabinet. Yang pen­ting, saya bekerja keras dan mela­kukan yang terbaik. Itu hanya pihak-pihak tertentu yang mem­buat keadaan pasca pemu­ngutan suara hak angket pajak menjadi panas. Pihak-pihak tertentu beru­saha melakukan manuver politik untuk kepentingannya masing-masing, sehingga wacana re­shuffle kabinet meluap. Pihak ter­sebut hampir setiap hari mem­bicarakan reshuffle.

Siapa pihak tertentu itu?
Yang ngomong di media itu. Tapi mereka belum baca isi kon­trak politik, tetapi rajin berko­men­tar. Ada yang baru berga­bung, tidak berjuang dan tidak keringat, ikut memanas-manasi keadaan. Ayolah bangun kema­tangan berpolitik bangsa ini. Se­mua ini harus dibangun dengan komunikasi yang baik.

Apa saran Anda melihat si­tuasi politik saat ini?
Pendukung koalisi SBY-Boediono agar tidak menonjol­kan sikap emosional yang sesaat dalam menyikapi kondisi politik yang berkembang saat ini. Yang disayangkan adalah kekuatan besar koalisi tidak dapat dikon­solidasikan untuk menyukseskan program-program pemerintah. Di saat mendatang belum tentu partai-partai mampu mewujud­kan koalisi besar seperti yang ada saat ini. Semua yang sudah ada itu harus disyukuri.

Apa yang dilakukan parpol koalisi pasca sidang paripurna DPR tekait hak angket pajak itu?
Presiden SBY sudah memberi arahan, Setgab haruslah bersikap antisipatif. Saya mengu­tip pen­dapat Presiden, kalau meng­ambil keputusan politik itu se­perti orang terjun paying. Kalau sudah loncat dari pesawat, tidak bisa kembali lagi. Jadi jangan da­da­kan terus, tiba-tiba ada ins­truksi begini dan begitu. Ba­ngun­­lah komunikasi sesuai kon­trak politik itu. Ada level pem­bina, di level menteri-men­teri dan parle­men. Komu­nikasi ini adalah kuncinya.

Apakah ke depan PKS mela­kukan perbedaan atau satu tu­juan dengan Partai Demokrat?
Harus dipisahkan. Jangan di­campur adukkan ya. Kami ber­em­pat, Menkominfo, Mensos, Menteri Pertanian, dan Menristek dari PKS ini ditugaskan oleh PKS di pemerintahan untuk menyuk­seskan program Presiden SBY dan Wakil Presiden Boediono. Kemudian ada satu masalah ma­fia pajak yang perlu dikomuni­kasikan antara kedua belah pihak. Saya melihat di sini, inti­nya harus ada komunikasi yang perlu ditingkatkan di sektor Se­kre­tariat Gabungan.

Kenapa selama ini kurang ko­munikasi?
Sebenarnya yang menginisiasi awalnya soal mafia pajak ini kan Partai Demokrat. Tapi dalam per­kembangannya Partai Demokrat berbalik arah, men­ca­but dukungan kepada hak ang­ket mafia pajak. Jadi, sekali lagi, ini persoalan ko­mu­nikasi. (Wawancara saya dengan Tifatul Sembiring)
0 komentar

Arifin Panigoro: Demo Goyang Nurdin Halid itu Gerakan dari Bawah (Kamis, 03 Maret 2011)

Calon Ketua Umum PSSI Arifin Panigoro mengaku tidak terobsesi  jabatan dan kekuasaan. Pencalonan itu hanya ingin berkontribusi aktif dan memperbaiki persepakbolaan Indonesia.

“Bukan jabatan Ketua Umum PSSI yang saya tuju, tapi saya ingin memperbaiki persepak­bo­laan Indonesia,” ujarnya kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, kemarin.

Menurut bekas Ketua DPP PDIP itu, kalau memang nantinya tidak terpilih menjadi Ketua Umum PSSI, dia tetap berkon­tribusi di sepak bola Indonesia.

“Masih banyak tempat untuk memperbaiki sepak bola Indone­sia, tidak hanya melalui PSSI. Mi­salnya saja Liga Primer Indo­nesia,’’ ucapnya.

Berikut kutipan selengkapnya:

Apakah Anda puas dengan hasil Komisi Banding?
Sebenarnya kecewa tapi kita ikuti saja prosesnya. Jika me­mang keputusan banding meno­lak dan verifikasi ditolak, saya terima. Kita ikuti saja bagaimana kelanjutan komite pemilihan PSSI dan Komisi Banding ini.

Menpora dinilai mengin­ter­vensi PSSI, bagaimana tangga­pan Anda?
Saya menganggap itu bukan intervensi, tapi mengingatkan. Menurut saya tindakan Menpora dalam hal ini tepat, karena hanya mengingatkan PSSI agar memi­kirkan kembali dalam mengambil keputusan. Kita hargai tindakan Menpora karena memang kapasi­tasnya untuk bertindak seperti itu.

Jika tidak terpilih menjadi calon Ketua Umum PSSI, apa­kah Anda terus berjuang ?
Saya tidak gila jabatan atau ke­kuasaan. Saya tidak memaksakan hal itu. Yang saya inginkan hanya berkontribusi dan memperbaiki persepakbolaan Indonesia. Saya tidak ingin ramai-ramai rebutan jabatan Ketua Umum PSSI.  Buat saya ini juga sangat menyita waktu.

Bikin capek karena kami juga harus bikin banding segala ma­cam agar lebih baik lagi di kan­cah nasional ataupun Internasio­nal. Ingat bukan jabatan yang saya inginkan. Itu tidak penting buat saya.

Apakah anda meyakini bah­wa di tubuh Komite Pemilihan PSSI ini ada kecurangan?
Kita jangan melihat ke bela­kang. Ada kecurangan atau tidak, yang terpenting, saya mengikuti prosesnya saja dulu. Bagaimana­pun hasilnya harus diterima. Karena sudah berusaha yang ter­baik untuk memperbaiki perse­pak­bolaan Indonesia. Kami su­dah ajukan banding karena berkas kami sudah lengkap tapi kenapa mesti jadi tidak lolos. Kalau jadi­nya seperti ini saya su­dah men­duga sejak awal kalau pencalonan saya sebagai Ketua Umum PSSI pasti ada yang tidak suka. Begitu pula dengan Jen­deral George Toisutta. Kejadian seperti itu saya sudah antisipasi.

Apa yang Anda lakukan ka­lau terpilih menjadi Ketua Umum PSSI?
Saya tidak mau berandai-andai. Keinginan saya hanya ingin mem­perbaiki PSSI dan melatih anak-anak untuk bertanding. Bukan ramai-ramai membicara­kan seperti ini.

Apakah ada alasan menolak ban­ding yang Anda lakukan?
Keputusan yang saya terima adalah penolakan banding terse­but. Tidak ada alasan apa pun dari mereka. Kita ikuti saja alurnya. Kalau banding, saya serahkan ke pengacara saya, dia sudah me­ngurusnya.

Terkait maraknya aksi unjuk rasa menolak pencalonan Nur­din Halid sebagai Ketua Umum PSSI, apa tanggapan Anda?
Kalau soal unjuk rasa, ya itu sudah masuk isu nasional kok. Menurut saya unjuk rasa meng­goyang Nurdin Halid itu baik juga, supaya terasa betul peru­bahannya. Itu gerakan dari ba­wah, bukan oleh kelompok ter­tentu.

Dengan hasil yang masih ti­dak pasti seperti ini, apakah Anda masih optimistis menjadi Ketua Umum PSSI?
Saya tetap optimistis. Pemili­han PSSI sudah menolak verifi­kasi dan banding. Jadi tinggal rasa optimistis yang saya harap­kan. Insya Allah saya akan lolos.

Apakah ada kongres luar biasa?
Saya belum tahu. Kita harus liat perkembangannya dan kepu­tu­san yang jelas dari Komite Pe­milihan PSSI dan Komisi Ban­ding untuk bisa menggelar kong­res luar biasa itu.(Wawancara saya dengan Arifin Panigoro)
Senin, 24 Januari 2011 0 komentar

Indonesia Butuh Pahlawan

Melihat Indonesia di media masa akhir-akhir ini sungguh sangat beragam rupanya. Di mulai awal tahun 2010, dengan munculnya kasus video mesum artis yang mirip dengan Vokalis Band Peterpan yang bernama Nazriel Ilham atau Ariel dengan dua artis ternama Luna Maya dan Cut Tari. Saking hebohnya berita tersebut disiarkan hingga ke berita dunia CNN dan sempat menjadi trending topic twitter. Dari kasus video Ariel, kemudian Indonesia disuguhkan dengan berita kasus Gayus Holomoan P. Tambunan yang terkenal bak selebriti karena kasus mafia pajak yang saat ini masih menjadi perbincangan di hampir seluruh media masa.

Begitu burukah negeri ini, apakah masih ada secercah harapan dan kebanggaan yang dimiliki negeri tercinta ini? Jawaban ya masih ada. Kekesalan dan kejengkelan masyarakat akan berita-berita yang memprihatinkan tersebut seketika berubah menjadi harapan dan kebanggaan baru buat bangsa ini.

Adalah kedatangan Presiden Amerika Serikat Barack Obama ke Indonesia yang sempat membuat masyarakat Indonesia terpukau oleh karisma kepemimpinannya. Apalagi euphoria untuk bertemu sang mantan anak SD Menteng Jakarta ini semakin terbuka dan diselenggarakan di Balairung Kampus Universitas Indonesia (UI) Depok. Tidak salah jika masyarakat Indonesia mengidolakan Barack Obama, karena beliau adalah sosok pemimpin yang sederhana dan "down to earth".

Hal itu dibuktikan dengan tidak sungkanya beliau bersalaman sambil cium pipi kanan-kiri seorang mahasiswi Sastra Jawa Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI bernama Ita Oktarina Song yang kebetulan merupakan teman satu jurusan dan angkatan saya. "Sebuah keberuntungan menghampiri saya, karena dapat berciuman pipi dengan Presiden Obama," ujarnya kepada saya ketika saya tanyakan perasaannya waktu itu. Diakuinya moment bersalaman dengan Obama membuat iri orang-orang yang ada disekitarnya.

Itulah Presiden Barack Obama yang sempat megenyam pendidikan SD di Menteng Jakarta dengan kesahajaan dan karismanya membuat masyarakat Indoensia memiliki idola pemimpin baru yang patut dibanggakan. Setelah sejenak masyarakat Indonesia disihir oleh pesona kepemimpinan Barack Obama. Pada akhir tahun 2010, rasa Nasionalisme masyarakat dikobarkan kembali dengan olahraga sederhana namun merakyat, yaitu Sepak Bola.

Perhelatan Sepak Bola AFF Suzuki 2010 waktu itu sempat menjadi penggerak Nasionalisme dan persatuan masyarakat Indonesia. Mereka terkagum-kagum oleh usaha Timnas Indonesia dalam permainan Sepak Bola yang atraktif ketika melawan beberapa negara Asia hingga mencapai final melawan Malaysia. Waktu itu, semua orang berbondong-bondong dari berbagai daerah tumpah menjadi satu dan memerahkan stadion Lapangan Gelora Bung Karno. Sungguh peristiwa luar biasa bahwa Sepak Bola dapat mempersatukan rakyat Indonesia waktu itu dari kalangan rendah hingga atas. Dengan masuk final Indonesia di ajang AFF saja sudah membuat masyarakat Indonesia bersatu, apalagi menjadi pemenang.Sesungguhnya Sepak Bola Indonesia masih punya harapan untuk meraih prestasi dan menjadi kebanggaan. Asal jangan sampai dipolitisasi nanti bisa jadi semua harapan meraih prestasi hanya mimpi.

Dua peristiwa tersebut merupakan bukti bahwa Indonesia masih punya harapan dan sesuatu yang dibanggakan. Indonesia hanya butuh pahlawan yang bisa membawa bangsa ini ke arah yang baik dan positif walaupun hanya sekecil apa pun. Seperti Presiden Barack Obama dan para Timnas Indonesia yang mengisi Indonesia dengan semangat maju yang diajarkan oleh Barack Obama serta Nasionalisme oleh Timnas Indonesia. Biarlah Gayus dan Ariel saja yang merasakan dampak dari perbuatan mereka untuk dijadikan cermin para koruptor. Yang terpenting adalah saatnya Indonesia "move on" dan bangkit dengan harapan baru untuk Indonesia baru di tahun ini.
2 komentar

Mimpi itu Masih Hidup dalam Diriku

"Dengan Menulis, Aku Melihat Dunia"
~AgengWuri~

Sewaktu kecil pasti kita memiliki mimpi dan cita-cita yang luar biasa dalam benak kita. Apalagi dengan imajinasi masa kecil, kita bisa bermimpi tanpa batas. Semua orang pasti pernah punya mimpi dan cita-cita sewaktu kecil, namun ketika sudah beranjak dewasa ada yang mimpinya terwujud, ada pula yang hanya sekedar bunga tidur. Menurut saya tidak ada kata terlambat untuk sebuah mimpi dan cita-cita sekecil apa pun. Seperti dalam sebuah sepenggal lirik lagu Film Sang Pemimpi sebagai berikut,
"Hidup itu sederhana, berani bermimpi, lalu mewujudkannya".
Ya selama kita masih punya mimpi, wujudkanlah, karena dengan mimpi-mimpi kita hidup dan menemukan kehidupan yang lebih bermakna.

Awalnya, saya bermimpi ingin menjadi seorang Pilot dan Polisi. Waktu itu, saya berimajinasi, jika menjadi Pilot saya bisa terbang keliling dunia dan melihat dunia yang begitu indah dari atas awan. Sedangkan menjadi Polisi, saya bisa menolong orang banyak dan menjadi pelindung untuk orang-orang yang tertindas. Tapi semua itu hanyalah mimpi masa kecil yang penuh semangat. Sekarang untuk menjadi Pilot dan Polisi adalah tidak mungkin buat saya. Pasalnya dari ukuran tubuh yang mungil saja, saya tidak masuk kualifikasi. Namun, mimpi itu tidak begitu saja terkubur.

Semua itu berubah ketika saya duduk di bangku SMA. Ketertarikan akan dunia kebudayaan, membuat saya senang untuk mempelajari Antropologi yang diajarkan oleh Bapak Sriyono. Beliau adalah guru Antropologi sekaligus wali kelas ketika saya duduk di bangku kelas 3 SMA. Perkataan beliau yang selalu saya ingat adalah "tidak ada ilmu yang tidak bermanfaat di dunia ini, sekalipun itu kebudayaan yang telah dilupakan". Mungkin hal itu, yang masih tertanam di benak saya saat ini, hingga pada akhirnya saya memutuskan untuk mengambil kuliah Sastra Jawa di FIB UI.

Kesempatan untuk mengambil kuliah Sastra Jawa FIB UI adalah hal yang luar biasa buat saya, karena banyak ilmu dan pelajaran yang saya dapatkan, baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Ya mimpi itu belum terkubur koq, saya masih bisa melihat dunia melalui kebudayaan, yaitu Sastra Jawa. Satu pelajaran yang saya dapatkan kuliah disana, bahwa kita tidak boleh meremehkan hal sekecil atau sepele apa pun. Semua pasti bermanfaat dan ada hikmahnya, hanya orang-orang yang sempit pemikirannya yang mengatakan jika kebudayaan tidak penting atau banyak orang bilang Sastra Jawa masih ada.

Sebuah dunia baru saya temui ketika mengikuti kegiatan Kepramukan di SMA. Yaitu ketika saya menjadi panitia acara Lomba tingkat V penggalang se-Nasional. Saya membantu kepanitiaan Humas dan saat itu ditugaskan menjadi Reporter untuk meliput kegiatan lomba tersebut dan kemudian dilaporkan dalam sebuah buletin yang sederhana. Dunia Jurnalistik dan tulis-menulis membuat saya senang berada di dalamnya. Hingga saya berpikir suatu saat akan menjadi seorang jurnalis, karena dengan menulis saya bisa melihat dunia dan menjadi saksi sejarah. Di bangku kuliah pun, minat jurnalistik saya terapkan di dalam organisasi kemahasiswaan Jurusan yang bernama Majalah Utthana hingga magang menjadi Reporter rubrik mahasiswa di Harian Jurnal Depok. Walaupun tidak bisa berkeliling dunia, setidaknya dengan membaca dan  menulis saya bisa melihat dunia melalui buku.

Setelah saya lulus, kemudian saya putuskan untuk berkarir menjadi jurnalis. Namun, hal itu tidaklah mudah, sampai saat ini pun ikhtiar untuk menjadi jurnalis selalu saya lakukan. Menurut saya, jurnalis adalah sebuah profesi yang menarik, karena jurnalis merupakan orang pertama yang bisa melihat dan mengetahui peristiwa yang sedang terjadi di dunia. Dia pula orang pertama yang melaporkan peristiwa tersebut kepada masyarakat tertentu melalui media masa. Jurnalis juga seorang saksi sejarah, karena setiap peristiwa adalah sejarah saat ini. Menjadi jurnalis adalah sebuah tantangan buat saya, karena jurnalis mengemban tugas yang cukup berat, yaitu harus menyajikan informasi secara jujur tanpa ada yang ditambahi atau pun dikurangi (fakta).

Di sela-sela saat ingin menjadi jurnalis, saya sempat merasakan menjadi seorang guru. Menjadi seorang guru adalah hal yang tidak pernah terpikirkan oleh saya. Ternyata tidak mudah loh menjadi guru yang harus digugu dan ditiru. Sangat jarang saat ini guru yang seperti itu, mengajar dengan ketulusan hati tanpa embel-embel pamrih dan sertifkasi. Saya sempat tersadar, ketika merasakan bagaimana seninya mengajar di dalam kelas. Jika dahulu tidak ada guru yang mengajarkan saya membaca dan menulis, saya bukan apa-apa saat ini. Saya tidak bisa melihat dunia yang saya impi-impikan. Ternyata saya begitu egois saat bermimpi ingin itu, ingin ini, karena telah melupakan jasa guru. Karena mereka saya dibimbing untuk memiliki mimpi dan meraihnya.
Banyak diantara kita yang melupakannya, karena sudah merasa bisa bukan bisa merasa. Guru adalah profesi yang tidak hanya mendidik dan mengajarkan mata pelajaran saja, tetapi juga "service" sikap dan tingkah laku yang bermuara pada moral bangsa dan negara.

Profesi guru merupakan profesi yang mulia, tapi tidak mudah karena dalam praktiknya merupakan sekaligus ibadah. Jika boleh memilih, saya akan menjadi jurnalis yang memberikan informasi secara jujur kepada masyarakat saja. Dan jika saya diberi kesempatan untuk mengajar, saya akan menanamkan mimpi pada setiap anak-anak, karena dengan mimpi kita bisa memaknai kehidupan. Kelebihan kedua profesi tersebut adalah ladang amal bagi yang menjalaninya. Kesamaanya adalah pada tugas meraka yaitu membangun masyarakat. Kesimpulannya, loyalitas kedua profesi tersebut adalah masyarakat. Salut untuk guru dan junalis Indonesia dimana pun mereka berada.




Sabtu, 25 Desember 2010 0 komentar

Arsa Wening, Sang Pejuang Kemanusiaan


            Selasa pagi (21/12/10) yang cerah dan penuh semangat kami peserta Sekolah Guru Ekselensia Indonesia (SGEI) Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa (DD) Lembaga Pengembangan Insani (LPI) pertama kalinya mengikuti program touring ke berbagai tempat penting. Salah satunya pada hari pertama kami mengunjungi Madrasah Ibtidaiyah (MI) As-Syafi’i yang beralamat di Desa Rawabelong, Gunung Sindur, Bogor Jawa Barat. Pandangan pertama yang saya lihat dari sekolah tersebut sangat sederhana dan dekat dengan sebuah masjid yang lumayan cukup besar serta tidak sepi dari doa-doa umat sekitar. Tugas saya mengunjungi sekolah tersebut tidak sekedar sebagai plesir ataupun melancong, melainkan memperhatikan dan mengobservasi sekolah tersebut secara kritis namun juga mengambil pembelajaran dari lingkungan tersebut.
            Setelah ditelisik dan diamati lebih dalam MI As-Syafi’i merupakan sekolah dasar yang baru dibangun oleh penduduk sekitar yang peduli dengan pendidikan. Sekolah yang penuh dengan kesahajaan dari murid-muridnya ini serta gurunya yang saya lihat hanya dua orang, baru memiliki murid kelas 1 saja. Berikutnya, pengamatan saya ke sebuah TK yang jaraknya tidak jauh dengan MI tersebut. Sama seperti MI As-Syafi’i yang ruang belajarnya serba sederhana dan apa adanya, namun tidak menghambat anak-anak untuk belajar. Walaupun dengan ruang yang lumayan sempit dan arena bermain yang kurang luas, anak-anak TK yang menyebut dirinya sebagai Balistung pada saat baris berbaris tetap tersenyum dan ceria mengikuti prosesi pembelajaran mereka. Pembelajaran anak-anak TK Balistung selesai, pengamatan saya pun terhenti.

Sosok Sederhana Penuh Makna
Kami bersama Ibu Evi Kepala Sekolah SGEI mengunjungi rumah seorang laki-laki bertubuh mungil yang bernama Bapak Sunaryo Adhiatmoko. Rumah sederhana yang terbuat dari kayu dan terlihat tradisional namun nyaman dan penuh kekeluargaan ternyata tempat tinggal seorang anak manusia yang penuh dengan semangat hidup dan inspirator saya. Awalnya saya tak menyangka bahwa beliau adalah penduduk yang telah membina dan mendirikan kedua sekolah tersebut. Pada saat saya berada di MI As-Syafi’i, beliau mengantar kami ke TK, tidak ada yang tersirat dari wajah dan penampilannya yang saya lihat bahwa beliau adalah orang yang hebat di bidangnya.
Bapak Sunaryo Adhiatmoko atau yang sering disebut Arsa Wening berprofesi sebagai jurnalis Koran dan Buletin Republika DD. Arsa Wening yang lahir di Trenggalek, Jawa Timur merupakan nama pena beliau dalam dunia tulis-menulis di Koran maupun Buletin Republika DD. Bukan kebetulan, saya juga menyukai dunia jurnalistik dan sastra, khususnya sastra indonesia dalam hal tulis-menulis yang sempat saya jalani dikala duduk di bangku kuliah.
            Dalam rumah beliau, Arsa Wening membagikan pengalamannya kepada kami mengenai menjadi seorang yang selalu rendah hati dan kunci kesuksesan beliau. Beliau telah malang-melintang dalam dunia jurnalistik. Selain itu, juga telah banyak mengemban misi sosial untuk masyarakat yang masih tertinggal selama bekerja di Republika DD. Dari keliling daerah-daerah yang tertinggal di seluruh Indonesia hingga ke wilayah Asia serta Palestina.
Kehidupan Sunaryo dapat dikatakan sudah lebih dari cukup, namun beliau selalu merunduk seperti filosofi Padi dan berjalan bagai filosofi Air. Filosofi Padi menggambarkan seseorang selalu rendah hati namun berisi. Artinya sosok Arsa Wening merupakan seorang yang memiliki ilmu yang banyak namun beliau tetap rendah hati dan yang terpenting tetap bersahaja.
            Layaknya seperti Air, kehidupan pun harus mengalir bak air yang mengalir dari tempat yang kecil sampai luas, dari sungai hingga bermuara ke lautan. Kehidupan  Arsa Wening yang telah dianugrahi satu putra dan dua putri yang cantik serta lucu-lucu selalu yakin bahwa kehidupan kita yang mengukur adalah Allah SWT dan kita, yaitu manusia yang seharusnya berjalan seperti Air. Dua filosofi tersebut yang saya lihat dari sosok Sunaryo Adhiatmoko yang membawa beliau tetap survive di dalam misinya, yaitu membangun masyarakat.
            Membangun masyarakat yang masih tertinggal secara teknologi kehidupan dan intelektual merupakan hal yang tidak mudah bagi saya. Apalagi saya sebagai peserta SGEI angkatan II yang nantinya akan di kirim ke seluruh Indonesia ke daerah pelosok diamanahkan sebagai guru model yang paling unggul diantara guru-guru lain. Arsa Wening dalam menghadapi kearifan lokal yang berbeda dari kehidupan kita sebelumnya membagi kunci suksesnya. Beliau mengatakan kunci dalam sebuah area baru harus mengosongkan pokiran-pikiran dari tempat tinggal asal dan pasang badan serta seperti seorang yang tidak tahu apa-apa agar dapat membaur dengan masyarakat baru tertentu.
            Sosok Arsa Wening yang saya kagumi adalah sosok yang tidak pernah mengeluh dalam apa yang ada di kehidupannya. Padahal beliau seorang yang dhuafa atau miskin, namun dia tetap bersyukur, karena membuatnya menjadi insan yang thougth dan kreatif. Teringat sebuah kata-kata dari seorang sahabat bahwa Dengan Keterbatasan Mendorong untuk Maju.
Inspirasi yang saya dapat dari beliau yang selalu memaknai hidupnya dan kehidupan bahwa sesuatu yang dapat dibayar tidak selalu dengan uang tapi lebih dari itu, yaitu ilmu yang bermanfaat bagi umat. Seperti arti namanya, yaitu Arsa Wening yang memiliki arti Pemimpin untuk kata Arsa dan Bening untuk kata Wening, yang berarti Pemimpin yang sebening air dan seperti air yang tenang. Bapak Sunaryo Adhiatmoko telah menjadi sumber kehidupan seperti tirta atau air dan pemimpin yang menghilangkan dahaga bagi masyarakat marginal atau dhuafa. Ageng Wuri R. A.
Minggu, 03 Oktober 2010 0 komentar

Siapkah aku?

Malam itu adalah puncak kemarahannya yang disimpan untukku.
Aku pun termenung dan memandang ruang kosong kamar yang sederhana namun nyaman.
Tak mampu ku mengucapkan kata-kata lagi yang semakin membuat hatinya teriris.
Kemarahannya adalah sebuah kasih sayang dan kekhawatiran untukku, untuk masa depanku, untuk merubah perangai dan kebiasaan malasku.
"Siapkah kamu nak?" katanya. Siapkah aku? untuk melihat dunia sesungguhnya.
Siapkah aku? untuk menjemput semua impianku dengan keyakinanku.
Siapkah aku? menjadi seorang perempuan yang tak hanya elok rupa tapi elok budi.
Siapkah aku? menjadi seorang ibu dan istri serta kepala rumah tangga.
Siapkah aku? menjadi perempuan yang merdeka dan dapat berdiri di kakinya sendiri, karena kehidupan siapa yang tahu, semua menjadi rahasia Tuhan.
Entah kebetulan atau memang tepat saatnya, seorang sahabat memberikan nasihat yang serupa tentang perempuan-perempuan hebat.
Semakin berfikirlah aku dikala pagi diperaduannya.
Di tengah malam aku pun berjanji pada diriku sendiri tak akan sedikit pun lagi membuatnya bersedih karena aku.
Aku ingin perempuan dengan segenap jiwanya yang mengasihiku berbahagia, karena melihatku pantas untuk dipercaya. Yang aku mampu adalah merubah tabiatku saat itu juga.
Karena sebentar lagi aku akan menjemput dunia yang sesungguhnya, dunia perempuan perkasa dan tangguh yang siap berdiri tegak di tengah masyarakat.

Ageng Wuri R. A.
Ruang tamu rumah, Depok 03 Oktober 2010
 
;